Published On: Tue, Feb 12th, 2019

Anak Sekolah Terjebak Banjir, Bupati Malaka Diminta Tidak Buta dan Tuli

Share This
Tags

Anaka-anak Dusun Babahane A dan B, Desa Wemeda, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka ketika ke sekolah, Rabu (6/2/19) pagi.

sergap.id, WEMEDA – Anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) yang tinggal di Dusun Babahane A dan B, Desa Wemeda, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, harus berjibaku dengan banjir agar bisa sampai ke sekolah.

Pasalnya, setiap musim hujan seperti sekarang ini, dua dusun yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste itu seringkali diisolir banjir.

Itu karena di sungai yang menyekat dua dusun itu belum ada jembatan penghubung.

Jika nekad ke sekolah, maka para pelajar harus menyeberangi sungai dengan cara menjunjung tas buku dan mengangkat celana agar terhindar dari basah. Begitu pun ketika mereka pulang sekolah.

Dan, jika banjir hanya bisa dilewati orang dewasa, maka para orang tua harus luangkan waktu untuk menyeberangkan anak mereka.

“Jika banjir terlalu deras, para siswa terpaksa belajar di rumah,” ujar ibu Vin, warga Wemeda, kepada SERGAP, Rabu (6/2/19).

Menurut dia, kondisi ini sudah menahun.

Tak hanya anak sekolah, para guru dan warga yang ingin ke desa tetangga juga sering terjebak banjir atau mengalami hal yang sama.

Ironisnya lagi, kondisi jalan lingkungan di dusun itu sangat rusak parah, dan sejak Indonesia merdeka, warga di dua kampung itu belum pernah menikmati layanan listyrik.

Calon Anggota DPR asal Malaka, Ans Taolin, menjelaskan, banjir di dua dusun tersebut sudah menjadi langganan setiap tahun.

“Sudah dari dulu di musim hujan seperti ini, warga benar-benar kesulitan untuk menyeberang,” katanya.

Taolin berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka secepatnya membangun jembatan agar anak sekolah dan warga lainnya bisa segera menggunakannya.

“Karena nyawa mereka sedang terancam ketika ingin berkebun, maupun ketika anak mereka akan ke sekolah atau pulang sekolah,” tegasnya.

Kata Taolin, sebagai orang Malaka, warga di dua dusun itu berhak mendapatkan akses jalan dan jembatan yang baik, serta layanan listrik yang memadai.

“Sebab Ini persoalan yang mendesak. Seharusnya ini menjadi prioritas pembangunan. Pemda Malaka jangan diam, segera bangun akses penghubung yang layak dan manusiawi. Kita (Bupati) jangan buta dan tuli terhadap tangisan warga ini,” tutupnya. (sel/sel)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!