Published On: Tue, Aug 22nd, 2017

Cerita Juru Tikam Ikan Paus Saat Launching Novel Berjudul Lamafa

Share This
Topik

Fince Bataona ketika menyerahkan Novel Lamafa kepada kaum divabel yang diwakili oleh Polta Jon Liarian di gedung Ankara, Lewoleba, Lembata, Selasa 22 Agustus 2017.

sergap.id, LEWOLEBA – Selasa (22/8/17) pagi, ratusan orang terlihat memenuhi gedung Ankara, Lewoleba, Kabupaten Lembata. Kehadiran mereka untuk menyaksikan launcing dan bedah novel berjudul Lamafa yang ditulis oleh Fince Bataona, sang jurnalis yang peduli terhadap kelangsungan budaya perburuan ikan paus di Lamalera.

Acara launching dan bedah novel yang dihadiri Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Alex Ofong ini diawali dengan testimoni dua juru tikam ikan paus atau Lamafa, yakni  Aloysius Genesar Tapoona dan Goris Krova, serta dua penjual daging ikan paus, yaitu Agnes Beto (64) dan Maria Ero Keraf (65).

Aloysius mengaku, sejak berabad-abad yang lalu, seluruh kehidupan warga Lamalera sangat bergantung pada hasil perburuan ikan paus, termasuk untuk menyekolahkan anak.

“Saya ini Lamafa. Bagi kami, laut itu ibu kami. Ibu yang memberi makan kepada anaknya. Alam semesta juga tahu kalau kami hidup dari laut,” ujar Aloysius.

Menurut dia, hasil perburuan ikan paus selalu diutamakan bagi kaum janda dan fakir miskin yang ada di Lamalera. “Sejak turun temurun kami hidup dari laut. Karena itu jangan ganggu kami,” pintanya.

Kegalauan Aloysius ini berawal dari upaya pemerintah memberlakukan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus).

Mama Agnes Beto (64)

Kegelisahan yang sama diutarakan juga oleh Goris Krova, mama Agnes Beto dan mama Maria Ero Keraf. “Daging paus memberi makan seisi kampung, dan itu sampai sekarang. Karena itu, siapa pun yang mengganggu gugat laut kami, tidak bisa, karena ini budaya kami,” tegas mama Agnes Beto.

Menurut Goris, konservasi laut telah dijalankan oleh para nelayan Lamalera sejak jaman nenek moyang mereka.

“Batas konservasi kami sudah ada. Batas kami adalah gereja, jika melaut dan kami tidak bisa lagi melihat itu gereja, maka kami harus pulang. Sejak jaman nenek moyang kami, kami juga di larang menikam ikan paus biru, karena menurut kepercayaan kami, itu adalah nenek moyang kami, kami juga tidak boleh membunuh ikan paus yang lagi bunting atau anak ikan paus,” paparnya.

Goris percaya, ikan paus tidak akan punah. “Siapa yang bilang ikan akan habis. Kecuali dunia kiamat. Peneliti jangan hanya meneliti di laut saja, ayo ke darat juga. Biar tahu sepenuhnya tentang kehidupan orang Lamalera,” pintanya.

Maria Ero Keraf (65).

Maria Ero Keraf bercerita, sejak suaminya meninggal 35 tahun yang lalu, ia seorang diri menghidupi tiga orang anaknya dengan barter daging ikan paus.

“Kami para janda, mengingatkan semua orang untuk tidak mengganggu laut kami. Karena kami hidup dari laut. Jangan ganggu kampung kami. Kami sangat menggantungkan hidup kami kepada para lelaki (pemburu ikan paus),” katanya.

Di akhir testimoni, Fince Bataona, mengatakan, sosialisasi tentang konservasi seperti meneror para nelayan Lamalera. “Bagi nelayan Lamalera, bicara soal konservasi, sangat menegangkan. Apalagi ketika salah seorang nelayan di Lamalera ditangkap polisi (terkait kasus perdagangan insang ikan pari). Dia dijebak. Masyarakat resah. Kalau sudah begini, meraka mau hidup dari mana lagi,” ucap Fince.

