Published On: Mon, Aug 21st, 2017

Inilah Novel Tentang Lamafa Yang Ditulis Oleh Jurnalis Asal Lamalera

Share This
Topik

Fince Bataona

sergap.id, LEWOLEBA – Novel berjudul Lamafa adalah novel pertama yang ditulis oleh Fince Bataona, jurnalis perempuan asal Lamalera, Kabupaten Lembata.

Lewat novel ini, Fince ingin menggugah nurani para pemimpin bangsa dan seluruh warga Indonesia agar bisa melihat lebih dekat dengan mata hati tentang suka duka kehidupan warga Lamalera, dan budaya perburuan ikan paus di Lamalera.

Menurut rencana, Selasa (22/8/17), akan dilaksanakan bedah novel di Aula Kopdit Ankara atau di sebuah gedung serba guna yang letaknya di bagian timur Lewoleba, ibukota Lembata.

Acara bedah buku yang bakal dibuka oleh Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday ini akan menghadirkan narasumber Pater Charles Beraf SVD, Dr Lanny Koroh, Akeksander Ofong dan Paulus Sinakai.

Fince mengaku, sebagai jurnalis, ia sudah sering menulis tentang kehidupan warga Lamalera yang hanya ditopang dari budaya perburuan ikan paus.

“Namun para nelayan Lamalera menangis ketika disosialisasikan Undang-Undang yang melarang penangkapan jenis-jenis ikan yang tak boleh ditangkap. Sebagai orang Lamalera saya ikut menangis dan ingin selalu ada dengan mereka,” ujar Fince kepada wartawan, Senin (21/8/17).

Menurut dia, dengan menyajikan tulisan dalam bentuk novel ini, ia ingin menyentuh hati para pemimpin di Indonesia untuk melihat aktivitas masyarakat nelayan Lamalera dengan hati.

Proses menulis buku ini sudah berjalan sejak dua tahun terakhir. “Saya menulis novel ini dengan sepenuh jiwa, karena saya ikut merasakan apa yang dirsasakan dan kegelisahan para nelayan Lamalera,” kata Fince.

Novel Lamafa

Pater Charles Beraf, dalam testimoninya tentang Lamafa sebuah Novel, mengatakan, novel ini meminjam kata-kata Filosof Nietzche ditulis dengan darah, berangkat dari pengalaman ‘mati hidup’ orang-orang Lamalera yang sama sekali tidak tunduk pada apa yang oleh banyak orang disebut sebagai ‘takdir’, melainkan yang selalu nelihat perjuangan mati hidup sebagai bagian yang tak bisa ditolak.

Ema (ibu), tokoh dalam novel tidak hanya secara lurus merepsentasikan figur para perempuan tangguh Lamalera, tetapi juga menunjukkan betapa spirit dan komitmen seorang lelaki Lamalera tak bisa begitu saja pupus oleh perkara-perkara sentinental sifatnya.

Petaka kematian suaminya di laut malah menjadikan Ema sekaligus sebagai bapa yang mewariskan spirit dan komitme serupa kepada anak-anaknya dan ibu yang menjalankan hal ikhwal hidup secara total meski dalan keadaan yang paling sulit.

“Novel ini, hemat saya, tidak hanya mengaduk-aduk perasaan tentang kekerasan hidup di Lamalera, tetapi juga merekam tentang pentingnya korban dan perjuangan yang barangkali sedang terancam dilupakan di tengah derap kemajuan yang menggampangkan,” papar Pater Charles Beraf, SVD.

Sementara itu, Aloysius Geneser Tapoona, mengurai soal tugas juru tikam ikan paus atau yang disebut Lamafa dalam perburuan ikan paus di Lamalera.

“Lamafa melakukan tugas yang sakral. Saat memegang tempuling, Lamafa menggenggam harapan hidup, tidak hanya keluarganya, tetapi seluruh kampung. Dia (Lamafa) adalah kehidupan,” katanya. (BH/BH)

Penulis/Penerbit: