Published On: Fri, Oct 5th, 2018

Bukit Fulan Fehan dipilih Sebagai Tempat Festival Likurai 2018

Share This

Tarian Likurai yang dibawakan secara kolosal oleh 6.000 penari di Bukit Fulan Fehan, Oktober 2017 lalu.

sergap.id, KUPANG – Fulan Fehan Merupakan sebuah lembah di kaki Gunung Lakaan dengan sabana yang sangat luas. Lembah ini berada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, atau  sekitar 26 KM dari Atambua, ibukota Belu.

Potensi yang dimiliki Lembah Fulan Fehan adalah banyak terdapat kuda yang bebas berkeliaran, pohon kaktus yang tumbuh subur dan hamparan padang sabana yang luasnya tak terjangkau oleh mata.

Selain itu, tak jauh dari lembah ini, ada beberapa objek bersejarah lainnya yang menjadi satu kesatuan paket yang mendukung pesona dan daya tarik objek wisata ini, seperti Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di puncak Bukit Makes, di sudut lainnya berdiri Gunung Lakaan yang menjulang tinggi, Bukit Batu Maudemu di Desa Maudemu, yang di puncaknya terdapat beberpa peninggalan bersejarah berupa desa dan kuburan-kuburan bangsa Melus.

Di ujung Timur lembah ini ada situs bersejarah Kikit Gewen yang Berupa kuburan tua yang sangat sakral, juga dua air terjun berair jernih dan segar yakni Air Terjun Sihata Mauhale di antara Desa Aitoun dan Desa serta Air Terjun Lesu Til di Weluli, Ibu Kota Kecamatan Lamaknen.

Tahun ini, bukit Fulan Fehan dipilih sebagai tempat Festival Likurai. Ribuan penari Likurai akan beraksi di sini saat festival digelar pada tanggal 4 hingga 7 Oktober 2018. Menteri Pariwisata Arief Yahya dijadwalkan hadir.

Arif menyambut baik inisiatif dari pemerintah daerah Belu. Karena menjadikan Festival Likurai sebagai acara lintas batas RI – Timor Leste.

“Kunci untuk menarik negara tetangga terletak pada seni dan budaya, musik dan kuliner. Orang-orang dari Timor Leste dapat mengajukan permohonan visa bebas untuk memasuki Indonesia dan bahkan menggunakan mata uang mereka sendiri untuk berbelanja di sini. Hal lain yang penting adalah bagi pemerintah daerah, gubernur, walikota dan bupati untuk berkomitmen menjaga akses, akomodasi dan ketertarikan di wilayahnya,” kata Arief dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir detik.com, Kamis (4/10/2018)

Lembah Fulan Fehan

Festival Likurai adalah pesta tarian perang dari masyarakat Belu. Tarian ini menggambarkan pertarungan penduduk setempat saat mengusir penjajah selama masa penjajahan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan, puncak kegiatan Festival Fulan Fehan menampilkan ribuan penari Likurai di obyek wisata Fulan Fehan.

“Itu tentu sesuatu yang membanggakan buat kita. Bahwa seni budaya NTT khususnya tarian Likurai, masuk dalam agenda pariwisata nasional,” kata Marius.

Dikatakannya, Festival Likurai 2018 diselenggarakan untuk meningkatkan seni dan budaya tradisional Indonesia. Selain itu mendorong pariwisata daerah Balu.

Tahun lalu, total 6.000 penari melakukan tarian Likurai di Bukit Fulan Fehan berhasil memecahkan rekor MURI untuk jumlah penari tradisional terbanyak. Tahun ini rekor tersebut akan dipecahkan sendiri.

“Prestasi tersebut mampu mengangkat seni dan budaya tradisional Indonesia dan layak disaksikan oleh wisatawan. Tahun ini penarinya disiapkan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Lembah Fulan Fehan

Tarian Likurai pertama kali dilakukan saat menyambut pahlawan desa yang pulang perang. Berabad-abad yang lalu, ada tradisi pemancungan musuh di Belu. Tarian itu akan dilakukan untuk merayakan kemenangan mereka.

Selain itu, Tarian Likurai juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan karena pahlawan mereka pulang dengan selamat.

Sejak Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tradisi pemancungan tidak lagi ada. Namun, penduduk desa Belu melestarikan tarian Likurai dan melakukannya untuk menyambut tamu mereka.

Saat ini, Tarian Likurai sering dilakukan saat menyambut tamu VIP, selama upacara adat atau selama festival budaya. Tarian ini biasanya dilakukan oleh penari pria dengan pedang, sedangkan penari wanita akan menggunakan tihar (drum kecil).

Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemepar Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan, event nasional ini akan meningkatkan pariwisata dan ekonomi kreatif NTT. Selain itu, budayanya juga diperkenalkan kepada publik nasional dan internasional.

“Ini kesempatan kita untuk menunjukan kepada dunia, bahwa kita sangat mampu menggelar sejumlah kegiatan akbar di perbatasan. Perekonomian masyarakat sekitar juga turut bergerak, ujar Giri didampingi Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Ricky Fauzi.

Giri melanjutkan, pariwisata juga sebagai pintu masuk bisa membuat para investor agar menanamkan modal di NTT.

“Sudah terbukti dengan banyaknya investor yang telah menanamkan modalnya di NTT. Ini harus terus dikembangkan karena perbatasan adalah peluang besar mendatangkan wisman,” pungkasnya. (sum/dtk)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!