Published On: Wed, May 3rd, 2017

Dokter Pulang Ke Rumah, Bidan Asyik Catok Rambut, Ibu Hamil Meninggal Dunia

Share This
Topik

Bidan asyik catok rambut, lalai jalankan tugas, diduga menyebabkan ibu dan anak meninggal saat melahirkan di RSUD Soe.

sergap.id, SOE – Rabu (3/5/17), Yafred Nuban (37) melaporkan dokter EM dan 4 bidan RSUD Soe ke polisi karena diduga sebagai penyebab kematian Yohana Da Silva, istrinya.

Warga RT14 RW07, Desa Nobi-Nobi, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan itu melapor polisi setelah istrinya, dan bayinya yang baru lahir meninggal dunia akibat pendarahan hebat pada 25 April 2017 di ruang bersalin RSUD Soe.

Yafred mengaku tidak puas dengan pelayanan yang diberikan dokter dan 4 bidan RSUD Soe itu. ”Karena tidak profesional, sehingga istri dan anak saya meninggal,” ujar Yafred.

Yafred merasa ada yang janggal dalam penanganan persalinan istrinya yang dilakukan oleh dokter EM, dua bidan senior dan dua bidan praktek. Kelima orang itu dinilai lalai menangani  kelahiran anaknya.

“Saya melihat sendiri ada kelalaian dari dokter maupun bidan yang menangani proses kelahiran anak saya. Biarkan masalah ini proses untuk mengetahui sebab kematian istri dan anak saya,” kata Yafred kepada wartawan di Mapolres TTS, Rabu (3/5/17).

Menurut Yafred, ia membawa istrinya ke RSUD Soe pada 25 April 2017 sekitar pukul 10. 00 Wita. Istrinya lantas diinapkan di ruang bersalin.

Keesokan harinya atau tanggal 26 April 2017 sekitar pukul 12.00 Wita, istrinya diberi obat perangsang oleh dokter yang katanya untuk membantu kelancaran proses persalinan.

Selang beberapa saat kemudian terjadinya reaksi, istrinya pun mengeluh sakit pada bagian perut. Namun dokter EM sudah pulang ke rumah dan menitipkan istrinya kepada 4 orang bidan.

Sekitar pukul 17.00 Wita, istri Yafred Silva merasa sakit tak tertahan dan merasa hendak melahirkan.

Melihat kondisi itu, Yafred lantas memanggil bidan untuk memberikan pertolongan. Tetapi 4 bidan itu malah asyik mencatok rambut dan menjawab dengan enteng bahwa waktunya belum untuk bersalin.

“Saya panggil bidan karena saya lihat istri saya sudah tidak tahan sakit. Bidan datang dan kasi masuk tangan (ke bagian kelamin pasien) lalu bidannya bilang, sabar itu belum waktunya, lalu  bidan itu pergi untuk lanjut catok rambut,” papar Yafred.

Setelah itu, sekitar pukul 19.00 wita, karena istrinya sudah tidak tahan sakit, Yafred kembali memanggil bidan untuk mengecek kondisi istrinya.

Salah seorang bidan kemudian memenuhi permintaan Yafred. Si bidan itu lantas memasukan tangannya ke kelamin istri Yafred. Namun tiba-tiba darah mengalir deras disertai kotoran.

Yafred mengaku, saat itu ia melihat kondisi istrinya benar-benar lemas, sesak nafas dan wajahnya pucat pasi.

“Darah keluar banyak disertai ta’i. Karena tidak sanggup liat kondisi istri saya itu, saya akhirnya keluar ruangan,” kata Yafred.

Setelah itu, seorang bidan berusaha menelpon dokter EM. Sedangkan 3 bidan lainnya terus berupaya membantu persalinan. Tak lama kemudian bayi berhasil keluar, namun dalam keadaan meninggal dunia.

Ketika dokter EM datang, dia hanya berusaha mengeluarkan ari-ari yang masih tertinggal di dalam perut istrinya.

Sebelum melakukan pertolongan, kata Yafred, dokter EM sempat menawarkan kepada dirinya untuk melakukan operasi guna mengangkat ari-ari istrinya dengan biaya Rp 2.750.000.

Namun belum sempat mengiyakan permintaan dokter EM, istrinya keburu menghembuskan napas terakhir.

Melihat penanganan yang terkesan lalai tersebut, Yafred memilih melaporkan dokter EM dan 4 bidan itu ke polisi. Laporannya diterima IPDA Otnial Natonis dengan nomor LP/136/V/2017/Res TTS tanggal 03 Mei 2017. (*/Del)

Penulis/Penerbit: