Published On: Wed, Mar 13th, 2019

Pastor Asli Jawa Ini Pernah Menyerahkan Kepalanya Kepada Jepang

Share This
Tags

Romo Albertus Soegijapranata (Alm)

sergap.id, KISAH – Hubungan Presiden Soekarno dengan Romo Albertus Soegijapranata, S.J memang terbilang unik, dekat dan saling memahami.

Romo selalu memanggil Bung Karno dengan panggilan hormat ‘Bapak Presiden’, sementara sang Presiden memanggilnya dengan sebutan ‘Romo Kanjeng’.

Telah berulangkali Bung Karno meminta Romo untuk memanggilnya cukup dengan ‘Bung’ saja, tetapi Imam yang akrab disapa umat dengan panggilan Romo Soegija ini tetap memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak Presiden’.

Pastor ini pernah “menyerahkan” kepalanya pada tentara Jepang saat gereja Keuskupan Semarang akan diambil alih oleh Jepang dengan menghardik tentara Jepang, “Ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin. Penggal dulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya!”.

Dan, akhirnya Jepang angkat kaki.

Ketika mendengar Proklamasi dikumandangkan Bung Karno, Romo Soegija berkata, “Mestinya umat Katolik berterima kasih buat Republik Indonesia yang diproklamasikan secara sepihak itu, bahwa semestinya mereka tidak menolak Republik, tetapi memberikan bantuan dan dukungan kepadanya. Kami berjanji akan bekerja sama dengan semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan kemerdekaan teguh dan kemakmuran negara.”

Bung Karno yang mendengar pernyataa Romo itu tertegun dang mengangguk-angguk.

Ya hubungan keduanya memang sangat akrab. Jiwa nasionalisme keduanya benar-benar senyawa.

Saat Bung Karno ditahan Belanda di Prapat dan Bangka dari bulan Desember 1948 sampai dengan Juli 1949, jarang ada yang tahu bahwa Romo Soegija lah yang mengurus rumah serta  makanan sehari-hari bagi Ibu Fatmawati serta anak-anaknya.

Sedihnya, pada tanggal 22 Juli 1963, ketika Bung Karno masih tertidur, ia dibangunkan oleh ajudannya dan menyampaikan berita mengejutkan bahwa sahabatnya, Romo Soegija, telah berpulang.

Ya, dalam perjalanan menuju sidang kedua Konsili Vatican, Uskup Soegija meninggal dunia di Steyl, Belanda, dalam usia 66 tahun.

Mendengar berita itu, Bung Karno langsung memerintahkan orang – orangnya di Belanda untuk membawa pulang jenazah sang Uskup ke Indonesia.

Padahal sebuah tempat di Vatikan sudah disiapkan untuk makam Uskup pribumi pertama dari Indonesia itu. Tapi Bung Karno ngotot meminta agar makam sang Romo harus di Tanah Air.

Pada tanggal 26 Juli 1963, saat pesawat yang membawa sang Uskup masih dalam perjalanan ke Indonesia, Bung Karno menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Romo Soegija.

Jenazah sang Uskup akhirnya tiba di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, dua hari kemudian.

Diantara makam-makam yang sederhana dengan bentuk yang hampir sama, berdirilah makam yang berbeda. Bung Karno menyumbang uangnya sendiri sebesar Rp 1.000.000,- untuk membangun sebuah makam peringatan di atas bukit kecil.

Pada batu nisan tertera riwayat hidupnya dan juga lambang bintang Pancasila. Pada keempat tiangnya tertera tempaan besi keempat lambang Pancasila lainnya.

Sebuah pengenang untuk pernyataannya yang terkenal: 100 % Indonesia dan 100 % Katolik.

Romo Soegija tidak berasal dari keluarga Katolik. Agama Katolik, waktu Soegija masih kecil, baru sukses membaptis beberapa keluarga di Jawa.

Romo Albertus Soegijapranata foto bersama Bung Karno tahun 1947 (Sebagian menyebut foto ini diabadikan pada tanggal 17 Agustus 1950).

