Published On: Wed, Jul 18th, 2018

Kematiannya Diduga Tidak Wajar, Makam Warga Noenasi Dibongkar Polisi

Share This
Tags

Otopsi terhadap jasad Nikolas Bani, Rabu (18/7/18).

sergap.id, MIOMAFO – Nikolas Bani ditemukan sudah tidak bernyawa di area kebunnya di Oelile pada Kamis (12/7/18) sekira jam 12.00 Wita. Jasadnya kemudian dikebumikan pada Sabtu (14/7/18) sore.

Namun 5 hari kemudian, tepatnya Rabu (18/7/18) siang, makam warga Desa Noenasi, Kecamatan Miomafo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu di bongkar polisi guna dilakukan otopsi atau investigasi medis untuk memeriksa sebab kematiannya.

Sebab, keluarga korban menduga, korban meninggal tidak wajar. Apalagi saat pertama kali ditemukan, di tubuh korban terdapat luka sobek dan lebam pada mata bagian kanan, lebam pada lengan tangan kanan, serta terdapat bercak darah di kepala bagian belakang.

Informasi yang dihimpun SERGAP menyebutkan, semasa hidup, korban adalah salah satu perintis pemekaran Desa Noenasi dan pernah menjabat sebagai Kepada Dusun di Desa Noenasi.

Tapi semasa menjabat sebagai Kepala Dusun, gajinya tidak pernah dibayar oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Noenasi. Itu sebabnya, dalam rapat-rapat desa, korban sering melontarkan kritik kepada pemerintah.

Korban juga sangat kritis terhadap kepemimpinan Kepala Desa Noenasi yang kini sedang ditahan di tahanan Tipikor Kupang karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana desa yang belakangan berkaitan dengan kasus penculikan terhadap Richad Mantolas, bocah umur 4 tahun, anak kandung dari Kasi Pidana Khusus Kejari TTU, Kundrat Mantolas yang drama penculikannya berakhir pada Selasa (29/5/18) malam lalu.

Yosefina Bani, anak kandung korban, meminta polisi sedapat mungkin mengungkap penyebab kematian bapaknya.

Menurut Yosefina, dalam keseharian, ayahnya sangat sehat dan kuat. Tidak ada penyakit yang sedang mendera ayahnya.

“Walau umur bapak sudah tergolong tua (60 tahun), bapak tidak kenal lelah dalam bertani. Dia juga selalu aktif di Gereja atau acara di kampung ini. Bapak sehat dan tidak pernah mengeluh sakit,” papar Yosefina.

Kata Yosefina, Rabu tanggal 11 juli 2018 sekitar jam 06.32 Wita, ayahnya ke kebun. Siang harinya, ayahnya kembali ke rumah untuk makan siang, dan sore hari sekitar pukul 17.23 ayahnya kembali ke kebun dan tidak kembali ke rumah hingga hari berikutnya.

“Sehingga saya beritahu kepada keluarga untuk mencari bapak ke kebun. Kami sekeluarga kemudian ke kebun dan tiba di sana pada jam 12.00 Wita. Di kebun itu kami menemukan bapak sudah tidak bernyawa lagi,” ucapnya.

Kasat Reskrim Polres TTU, Iptu Nyoman Gede Arya.

Kapolres TTU, AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto melalui  Kasat Reskrim Polres TTU, Iptu Nyoman Gede Arya, menjelaskan, saat pernama kali korban ditemukan, pihaknya sudah melakukan visum luar, dan di tubuh korban terdapat luka sobek dan lebam pada mata bagian kanan, lebam pada lengan tangan kanan, terdapat bercak darah di kepala bagian belakang, serta pada ujung kaki kiri korban terdapat sepasang sendal plastik berwarna biru. Sementara di atas pagar terdapat sebilah parang  dengan gagang berwarna hitam yang panjangnya kurang lebih 50 centi meter.

“Hasil pemeriksaan medis oleh RSUD TTU belum kami terima, apakah si korban memiliki penyakit sejenisnya atau lainya, kita menunggu saja. Hasil otopsi hari ini akan membuktikan motif kematian yang dimana menurut keluarga korban tidak wajar. Sebagai pihak keamanan kami siap melakukan permintaan keluarga yaitu dilakukan otopsi. Otopsi dimulai dari jam 2 sore di lokasi pekuburan.  Prosesnya berjalan lancar hingga selesai,” kaya Nyoman. (sel/sel)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!