Published On: Wed, Apr 12th, 2017

Pasar di Kabupaten Belu Ini Transaksi Pakai Dolar Amerika

Share This
Topik

Pasar Turiskain di tepi Sungai Malibaka / Foto: Danu Damarjati/detikcom.

sergap.id, TURISKAIN – Meski Dolar Amerika Serikat (AS) adalah mata uang asing bagi Indonesia, namun di sebuah pasar di Kabupaten Belu, dolar AS menjadi alat tukar utama.

Tepatnya Pasar Turiskain, letaknya di Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, yakni daerah yang berbatasan langsung dengan Maliana, Distrik Bobonaro, negara Timor Leste. Duit-duit dolar itu dibawa oleh warga Timor Leste yang menyeberang untuk membeli barang-barang di pasar itu.

Hari Jumat, hari Pasar Turiskain, matahari belum setinggi galah, namun terlihat ratusan orang dari Timor Leste berbondong-bondong menyeberangi Sungai Malibaka demi mencapai Pasar Turiskain. Mereka memilih belanja di Pasar Turiskain daripada di Pasar Maliana Timor Leste karena masalah selisih harga.

“Kita negara tetangga, di Indonesia lebih murah. Anak-anak harus punya pakaian sekolah, kami juga cari alat-alat dapur,” kata Nandi (28), seorang ibu asal Timor Leste.

Nandi dan suaminya, Claudio (29), membawa anaknya yang berumur dua tahun untuk belanja di Turiskain. Mereka berpendapat barang-barang yang dijual di Indonesia lebih awet selain harganya lebih murah.

Transaksi Dolar di Pasar Turiskain

Kaki mereka masih tercelup sebetis di sungai dan harus segera melanjutkan perjalanan. USD 100 yang mereka berdua bawa akan segera dibelanjakan. Ada pula Jecki (23) yang menyeberangi sungai untuk membeli pakaian. Pata (30), masih warga dari Timor Leste, mengakui barang-barang di Turiskain lebih bagus.

“Saya mau belanja baju batik untuk saya sendiri. Kemeja di sini bagus-bagus,” ujar Pata.

Sekadar perbandingan yang didapat dari sebagian penjual dan pembeli, kaos murah di Timor Leste seharga USD 2,5 dan di Turiskain seharga USD 1,5.

Di Timor Leste, televisi 32 inci dijual USD 200 dan di Turiskain harganya USD 150. Penerima (receiver) sinyal untuk televisi dijual USD 60 di Timor Leste, di Pasar Turiskain seharga USD 27.

Memang lapak alat elektronik terlihat ramai pembeli di pasar ini. Letaknya di tengah pasar, di bawah terpal biru. Segala macam barang elektronik ada di sini, di lapak yang dijaga Aksan. Terpajang di sini, televisi, radio, speaker, amplifier, kipas angin, hingga tetek bengek alat-alat listrik. Aksan terlihat sangat sibuk melayani pembeli sampai-sampai pembelinya terkadang harus ngotot agar Aksan menanggapi.

Lapak barang elektronik di Pasar Turiskain

“Ayo cepat, Mas! Saya harus kembali ini jam 11.00, gerbang mau ditutup,” kata Lina dari Maliana, Timor Leste. Dia, suami, dan dua anaknya harus segera pulang menyeberangi Sungai Malibaka lagi karena jadwal pos perbatasan tak bisa menunggu lebih lama lagi.

‘Mas’ adalah panggilan untuk orang luar Pulau Timor ini, biasanya untuk orang dari Pulau Jawa. Tak semua pedagang adalah asli Timor. Beberapa di antara mereka ada juga orang Bajo. Namun saat memanggil sesama orang Timor, mereka menggunakan sebutan ‘Kakak’. Mereka sudah terbiasa dengan keberagaman etnis.

Mas Aksan menggenggam berlembar-lembar uang dolar, rata-rata berupa pecahan USD 20. Aksan bahkan terlihat tak sempat duduk karena harus terus menerus melayani pembeli.

Barang besar-besar di depannya besar-besar, termasuk parabola dan speaker setinggi dada orang dewasa. Itupun laku juga dan diboyong pembeli untuk diseberangkan melewati Sungai Malibaka. “Kalau tadi dibawa itu speaker tipe baru, laku USD 100,” kata Aksan.

Tak semua pembeli di sini berbelanja hanya untuk kebutuhan pribadi langsung. Beberapa dari mereka sengaja kulakan di Turiskain untuk kemudian dijual lagi di Timor Leste. “Ini saya beli pakaian, total USD 300. Saya akan jual lagi di Pasar Maliana. Keuntungan bisa dua kali lipat,” kata Felicidade, ibu berusia 49 tahun, dibantu sejumlah koleganya.

Memang tak semua barang harus dibeli dengan dolar. Rupiah tetap berlaku, apalagi banyak juga pembeli dari teritori Indonesia sendiri. Selain dolar dan rupiah, ada pula mata uang centavos yang asli dari Timor Leste. Centavos digunakan untuk transaksi kecil-kecilan, 1 Centavos setara dengan 1 sen Dolar Amerika Serikat.

Mata uang Centavos di Pasar Turiskain

Di sini, ada pula orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang. Para money changer tak berkios ini berkeliaran saja di depan pasar. Beberapa pria yang menawarkan jasa itu mematok 1 USD sama dengan Rp 13 ribu.

Lalu untung dari mana? “Kita tukar lagi di Atambua (Ibu Kota Belu), Rp 13.200,” kata Anton (36), salah seorang yang menawarkan jasa penukaran uang. Dia sudah bekerja menawarkan jasa ini selama tiga tahun.

Abel (50), penjual jasa penukaran uang yang lain, hanya menukarkan uang ke Atambua bila duitnya sudah terkumpul sebanyak USD 2.000 atau USD 3.000. Abel mengaku, entah betulan atau tidak, nominal sebanyak itu bisa dia kumpulkan dalam tempo sebulan. Abel sudah enam tahun bekerja seperti ini.

“Sebulan sekali ke Atambua, kalau sudah terkumpul USD 2.000 atau USD 3.000,” ujar Abel.

Transaksi Dolar di Pasar Turiskain

Setelah para pelintas batas berbelanja, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif Raider 641 akan memeriksa Pas Lintas Batas atau paspor untuk warga Timor Leste yang hendak pulang. Prajurit TNI itu juga sesekali mengarahkan mereka ke petugas Bea dan Cukai. Barang-barang diperiksa. Ada barang-barang yang dilarang dibawa menyeberang dari pasar ke Timor Leste secara langsung, misalnya senjata tajam dan hewan melebihi jumlah tertentu.

“Ya kita nggak mempersulit, tapi ikuti prosedurnya,” kata petugas Bea Cukai RI di Pos Turiskain, Marsellus Seran.

Dalam Peraturan Bersama antara Indonesia dan Timor Leste tentang Perlintasan Tradisonal Perbatasan dan Pasar Tahun 2003, telah diatur, seorang pemegang Pas Lintas Batas tak boleh membawa uang melebihi USD 50 per kunjungan per hari. Setiap kali menyeberang, pemegang Pas Lintas Batas tak diperkenankan membawa lebih dari lima ekor ternak atau binatang lain yang berkaki empat. Barang-barang yang dilarang melintasi perbatasan adalah BBM, senjata api, narkoba, alat tentara, alat komunikasi HF dan VHF, barang subsidi, hasil tambang, hingga produk kayu cendana. Bila melanggar, penggunaan Pas Lintas Batas akan dihentikan sementara oleh pihak berwenang. (Cis/Detik.COM)

Penulis/Penerbit: