Published On: Wed, Dec 5th, 2018

Ini Alasan Kenapa 30 Pekerja Proyek Trans Papua Dibunuh KKB

Share This
Tags

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

sergap.id, NDUGA – Kabar duka datang dari perusahaan konstruksi pelat merah, PT Istaka Karya (Persero). Sebanyak 30 pekerjanya dibunuh oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

Corporate Secretary PT Istaka Karya Yudi Kristanto, mengatakan, pihaknya sedang memastikan jumlah pekerja yang tewas di lokasi proyek jembatan Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua.

“Kami berkoordinasi dengan aparat keamanan,” kata Yudi lewat pesan singkat, Selasa, 4 Desember 2018 seperti dilansir TEMPO.CO.

Kepolisian Daerah Papua menerima informasi dari masyarakat mengenai dugaan pembunuhan para pekerja Istaka Karya pada Senin, 3 Desember 2018 sekitar pukul 15.30 WIT.

Dari informasi itu diduga pembunuhan terhadap pekerja proyek Istaka Karya terjadi pada Ahad, 2 Desember 2018 di lokasi tempat mereka bekerja.

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal, menjelaskan, sebanyak 31 orang pekerja Istaka Karya diduga dibunuh kelompok bersenjata pada 2 Desember.

Para pekerja PT Istaka Karya sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Menurut keterangan Polda Papua, hingga, 3 Desember 2018, sekitar pukul 22.35 WIT sebanyak 24 orang dibunuh terlebih dahulu.

Kemudian, sebanyak 8 orang sempat menyelamatkan diri ke rumah seorang anggota DPRD. Namun, delapan orang itu dijemput kelompok bersenjata. Tujuh di antaranya dibunuh, satu orang melarikan diri dan belum ditemukan.

Kamal mengatakan Polda Papua mengatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk menyelidiki informasi pembunuhan terhadap pekerja proyek Istaka Karya tersebut.

Kronologi pembunuhan bermula pada Sabtu, 1 Desember 2018 sekitar pukul 20.30 WIT saat Project Manager Istika Karya, Cahyo, mendapat telepon dari nomor yang biasa dipegang oleh Koordinator Lapangan, Jhoni.

Jhoni adalah orang yang memegang pengerjaan proyek pembangunan jembatan Habema-Mugi.

Namun di sambungan telepon itu, Cahyo tidak paham dengan maksud pembicaraan dari balik ponsel Jhoni.

Di tempat lain, PPK Satker PJN IV PU Binamarga wilayah Habema-Kenyam, Monang Tobing, mengaku sempat berkomunikasi melalui SMS dengan Jhoni pada 30 November 2018.

Informasi dari pos Satgaspamrahwan 755/Yalet di Napua-Wamena mengungkapkan jika pada 30 November 2018 pukul 04.00 WIT tercatat 1 mobil Strada bermuatan BBM Solar milik PT Istaka Karya menuju Camp Istaka Karya di Distrik Yigi.

Dikemudikan MS, mobil tersebut juga membawa 5 orang pegawai dan tiba kembali di Wamena pada pukul 18.30 WIT.

Selanjutnya pada 1 Desember pukul 02.00 WIT, tercatat 2 mobil menuju ke Camp Distrik Yigi dengan masing-masing membawa 15 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya. Kemudian pada 2 Desember, pukul 20.00 WIT 1 mobil Strada kembali ke Wamena dan berangkat lagi ke Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua.

Dari informasi yang didapat, 1 mobil Strada yang membawa 15 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya sampai saat ini belum kembali ke Wamena.

Mendapat informasi tersebut, personil gabungan Polri dan TNI yang dipimpin Kabag Ops Polres Jayawijaya AKP R.L. Tahapary langsung bergerak dari Wamena menuju Distrik Yigi Kabupaten Nduga.

Saat tiba di kilometer 46, tim bertemu dengan salah satu mobil dari arah Distrik Bua dan menyampaikan agar tim segera balik arah karena jalan diblokir oleh KKB.

Personil gabungan TNI/Polri langsung diterjunkan untuk mengecek informasi tersebut.

Setelah pembunuhan dan penembakan terhadap pekerja Istaka Karya itu, situasi di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, masih dalam kondisi mencekam.

Kapendam Cendrawasih, Kolonel Infanteri Muhammad Aidi, mengatakan, para korban bahkan belum bisa dievakuasi dari lokasi penembakan di proyek pembangunan Jembatan Kali Yigi dan Kali Aurak.

“Korban belum bisa dievakuasi,” kata Aidi kepada Liputan6.com.

Dia menegaskan aparat kepolisian sudah bergerak ke lokasi penembakan dan terus memburu pelakunya.

Sebagai informasi, untuk bisa ke lokasi perlu waktu 12 jam dari Wamena.

“Kamis sudah bergerak, tapi belum ada laporan dari dalam, untuk mekanisme gerakan sebaiknya tidak usah dipublikasikan,” kata dia.

Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka (OPM) Devisi II Makodam Pemkab IV Paniai. TEMPO/Jerry Omona.

Informasi yang diterima dari berbagai sumber, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibunuh lantaran salah satu pekerja mengambil foto pada saat KKB merayakan HUT kemerdekaan Papua pada 1 Desember 2018.

Pengambilan foto itu kemudian diketahui oleh KKB. Hal itu membuat mereka marah KKB lantas mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba membenarkan informasi itu. Dikatakannya, kalau salah satu pekerja mengambil foto pada saat kelompok ini melakukan upacara.

“Ya. Saya terima informasinya seperti itu. Kalau kelompok KKB ada melakukan upacara dan salah satu dari pekerja tak sengaja melihatnya dan mengambil foto. Itu membuat mereka marah hingga kelompok ini pun membunuh para pekerja yang ada di kamp,” katanya ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (3/12/2018).

“Informasinya 24 orang dibunuh di kamp. Lalu ada 8 orang yang sebelumnya berhasil menyelamatkan diri ke salah satu rumah keluarga anggota DPRD setempat. Kini informasinya 7 orang di antara mereka juga sudah meninggal dunia dan 1 orang berhasil melarikan diri,” katanya lagi.

Terkait informasi ini, ungkap Reba, pihaknya tengah berkoordinasi dengan TNI yang berada di sana untuk melakukan evakuasi korban.

“Kami berencana segera ke sana dengan kekuatan penuh. Kalau benar informasi itu, maka kami akan melakukan evakuasi dan juga menyelidiki para pelaku, untuk diproses hukum lebih lanjut,” ujarnya.

Reba menaruh harapan besar, kalau ini hanya sekedar informasi yang tak benar. “Semoga saja informasi ini tak benar. Tapi kami masih belum bisa mendapat kabar mereka sampai detik ini,” ujarnya.

Kapolda Papua Irjen Pol. Martuani Sormin menyampaikan, kalau informasi itu sudah diterima kepolisian.

“Kami masih baru mendapat informasinya. Untuk kebenarannya sedang kami cek,” ungkapnya ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat telepon selulernya, Senin (3/12/2018) malam.  (sumber: Metromerauke.com/Tempo.co/Dream.co.id/Liputan6.com/ Jawa Pos)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!