Lounching ditandai dengan penyerahan novel kepada Aloysius Genesar Tapoona, Goris Krova, Agnes Beto (64), Maria Ero Keraf (65), kaum divabel yang diwakili oleh Polta Jon liarian, Pemkab Lembata yang diwakili Asisten II Gabriel Warat, dan DPRD Provinsi NTT yang diwakili Alex ofong.

Fince Bataona ketika menyerahkan Novel Lamafa kepada dua Lamafa, yakni Aloysius Geneser Tapoona dan Goris Krova.

Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten II Setda Lembata, Gabriel Warat, mengatakan, pemerintah menyampaikan profisiat kepada Fince Bataona yang telah sukses menerbitkan novel Lamafa.

“Novel yang ditulis ini adalah novel dalam bingkai literasi. Karena itu, program literasi harus menjadi program yang dikampanyekan bersama. Ibu Fince sudah mulai ini. Mari kita sama-sama menyukseskan Lembata sebagai Kabupaten literasi di 2018,” pintanya.

Apa kata mereka?

Lanny Koroh

Kata Lanny Koroh, novel LAMAFA adalah maha karya yang sangat luar biasa. Inilah kehidupan orang Lamalera yang sebenarnya. Saya asal Sabu. Saya merasa diberkati ketika mengunjungi Lamalera. Disana saya melihat langsung  lima ekor ikan paus ‘menyerah’ kepada Lamafa.

Ikan bunting tidak dibunuh, ikan anak tidak dibunuh. Ini bagian dari konservasi dan pelestarian ikan paus. Kita patut menjaga budaya ini. Karena surga tersembunyi di Lembata itu ada di Lamalera.

Alex Ofong

Alex ofong, mengatakan, budaya Lamafa adalah budaya mempertahankan hidup. Ini adalah kedaulatan pangan orang Lamalera. Orang Lamalera menyandarkan hidup mereka di laut. Untuk mempertahankan ini, Sumber Daya Manusia harus diperkuat.

Orang janda dan fakir miskin didahulukan. Ini nilai social yang bisa dipetik dari budaya Lamafa. Novel ini adalah upaya mempertahankan tradisi dari ancaman globalisasi.

Bisnis dan uang adalah ancaman merubah tradisi. Ini yang mesti dilawan. Novel ini adalah bentuk perlawanan. Kita mesti merubah, yakni membuat pembaharuan dan memperkuat tradisi ini. Semoga suatu saat Lamafa disandang oleh orang yang berpendidikan tinggi. Sehingga tradisi ini bisa lebih kuat dijaga kelestariannya.

Rekomendasi saya kepada pemerintah adalah harus ada perlindungan terhadap budaya ini. Pemerintah dan DPRD provinsi sudah komit bahwa tradisi ini harus dipertahankan.

Pater Charles Beraf, menjelaskan, laut adalah rahimnya orang Lamalera. Laut melahirkan, membesarkan dan memberi mereka hidup. “Leva sudah dihidupkan sejak era para leluhur,” tegasnya.

Paulus Sinakai, mengatakan, sesuai kepercayaan orang Lamalera, ikan paus adalah kiriman Tuhan melalui leluhur. Diambil melalui cara yang sakral. Didahului dengan doa secara Katolik. Pintu rumah besar dalam keadaan terbuka. Mulai tanggal 1 Mei kampung dalam keadaan gelap gulita.

Daging satu ekor ikan paus diberi makan untuk orang sekampung. Ini budaya Lamalera. Memburu tidak untuk menghabisi. Membiarkan paus biru melewati laut adalah bagian dari konservasi.

Ditengah polemik soal konservasi, saat ini orang Lamalera sedang galau. Saya berharap orang Lamalera diberi dispensasi seperti budaya menangkap Penyu ketika musim adat di Bali. (Cis)

Penulis/Penerbit: