Published On: Sat, Jul 28th, 2018

Gereja di Pulau Timor Ini Terbuat Dari Batu Alam dan Memiliki Ruang Bawah Tanah

Share This

Gereja Santo Antonius Padua Sasi tampak luar.

sergap.id, Kefamenanu – Sebuah gereja di Pulau Timor, tepatnya di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara ini memiliki keunikan yang patut dikunjungi. Tampak luar seperti bagunan klasik Eropa.

Letaknya hanya sekitar 100 meter dari jalan El Tari, tepatnya di kilo meter 7 Kefamenanu. Namanya adalah Gereja Santo Antonius Padua Sasi.

Bangunan gereja ini terbuat dari batu alam yang potongannya menyerupai batu bata. Desainnya menyerupai bangunan tua buatan 1701. Ventilatornya pun membuat cahaya terang dan udara di dalam gereja terasa sangat sejuk.

Aura panas dari luar gedung gereja sontak sirna ketika melangkah di atas lantai batu yang dingin. Hawa sejuk, tenteram dan damai menciptakan keheningan yang indah untuk berdoa. Interior gereja ini pun tak kalah indah. Hiasan dinding disertai kain tenun yang ditempel pada tiang dan plafon gereja memiliki keindahan tersendiri.

Ruangannya berbentuk setengah lingkaran, dan lantainya dibuat miring menghadap ke altar menyerupai amphitheatre (yang duduk paling belakang bisa melihat ke depan).

Kolom-kolom di dalam gereja juga dibuat sedemikian rupa sehingga paduan suara dapat menghasilkan bunyi yang enak di dengar walau tanpa microfon.

Gereja ini memiliki bermacam wajah jika dilihat dari depan, samping kiri kanan, maupun belakang. Begitupun dengan pintu depan, pintu utara dan pintu bagian selatan yang memiliki karakter sendiri-sendiri.

“Terdapat pula tanda tangan pesepak bola Italia Alexandro Del Piero di lonceng gereja,” kata Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Antonius Padua Sasi, Matheus Niga.

Menurut Matheus, Del Piero adalah keponakan Antonio Razzoli, OFM Conv, tokoh di balik suksesnya pembangunan gereja tersebut.

Kehadiran tanda tangan Del Piero di gereja ini bukan tanpa pamrih. Pemain yang biasa mengenakan nomor punggung 10 ini juga menggelontorkan sejumlah dana untuk pembangunan gereja.

Di bagian luar, pagar yang terbuat dari batu alam terbentang panjang. Ada dua pintu masuk, yakni di sisi kiri matahari terbenam dan kanan. Puluhan anak tangga siap menyambut siapa saja di pintu kiri yang di tengahnya terdapat papan nama gereja terbuat dari marmer.

Gereja Santo Antonius Padua Sasi bagian samping.

Tatkala matahari senja beranjak ke peraduannya, batu-batu alam yang melilit gereja itu memancarkan pendar cahaya kemerahan. Sontak mata akan terkesima menyaksikan kemegahan gereja yang memiliki tinggi tujuh meter tersebut.

Sungguh hasil karya manusia yang cermat dan teliti. Tidak sedikit pasangan calon pengantin yang menjadikan gereja tersebut sebagai lokasi pemotretan pra nikah.

Beraneka jenis bunga pun menghiasi setiap sisi jalan setapak menuju pintu utama gereja.

“Setelah pintu utama, ada salib yang di bawahnya terdapat sebuah kotak marmer berbentuk segi empat. Kotak itu untuk air berkat,” kata Pastor Paroki St. Antonius Padua Sasi, Pater Titus, OFM Conv.

Gereja Santo Antonius Padua Sasi bagian dalam.

Gereja ini dibangun selama tiga tahun yang dimulai pada tahun 2003. Pembangunannya dipimpin oleh Pater Antonio Razzoli OFM Conv  dan dikerjakan bersama paroki umat setempat, serta didampingi oleh Pater Laurentius Sihaloho, OFM Conv dari Medan, sebagai arsitek.

“Pokoknya, dari fondasi sampai atap, semua umat terlibat langsung. Kami kerja dari pagi pukul 08.00 sampai sore pukul 17.00 Wita,” kata Samina Angmanobe, istrinya Matheus Niga.

Pasir dan kelikir yang dipakai untuk membangun gereja yang diberkati oleh Uskup Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu SVD pada tahun 2006 itu diambil dari sungai Noemuti.

“Pasir dan batu dicuci bersih dan diperiksa oleh Pater Antonio. Sementara batu alam untuk seluruh gereja itu diambil dari daerah Neonbat, Suspini dan Muiklin. Batu diukur, dipotong kemudian dipahat hingga berbentuk batu bata sesuai permintaan tukang di bawah arahan Pater Antonio. Kalau batu ukuran salah atau tembok miring, harus bongkar. Campuran tidak bagus, bongkar. Harus rapi,” kata Hendrik Nai, anggota panitia pembangunan gereja.

“Pater Antonio juga teliti memilih kayu untuk plafon serta bangku untuk tempat duduk umat. Kayu yang digunakan harus berkualitas nomor satu. Banyak tukang yang akhirnya mempunyai pengalaman luar biasa besar setelah mengerjakan gereja ini,” kata Benediktus Sanak, juga anggota panitia pembangunan gereja.

Hendrik Nai menjelaskan, Gereja St. Antonius Padua Sasi memiliki ruangan bawah tanah dengan kedalaman bervariasi. Ada yang empat meter, 10 meter hingga 11 meter.

Gereja Santo Antonius Padua Sasi bagian dalam.

Pastor Paroki Antonius Padua Sasi, Pater Titus, OFM Conventual, mengatakan, Gereja St. Antonius Padua Sasi diberkati pada tanggal 16 Juni 2006, bertepatan dengan hari St. Antonius Padua.

Daerah pelayanan Gereja Sasi meliputi Kelurahan Sasi, Maubeli, Oelami, lingkungan Kecamatan Kota Kefamenanu, kilometer 5, 6, 7, 8, 9 hingga Kecamatan Bikomi Selatan, Tublopo dan Bele. (sel/sel)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!