Published On: Wed, Jul 19th, 2017

Cerita Haru Perjalanan Jurnalistik Ke Waiteba, Kota Yang Hilang Pada Tahun 1979

Share This
Topik

Waiteba tahun 1978, foto karya Peter Apollonius Rohi yang sempat dimuat di Surabaya Post 23 Juli 1979.

sergap.id, KISAH – Terima kasih Bung Saba Paul, yang telah mengingatkan kembali kisah sedih yang menimpa hampir seribu jiwa di Waiteba, Juli 1979.

Saya ingin mengambil bagian dalam mengenang bencana itu, walau baru sehari meninggalkan rumah sakit.

Seorang jurnalis harus merasa terpanggil untuk langsung berada di lapangan melaporkan apa yang dilihatnya, apa yang sudah terjadi atau apa yang bakal terjadi.

Berawal dari informasi yang saya terima dari adik saya, Welhelmus Rohi, seorang vulcanolog lulusan Jepang, tentang Gunung Hobal di dasar laut Sawu yang berhadadapan dengan Pulau Lembata.

Adik saya adalah satu di antara dua vulcanolog di dunia yang berhasil menanggulangi bencana besar dengan menciptakan gunung api baru. Seorang vulcanonolog lainnya menciptakan hal yang sama di Mexico. Tetapi hal ini akan saya tulis kemudian karena sedang mengedit bukunya.

Mendengar peristiwa besar yang akan menimpa Kota Waiteba, saya bergegas ke sana, dengan biaya sendiri sebagaimana kebiasaan saya kala melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Di Laratuka, kebetulan saya bertemu dengan dua pejabat daerah, yang kebetulan juga ketika kuiliah di Kupang kost di rumah saya. “No Piet, sebaiknya jangan pergi ke sana, gempa sudah sering terjadi. Berbahaya”, ujar keduanya. Tapi justru itulah yang membuat saya “bernafsu” ke Waiteba.

Kapal motor yang menuju Lewaleba hanya ada pada hari pasar. Tetapi di pantai saya menyewa sebuah perahu berlayar satu, yang saya kemudiakn sendiri menuju pantai terdekat, Loang. Hari telah malam, saya menginap di rumah Camat Hillarius.

Pagi subuh camat yang berbaik hati mengirim seorang pegawainya membawa surat2 ke Lewaleba, tetapi sebenarnya ia ingin agar saya tidak berjalan sendiri. Hampir siang kami berhenti di tenda para penyelam mutiara. Kami makan siang di situ dengan daging kerang mutiara. Lezat sekiali.  Saat berpamitan saya dihadiahi sebuah mutiara kecil dari mereka sebagai kenangan.

Beberapa jam berjalan menyusuri pantai, beberapa perempuan membawa ember menuju pantai. Ternyata mereka menimba air tawar pada bebrapa mata air ysng mkuncul saat air laut surut. Tentu saja saya merasakan air tawar Lembata yang memang nyaman saat sedang haus.

Malam itu juga saya menemui Pembantu Bupati Sumarmo mengatakan niat saya ke Waiteba. Pagi hari ia mengutus pegawainya Michael, mantan bruder di Solo menemani saya sambil memantau kondisi Waiteba dan Gunjung Hobal.

Kami mengambil jalan memtong yang harus mendaki beberapa gunung terjal mirip kerucut. Ketika dahaga sudah tidak terhankan, kami singgah di kampungnya mantan Ketua DPRD NTT Jan Kiapoli. Kami disuguhi tuak asam (laru). Hari mulai senja kami bertemu Camat Atadei Yusuf Doru ditemani seorang pegawainya yang akan menuju Lewaleba. Kami hanya bercakap sebentar.

Malam hari di rumah Kepala Desa Waiteba saya heran karena disediakan air panas di kamar mandi.

“Sumur2 di sini sudah mendidih,” kata Kepala Desa menjelaskan.

Keesokan harinya Hari Minggu, perempuan-perempuan menuju ke gereja menyusuri pantai sambil di tangannya pemintal benang menari-nari. Di pantai tampak ikan-ikan besar terdampar bagai sudah direbus.

Sejak semalam gempa terus-menerus. Saya dan Michael mendaki bukit untuk membuat foto-foto. Tetapi bukit itu pun longsor dan kami berguling-guling bersama bebatuan. Saya hanya menjaga tustel Canon FTB agar tidak lepas dan tenggelam di antara batu-batu.

Hari itu juga kami bergegas pamit. “Jangasn lupakan kami, pesan seorang ibu. Kami pun Golkar,” Saya tidak tahu makna pesan itu, tapi tentu ia mengharapkn pemerintah agar segera turun tangan.

Kali ini memilih menyusuri pantai dan mendaki menuju sebuah desa, di mana kami bermalam di rumah Kepala Desa. Ia baru tiba dari Jakarta dan menyarankan kami pagi-pagi bergesa ke desa pantai yang ada sebuah kapal motor menuju Lewaleba.

Dari Lewaleba saya dengan kapal motor yang memuat masyarakat dari pasar menuju Larantuka. Penuh sesak. Saya sdh tidak sabar lagi memberitakan apa yang saya saksikan dan menyatakan keprihatinan agar mesyarakat Waiteba segera diungsikan.

