Published On: Sat, Jan 26th, 2019

20 KK di Marapokot Mengungsi Karena Takut Tsunami

Share This
Tags

Ketua RT 01, Dusun I , Desa Marapokot, Hadia Ria menunjuk sampan-sampan milik nelayan yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk, Sabtu (26/1/19).

sergap.id, MARAPOKOT – Sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Desa Marpokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo terpaksa mengungsi ke rumah keluarga mereka di Nilla, Alorongga dan Mbay Dam karena takut terjadi tsunami.

Ketua RT 01, Dusun I , Desa Marapokot, Hadia Ria, menjelaskan, pengungsian terjadi akibat ada isu bakal terjadi tsunami. Warga pun percaya karena hampir seminggu cuaca di sekitar Marpokot sangat buruk, dan gelombang laut mencapai 2 meter lebih.

“Tanggal 24 Januari (2019) warga saya mengungsi dari Marapokot. Itu karena ada isu bahwa akan terjadi Tsunami,” ujar Ria kepada SERGAP, Sabtu (26/1/19).

Menurut Ria, pada hari Rabu (24/1/19) sempat terjadi angin kencang disertai gelombang tinggi lebih dari 2 meter.

“Pada malam harinya entah dapat informasi dari siapa bahwa akan terjadi tsunami, warga saya jadi panik, mereka kemudian mengungsi ke Nilla (Kelurahan Mbay II), Alorongga (Kelurahan Mbay I) dan sebagian lainnya ke Mbay Dam. Ada sekitar 20 KK lebih yang mengungsi. Mereka trauma, jangan sampai terjadi tsunami seperti tahun 1992 lagi,” papar Ria.

Sejauh ini, kata Ria, masih ada warganya yang belum kembali. “Mereka masih trauma,” ucapnya.

Ria berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo aktif memberikan informasi mengenai perkiraan cuaca agar warga tidak panik ketika isu yang bikin resah merebak.

“Saya minta Pemda membuat pengumuman resmi agar masyarakat tidak panik. Selama ini kita hanya dapat informasi tentang cuaca di televisi bahwa akan terjadi angin kencang dan gelombang besar di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk NTT,” katanya.

Basri (38), salah satu nelayan di Desa Marpokot.

Karena cuaca buruk, lanjut Ria, hingga kini suaminya dan warganya yang lain tidak bisa melaut.

Hal senada diamini oleh Basri (38), salah satu nelayan di Marpokot.

“Sudah seminggu, saya dan nelayan lain tidak melaut. Kita mau turun tapi cuaca tidak bersahabat,” bebernya.

Untuk sementara, kata Basri, dirinya dan warga lain terpaksa utang pinjam untuk bisa makan dan minum.

“Kita hidup harap dari tangkap ikan, tapi kalau cuaca seperti ini, ya terpaksa kita pinjam dari pengepul atau rentenir,” katanya.

“Kalau sudah musim angin seperti sekarang ini,  penghasilan kita juga menurun, palingan sekitar 20 kilo gram ikan sekali melaut, itupun kalau rejeki. Kalau tidak, ya kita pulang kosong,” ungkapnya.

Bambang Arifin Atu

Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Marapokot, Bambang Arifin Atu, mengatakan, untuk sementara, jalur  penyebrangan kapal hewan maupun kapal penumpang ditutup.

“Tidak ada pelayaran antar pulau sampai tanggal 30 Januari 2019. Langkah ini kita ambil karena ada pengumuman resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” ujarnya.

Menurut Bambang, sesuai perkiraan cuaca dari BMKG, akan terjadi badai disertai gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia Timur umumnya dan di NTT khususnya.

“Kita menghimbau kepada nelayan agar selalu waspada ketika melaut. Memang itu bukan kewenangan kita, tapi tidak salah juga kita mencegah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tutupnya. (sg/sg)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!