Published On: Mon, Nov 4th, 2019

Ketua BPD dan DPRD Minta Pemkab Nagekeo Atasi Krisis Air di Desa Riti

Anggota DPRD Nagekeo berdialog dengan warga Desa Riti di Pendopo Pastoran Paroki Riti, Jumat (1/11/19).

sergap.id, RITI – Krisis air bersih yang terjadi di Desa Riti, Kecamatan Nagaroro, mendapat perhatian serius dari DPRD Kabupaten Nagekeo. Buktinya, Jumat (1/11/19) kemarin, para wakil rakyat itu menemui warga Riti.

Krisis air tersebut menyedot perhatian banyak pihak, terutama netizen, setelah kasus ini diberitakan SERGAP pada edisi 29 Oktober 2019 dengan judul Krisis Air di Desa Riti, Warga Hanya Mengandalkan Ae Tolo.

“Jadi,,, hari ini, saya perintahkan komisi-komisi bersama dinas terkait untuk melihat lebih dekat tentang apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Riti secara keseluruhan,” ujar Ketua DPRD Nagekeo, Marselinus Adjo Bupu, kepada SERGAP, Jumat (1/11/19).

Benar saja, Jumat (1/11/19) siang, Ketua Komisi II Petrus Dua, Wakil Ketua Komisi lll Anselmus Waja, Anggota Komisi lll Kristomus Gore,  dan Anggota Komisi l Marius Mau, tampak berada di Desa Riti.

Keempat wakil rakyat yang berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil)  2 Nagekeo itu pun membawa serta  Kepala Seksi Operasi Pengairan Dinas PUPR Nagekeo, Syukur Seda, serta satu orang tenaga teknis survey sumber air minum.

Mereka berdialog dengan warga tokoh masyarakat Riti di Pendopo Pastoran Paroki Riti. Hadir pula Pastor Paroki Riti, RD. Yohanes Antonius Sangka.

Kristomus Gore, mengatakan, krisis air di Riti merupakan masalah mendesak yang harus segera diatasi. Sebab kebutuhan air adalah kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda-tunda penanganannya.

“Saya tahu dari dulu di Riti ini warga selalu mengeluh soal air, terutama di musim panas. Karena itu, pemerintah harus segera menyikapi ini,  sehingga ke depan warga tidak kesulitan air lagi,” katanya.

Politisi Partai Golkar ini menyarankan, jika pasokan air minum dari mata air di wilayah Desa Riti tidak mencukupi,  maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo harus mencari jalan untuk mendapatkan  pasokan air dari mata air di wilayah desa lain.

“Ini kebetulan ada orang dari PU, kalau memungkinkan nanti, kita ambil air dari mata air di Ladolima, tapi nanti disurvey dulu,” ujar Kristomus diamini Syukur Seda.

Syukur pun berjanji kepada warga Riti bahwa dirinya akan segera melakukan survey sumber mata air.

“Nanti hari Senin (4/11/1), bapak-bapak tunggu di sini,  nanti sama sama dengan tim ahli kita pergi survey,” ucapnya.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Riti, Simon Sidi, mengatakan, krisis air di desanya merupakan hadiah ulang tahun setiap tahun. Bahkan beberapa tahun terakhir, krisis air makin parah.

Sebab sumber mata air yang berada di Desa Riti, yakni Ae Tolo, Ae Oi, dan Ae Nggala debitnya terus menurun, bahkan mengering di musim kemarau.

“Krisis air di sini hampir setiap tahun. Yang paling parah itu di tahun 2015 lalu. Waktu itu semua tanaman mati kekeringan,” beber Simon.

Simon berharap Pemkab Nagekeo dibawa kepemimpinan Yohanes Don Bosco Do – Marianus Waja dapat meluncurkan program reboisasi atau penghijauan di sekitar lokasi mata air agar agar debit air stabil hingga musim kemarau.

“Kemarin di Musrenbang Desa, kita usulkan untuk program reboisasi, tapi kalau hanya mengharapkan dana desa, tampaknya tidak cukup. Kalau bisa pemerintah (kabupaten) bantu kami di pembibitan, anakan gayam atau tanaman yang biasa digunakan untuk penghijauan sumber mata air,” pintanya.

Simon juga berharap niat pemerintah membangun jaringan air bersih segera terlaksana agar mampu menyudahi krisis air di Desa Riti. (sev/sev)

Penulis/Penerbit

Silahkan Komentar Sesuai Topik Berita di Atas