Gubernur Ben Mboy marah besar membaca berita saya. ia datang ke sana dengan serombongan orang dan KNPI NTT. Ia memberikan kecaman pada bnerita saya, setelah mencabut sebatang ubikayu di ladang petani.

“Ini tanah sangat subur. Jangan percaya pada itu wartawan”, kata Ben Mboy, KNPI pun ikut berjanji “kalau terjadi apa2, kami yang akan menyelamatkan saudara2”

Beberapa bulan kemudian bencana besar itu sungguh2 terjadi. Gubernur diam, dan KNPI pun tak pernah datang menyelamatkan mereka.  Waiteba sudah senyap, dibukitnya tinggal pohon2 eukaliptus yang memutih dan meranggas.

Tiada siapa-siapa, kecuali saya yang menangis sendirian karena tak bisa meyakinkan  negara untuk segera menyelamatkan saudara2 saya itu. Semoga Tuhan menyertai mereka di alam sana.

Inilah Gunung Hobal. Secara geografis terletak pada posisi 08022’26” LS dan 123035’26” BT dan secara administratif berada di wilayah Kecamatan Atedai, Kabupaten Lembata.

Kota Hilang

Tengah malam tanggal 19 Juli 1979, gunung Hobal, gunung berapi yang berada di bawah permukaan laut tiba-tiba meletus. Letusan dasyat itu diikuti dengan gempa bumi berkekuatan super dan gelombang laut setinggi 50 meter.

Saat itu, warga yang tinggal di pesisir pantai Desa Waiteba, ibu kota Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, sedang tidur nyenyak. Mereka tak menyangka bencana sedang menghimpit. Seketika, bangunan beserta pemiliknya disapu gelombang dan ditarik masuk ke dasar laut.

Tak banyak yang tahu kejadian tengah malam itu. Namun keesokan harinya, terlihat Desa Waiteba tinggal tanah lapang tak berpenghuni. Tangisan keluarga yang kebetulan tinggal di desa tetangga mengatup suka cita saat itu.

Pemprov NTT mencatat 539 orang tewas, 364 orang hilang, dan tersisa 470 orang yang menderita kehilangan suami, istri, anak dan keluarga lainnya. Kerugian material pun diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Itu sebabnya, tanggal 17 September 1980, Pemerintah Pusat memindahkan ibu kota Atadei dari Desa Waiteba ke Desa Karangora. Keputusan pemindahan ibu kota tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1980 Tentang

Pemindahan Ibukota Kecamatan Atadei dari Desa Waiteba ke Desa Karangora dan ibukota Kecamatan Nagawutung dari Desa Boto ke Desa Loang (saat itu dua desa ini masih berada di dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Flores Timur).

Peter Apollonius Rohi, wartawan yang sempat mengabadikan Desa Waiteba dari ketinggian mempunyai cerita sendiri. Kata dia, saat letusan gunung terjadi, sejumlah penduduk sedang berada di desa tetangga yang letaknya di ketinggian mengikuti Misa. Mereka dikejutkan dengan gemuruh ombak dan gempa dahsyat diikuti bunyi gemuruh seakan langit hendak runtuh.

“Ya Tuhan,” seru beberapa perempuan yang bergegas pulang. Namun baru saja mereka turun ke desa mereka, air laut sudah menyentuh kaki. Terpaksa mereka berlari pada malam yang makin gelap itu, kembali ke atas bukit. Sementara mereka yang diketahui tewas pada malam itu adalah mereka yang tidak sempat mengikuti Misa.

Peter sendiri pernah ke Waiteba pada tahun 1978, atau setahun sebelum Waiteba hilang. Saat itu Lembata masih dijabat oleh Pembantu Bupati, Drs. Soemarmo. Ia bersama Michael, seorang staf suruhan Soemarmo menuju Waiteba untuk melihat dari dekat pergerakan/perubahan tanah akibat aktivitas gempa gunung Hobal.

Tanda-tanda gunung akan meletus sudah nampak. Hanya saja pemerintah kurang peka terhadap perubahan alam yang terjadi.

Saat itu, Harian Umum Sinar Harapan menurunkan tulisan Peter di halaman utama. Tak lama kemudian Gubernur Ben Mboi datang berkunjung ke Lembata. Ironisnya, Ben Mboi meminta masyarakat tetap tenang, tapi meminta masyarakat jangan percaya laporan wartawan.

“Dia bukan ahli geologi,” kata Ben Mboi yang ditujukan kepada Peter. Bahkan Ketua KNPI NTT yang tak ketinggalan dalam rombongan itu sempat bikin pernyataan, “Kami akan datang pertama sekali untuk membantu bila benar-benar gunung itu meletus.”

“Juli yang naas itu membuat rasa sesak di dada. Saya gagal. Pemerintah tidak percaya berita saya dan tidak mengindahkan anjuran saya untuk merelokasi penduduk Waiteba. Saat musibah itu, Gubernur tidak jelas, KNPI pun hilang janji. Saya menyesal, kurang dapat menyakinkan negara. Padahal, jalan menuju Waiteba begitu sulit melintasi tiga gunung kerucut yang terjal antara 70 – 80 derajat,” kata Peter.

Gunung Hobal sendiri berada di Kecamatan Atadei. Hingga kini, gunung yang berada di bagian selatan Kabupaten Lembata itu telah meletus 4 kali, yakni tahun 1976, 1979, 1983, dan 2013. (Cis/ Peter Apollonius Rohi)

Penulis/Penerbit: