Published On: Mon, Oct 22nd, 2018

Karir dan Kematian Jamal Khashoggi Menarik Perhatian Dunia

Share This
Tags

Jamal Khashoggi semasa hidup.

sergap.id, KISAH – Jamal Khashoggi adalah salah satu wartawan yang mengenal baik siapa itu Osama bin Laden. Ia kemudian menjadi pembangkang terkemuka di negaranya dan harus meninggalkan Arab Saudi.

Pria berumur 59 tahun ini memulai kariernya sebagai wartawan di Arab Saudi setelah lulus dari sebuah universitas Amerika di tahun 1985.

Selama bekerja di koran al-Madina di tahun 1990-an, dia banyak menulis tentang milisi berhaluan Islam yang pergi ke Afghanistan untuk melawan invasi Soviet.

Dia beberapa kali mewawancarai Osama bin Laden, yang dia katakan telah dikenalnya sejak masih muda. Saat itu bin Laden belum menjadi tokoh yang dikenal di Barat sebagai pemimpin al-Qaida.

Khashoggi mengunjungi bin Laden di gua-gua pegunungan Tora Bora, selain mewawancarainya di Sudan pada tahun 1995.

Beberapa tahun kemudian, Khashoggi sendiri diwawancarai media Jerman, Der Spiegel pada tahun 2011 terkait dengan hubungannya dengan Osama bin Laden.

Khashoggi mengakui telah menyebarkan pandangan bin Laden di masa lalu dengan menggunakan cara tidak demokratis seperti menyusupi sistem politik atau menggunakan kekerasan untuk membebaskan dunia Arab dari rezim korup.

Sejak saat itu, wartawan ini menjadi salah satu pemikir progresif yang paling banyak menyatakan pandangan tentang negaranya. Khashoggi sering dikutip media Barat sebagai seorang ahli radikalisme Islam.

Dia juga dipandang sebagai salah satu orang yang berada di dalam lingkaran dalam sistem Saudi karena banyak mengenal orang penting. Ia juga bergaul dengan keluarga kerajaan.

Khashoggi bekerja di sejumlah media Arab dan saluran TV, memulai karier sebagai wartawan asing sampai menjadi pemimpin redaksi.

Tetapi dia harus dua kali meninggalkan pekerjaannya di koran al-Watan, di tahun 2003 dan 2010, karena tulisannya yang kritis terhadap kelompok Islam yang mendominasi Arab Saudi, pendukung Salafisme yang dikenal akan pemahaman agama yang ketat.

Di antara tahun-tahun itu, Khashoggi meninggalkan Saudi untuk menjadi penasihat media Pangeran Saudi, Turki al-Faisal, mantan pemimpin intelijen yang menjadi duta besar Saudi untuk Inggris dan kemudian untuk AS.

Tahun 2010, miliarder Saudi, Alwaleed bin Talal menugaskan Jamal Khashoggi untuk memimpin stasiun TV barunya yang bermarkas di Bahrain.

Al-Arab dipandang sebagai saingan Al-Jazeera yang didanai Qatar.

Tetapi tidak lama setelah diluncurkan, stasiun TV baru di bawah pimpinan Khashoggi itu ditutup karena menyiarkan wawancara dengan tokoh oposisi Bahrain.

Sementara itu, Khashoggi juga memberikan sejumlah wawancara dengan media asing, mengecam monarki absolut Arab Saudi dengan mengatakan sistem demokratis diperlukan bagi kestabilan negara di masa depan.

Aksi simpatik dunia internasional terhadap kematian Jamal Khashoggi.

Ketika pergolakan Arab pecah, Khashoggi berpihak pada kelompok oposisi yang mendesak perubahan di Mesir dan Tunisia.

Pandangannya sangat bertolak belakang dengan kebijakan resmi Kerajaan Saudi, yang memandang pemberontakan Arab sebagai ancaman.

Pada bulan Desember 2016, ketika Putra Mahkota Saudi membina hubungan dengan presiden AS yang baru terpilih, Donald Trump, Khashoggi dilaporkan mempertanyakannya.

Sejumlah laporan media Arab mengisyaratkan tulisannya tentang masalah ini telah disensor.

Khashoggi juga kritis terhadap keputusan pemerintah Saudi yang memutus hubungan dengan Qatar. Dia mendesak kerajaan itu berteman dengan Turki terkait dengan sejumlah masalah kawasan. Negara itu dipandang dekat dengan Qatar.