Soegija terlahir dari keluarga berlatar belakang Islam Jawa. Keluarga Soegija yang berasal dari Surakarta, kemudian hijrah ke Yogyakarta.

Di kota itulah Soegija bertemu dengan Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith yang sedang merekrut calon murid sekolah guru di Muntilan. Kala itu, Soegija bersekolah di sekolah dasar Volkschool di Lempuyangan, Yogyakarta.

“Pastur van Lith mendatangi sekolah tempat belajar pemuda Soegija,” tulis Anhar Gonggong dalam Mgr. Soegijopranata – Antara Gereja & Negara (1993:10-14).

Soegija tak berkeberatan belajar di sekolah katolik milik Serikat Jesuit tersebut.

Pemuda kelahiran 25 November 1896 itu berasal dari keluarga abangan yang dekat dengan Islam. Dia sendiri keturunan Kyai Supa, seorang tokoh Islam terkenal Mataram.

Usia Soegija kala itu masih 13 tahun. Tidak lama di sekolah itu, pada 24 Desember 1909, dia pun dibaptis. Dia dapat nama baptis Albertus. Setelah 1915 dia merasa terpanggil untuk menjadi imam Katolik setelah setahun mengajar.

Untuk memperdalam agama Katolik, sejak 1916 hingga 1919, dia menjalani pendidikan imamat. Dia juga belajar dari JAA Mertens soal bahasa Latin dan Yunani.

Soegija kemudian belajar di Negeri Belanda juga pada 1919.

Sebelum masuk Novisiat, Soegija menyelesaikan dulu pembelajaran bahasa latin dan Yunani di Gimnaisum Orde Salib Suci.

Barulah pada 27 September 1920, dia masuk Novisiat Jesuit di Mariendaal, Grave.

“Ia mengikuti pelajaran filsafat di Oudenbosch, lalu mengikuti novisiat (masa percobaan bagi orang yang baru masuk biara),” tulis Harry Poeze dkk, dalam buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008:233).

Tentang Soegija, Poeze mencatat, “pendidikan yang ditempuh Soegija bisa menjadi model bagi pendidikan orang-orang jesuit Jawa angkatan pertama […] sesudah diterima di dalam ordo tidak langsung melanjutkan ke pendidikan Pastur, melainkan bekerja praktik dahulu.

Soegija baru pulang sebagai frater pada 1926 untuk mengajar di Sekolah Guru Muntilan, namun pada 1928 dia kembali lagi Negeri Belanda dan belajar di Maatstricht. Dia kembali lagi ke Jawa pada 1933.

Menurut catatan Poeze, Soegija pernah menulis sebuah cerita bersambung di St Claverland pada 1926. Cerita berjudul “Santoso” itu, berkisah soal perjalanan kaki Santosa dari Kediri ke Muntilan. Santoso ingin belajar di sekolah guru Muntilan. Kisah lakon itu agak mirip kisah hidup Soegija sendiri.

Soegija bukan orang Indonesia pertama yang jadi pastur. Poeze dkk menyebut Fransiscus Xaverius Satiman sebagai “pastor pertama Indonesia.” Tapi, Albertus Soegijopranoto adalah orang Indonesia yang menjadi Uskup pada 1940. Itu adalah titimangsa saat Belanda diserang tentara Jerman.

Paus Pius XII mengangkat Soegija menjadi Uskup Agung untuk daerah Vikariat Apotolik Semarang pada 1 Agustus 1940, dan dilantik pada 6 November 1940.

Wilayah apostolik Semarang meliputi daerah keresidenan Semarang. Tak hanya kota dan kabupaten Semarang, tapi juga Jepara, Rembang, Temanggung, Magelang, Yogyakarta dan Surakarta.

Kala itu, “Orang Katolik berbangsa Eropa pada tahun 1940 sebanyak 15.824 orang dan orang Katolik pribumi ditambah orang Cina berjumlah 25.278 orang,” catat Anhar Gonggong (1993:36).

Pengangkatannya dianggap jalan aman agar agama Katolik yang sebelumnya banyak dipimpin oleh orang-orang Belanda atau Eropa lain tak dianggap agama Eropa, yang jadi musuh Asia Timur Raya.