Wartawan veteran ini lalu pergi ke AS pada bulan September 2017. Khashogi menuduh pemimpin de-facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, telah menindas para pemrotes.

“Saya meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya dan saya menyuarakan pandangan saya dengan tegas,” katanya,” jika tidak melakukannya sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak bisa.”

“Saya bisa mengatakan Mohammed bin Salman bertingkah laku seperti Putin. Dia menerapkan hukum dengan sangat berpihak,” tulisnya lewat kolomnya di Washington Post.

Khashoggi melanjutkan kritikannya terhadap pemimpin Saudi sampai dia memasuki gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul tanggal 2 Oktober 2018 untuk mengurus surat pernikahannya.

Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan pemerintah Turki memiliki rekaman suara dan video yang membuktikan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam konsulat dan tubuhnya dipotong-potong.

Pemerintah Arab Saudi kemudian mengakui Khashoggi dibunuh, tetapi membantah kasus pembunuhan itu sepengetahuan Pangeran Mohammed Bin Salman.

Menteri luar negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, dalam wawancara dengan stasiun televisi Amerika Serikat, Fox News, menegaskan penguasa de facto negara kerajaan itu, Pangeran Muhammad bin Salman, tidak mengetahui operasi pembunuhan Khashoggi.

Dalam wawancara itu, Adel al-Jubeir menyalahkan apa yang disebutnya sebagai “operasi jahat” di balik pembunuhan jurnalis senior itu yang kemudian dikecam oleh dunia internasional.

Dia juga menyatakan kasus pembunuhan ini merupakan “kesalahan besar” dan menolak anggapan bahwa Muhammad bin Salman yang memerintahkan operasi tersebut.

Arab Saudi berada dalam tekanan dunia internasional untuk menjelaskan latar belakang pembunuhan Khashoggi.

Pejabat keamanan Turki sejak awal meyakini bahwa Khashoggi dibunuh oleh agen intelijen Saudi di dalam gedung Konsulat.

“Kami bertekad untuk mengetahui semua faktanya. Dan kami bertekad untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata Adel al-Jubeir.

Walaupun demikian, al-Jubeir mengaku tidak tahu di mana jasad Khashoggi. Dia juga berkeras bahwa tindakan pembunuhan itu tidak diperintahkan oleh Pangeran Muhammad bin Salman, sosok yang sering digambarkan sebagai tokoh paling berpengaruh di negara itu.

Adel al-Jubeir mengatakan pihaknya telah menangkap 18 orang, dan memecat dua orang pembantu Mohammed bin Salman. Mereka juga menyatakan telah membentuk sebuah badan, di bawah kepemimpinannya, untuk mereformasi badan intelijen menyusul insiden tersebut.

Kematian Khashoggi juga mendapat perhatian Presiden AS, Donald Trump. Sabtu lalu, Trump mengatakan: “Saya tidak merasa puas sampai kita menemukan jawabannya.”

Tetapi dia mengatakan, walaupun pemberian sanksi kepada Saudi mungkin saja dilakukan, penghentian kesepakatan terkait persenjataan akan “menyakiti kami dan mereka”.

Inggris, Prancis, dan Jerman telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menuntut penjelasan lengkap tentang latar kasus tersebut, dengan mengatakan: “Tidak ada yang dapat membenarkan pembunuhan ini dan kami mengutuknya.”

Jamal Khashoggi semasa hidup.

Harian Washington Post, yang menerbitkan tulisan-tulisan Khashoggi, mengatakan pemerintah Saudi melakukan tindakan “memalukan dengan berulang kali berbohong”.

Kepolisian Turki masih melakukan pencarian jasad Khashoggi di kawasan hutan Belgrad di pinggiran Istanbul, yang diyakini sebagai lokasi pembuangan jasadnya.

Aparat kepolisian Turki juga melakukan pencarian di gedung Konsulat dan kediaman konsul Saudi.

Kantor berita Reuters menulis pihaknya telah berbicara dengan seorang pejabat Saudi yang mengatakan Khashoggi meninggal akibat dicekik setelah menolak dikembalilkan ke Arab Saudi.

Tubuhnya kemudian digulung dalam karpet dan diberikan kepada “operator” lokal untuk dibuang.

Seorang agen intelijen Saudi dilaporkan mengenakan pakaian Khashoggi dan meninggalkan gedung konsulat. (R/R)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!