Dengan posisi itu, dia harus menjadi pemimpin umat di masa perang, setidaknya sejak Perang Pasifik dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Itu adalah satu dekade perang yang banyak mengubah jalan sejarah di Asia dan Afrika.

“Kegiatan-kegiatan Mgr Soegijopranoto terutama berupa usaha pemeliharaan dan pembinaan rohani umatnya di tengah pergolakan masa itu,” tulis Romo Budi Subanar dalam pengantar buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang: Catatan Harian Mgr. A. Soegijapranata, S.J., 13 Februari 1947-17 Agustus 1949.

Setiap hari, di masa-masa perang itu, Soegijo mempersembahkan misa. Dia kerap memimpin sakrame-sakramen—mulai dari baptis, tobat, perkawinan. Tak hanya memimpin misa, tapi juga bertemu dengan orang-orang penting. Setelah Perang Dunia II rampung pada 1945, maka Indonesia menyatakan diri merdeka di tahun yang sama. Namun, ambisi Belanda untuk menguasai kembali Indonesia, membuat konlik terjadi antara Indonesia-Belanda.

“Banyak orang-orang Katolik dari daerah Republik yang meninggalkan tempatnya untuk mencari kehidupan yang lebih aman yaitu dengan pindah ke Semarang,” tulis M. Henricia Moeryantini dalam Mgr. Albertus Soegijapranata S.J. (1975:50).

Kehidupan di daerah pendudukan Belanda tergolong aman secara ekonomis. Soegijo malah berpikir sebaliknya. Dia memilih sengsara bersama Republik.

Dukungan Mgr Soegijopranoto terhadap Republik Indonesia (RI) sangatlah jelas. Setelah ibukota RI pindah ke Yogyakarta dari Jakarta, Soegijo juga pindah ke Yogyakarta dari Semarang, sejak 13 Februari 1947.

“Seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia,” kata Soegija.

Kalimat itu belakangan jadi semboyan orang Katolik Indonesia terhadap kemerdekaan Indonesia.

Banyak pemuda terpelajar Katolik yang bergabung dengan Republik, bahkan juga ada yang gugur untuk Republik Indonesia.

Sebutlah Agustinus Adisucipto atau Ignatius Slamat Rijadi. Berita sedih, tentang gugurnya Adisucipto ketika ikut pesawat pengangkut obat-obatan tertembak di Yogyakarta, tentu sampai ke Soegija.

Atas serangan militer Belanda dia bereaksi. Apa yang dilakukan Belanda, seperti ditulis JB Sudarmanto dalam Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia (2007:442), “mendatangkan kesusahan dan penderitaan kepada beribu-ribu orang, dan karenanya di masa mendatang tidak menguntungkan bagi kerja sama yang diharapkan akan berlangsung hangat atas dasar persamaan derajat menurut hukum dan keadilan.”

Soegija dianggap berjasa dalam mendapatkan dukungan dari Tahta Suci Vatikan untuk kemerdekaan Indonesia.

“Negara Vatikan adalah salah satu dari negara-negara (Eropa) yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” tulis FX Murti Hadi Wijayanto dalam Soegija in Frame (2012:138).

Saat itu Georges Marie Joseph Hubert Ghislain de Jonghe d’Ardoye menjadi perwakilan Vatikan untuk Indonesia.

Setelah pengakuan kedaulatan 1949 dan tentara Belanda diharuskan angkat kaki, Soegija kembali ke Semarang.

Romo Albertus Soegijapranata foto bersama Bung Karno tahun 1951.

Soegija terus memimpin umat Katolik, termasuk di masa perseteruan orang-orang Katolik dengan orang-orang komunis yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Romo Soegija dikenal sebagai pastor yang memakai kebudayaan lokal Indonesia, khususnya Jawa, dalam membumikan Katolik di Indonesia. Dia membolehkan wayang dan juga gamelan dalam dakwah-dakwah katolik. (abc)

Penulis/Penerbit

Silahkan Komentar Sesuai Topik Berita di Atas