Published On: Wed, Nov 1st, 2017

Peran Kaum Muda dalam Pusaran Pilgub NTT 2018

Share This
Tags

Bonefasius Sambo

sergap.id, OPINI – Siapa sih kaum muda itu? Apakah benar kaum muda itu sebangsa ras manusia yang dikenal memiliki idealisme, bernyali, berpikir reformis, dan kaum yang dilabeli agent of change?

Ah ternyata bukan. Kaum ini acap kali hanya dijadikan sebagai “alat” kampanye dalam setiap perhelatan pesta demokrasi. Mungkin juga nanti saat Pilgub NTT 2018 bergulir.

Walaupun kaum muda itu terlibat dalam praktek politik praktis porsinya kalau bukan sebagai relawan, ia hanya sebagai barisan peramai pawai kampanye dengan wajah dicorat-coret. Atau barisan pengendara motor berknalpot racing.

Lantas, apakah dia paham visi-misi calon pemimpinnya? Apakah dia mengetahui track record-nya ataukah integritas calon pemimpin tersebut?

Pertaruhan Idealisme

Jika kita mencermati historiografi kemerdekaan Indonesia dari masa pergerakan kemerdekan ternyata jejak-jejak perjuangan itu didominasi oleh elan kaum muda (pelajar/mahasiswa). Misal, gerakan yang diinisiasi oleh kaum muda itu berdirinya organisasi Boedi Oetomo 1908 sebagai embrio pergerakan kaum muda, dan puncaknya Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah dalam mempersatukan semua elemen kepemudaan yang pada saat itu berjuang masih mengusung semangat primordialitas. Dengan kata lain, sumpah pemuda adalah konsensus dari jong-jong yang merasa dirinya senasib dan sepenanggungan. Kemudian mereka berikrar bahwa mereka bersatu dalam: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa – Indonesia.

Lantas, apa mau pemuda saat ini hanya dijadikan pelengkap atau lebih parah lagi dicap hanya sebagai boneka-nya para politisi?

Sejatinya pemuda memiliki posisi tawar dalam dinamika perpolitikan tanah air termasuk dalam konteks politik lokal, Pilgub NTT. Terlalu sering kita melihat kaum muda hanya dijadikan peserta aksi kampanye akbar dalam suksesi pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati / walikota) selama ini. Secara kasat mata kita tak bisa bohong bahwa memang kaum muda hanya dijadikan sapi perah dalam suksesi politik.

Jika kita jeli melihat  pasca Pilkada tak ada sikap mutualistik kepada kaum muda yang sudah berkeringat dalam berjuang memenangkan kandidat tertentu. Mestinya partai politik (parpol) memberikan pendidikan politik atau partai politik melakukan rekrutmen dan kaderisasi kepada kaum muda potensial itu. Maksudnya, agar parpol mampu memunculkan calon pemimpin muda ke tengah publik sebagai figur alternatif.  Sayang, masih jauh panggang dari api. Malah yang muncul politisi yang itu-itu lagi.

Menuju konstestasi Pilgub NTT 2018 kaum muda perlu lebih bijak dan cerdas menghadapi situasi  politik yang “panas”.  Mungkin, tidak jauh beda dengan Pilgub DKI Jakarta 2017 beberapa bulan lalu. Isu-isu primordial (suku, agama, etnisitas, ras, warna kulit) santer akan dihembuskan. Apakah kaum muda akan terjerumus dalam debat kusir atau black campaign atau karena lost control ia akan mengeluarkan kata-kata rasis bahkan ujaran kebencian? Jika itu yang terjadi maka pertanyaannya dimana tanggungjawab intelektualmu?

Tanggungjawab Intelektual 

Hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Areopagus Indonesia menyimpulkan bahwa mayoritas netizen di NTT cenderung memilih kandidat seasal. Maksudnya sedaerah. Survai ini dipublikasikan pada bulan Mei 2017.

Karakteristik pemilih di NTT mayoritas pemilih tradisional. Bukan saja soal suku, tapi soal agama juga kental, termasuk peran tokoh-tokoh sentral di masyarakat sangat mempengaruhi perilaku pemilih.

Pengamat politik dari Universitas Nusa Cendana, Lasarus Jehamat mengungkapkan bahwa variabel etnis, agama dan efek nasional  menjadi rujukan bagi pemilih dalam menentukan calon gubernur NTT nantinya (VoxNTT, 4/9/2017).

Dengan dalil-dali di atas sudah bisa dipastikan Pilgub NTT 2018 akan menghadirkan tensi politik tinggi. Mengapa saya katakan demikian? Tahun 2018 tahun politik karena setahun berikutnya kita akan mamasuki pesta akbar demokrasi (pemilihan umum), dimana pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden akan dilaksanakan serentak. Jadi kemenangan kandidat di Pilgub NTT akan menjadi faktor dominan penentuan kemenangan calon presiden di Nusa Tenggara Timur tahun 2019.

Jadi tidak bisa dipungkiri kita akan menjumpai berbagai postingan berita, meme politik, tulisan hoax memenuhi jagat maya. Di grup-grup diskusi akan akan ada “perang” argumentasi dari masing-masing pendukung pasangan calon. Dan saya meyakini ini akan terjadi.

Sebagai kaum muda tentunya, Anda mesti menyiapkan langkah-langkah bijak dan cerdas. Peka terhadap situasi yang dapat menyebabkan konflik sosial dalam masyarakat lokal (NTT). Karena percikan api bermula dari sebuah titik kecil kemudian manjalar lalu membakar seluruh bangunan. Itu yang mesti dipahami.

Ada tiga tugas untuk kaum muda NTT sebagai bentuk kontribusi dalam menciptakan suasana Pilgub yang kondusif, bermartabat dan berkualitas.

Pertama. Kaum muda punya tanggungjawab dalam memerangi kampanye hitam (black campaign). Kita sepakat bahwa kampanye negatif itu diperlukan untuk membongkar sisi lemah atau kelemahan dari pasangan calon tertentu. Tapi kaum muda perlu menolak kampanye hitam.  Karena itu sifatnya membunuh karakter (character assassination) kepada pasangan calon tertentu. Kampanye hitam itu berisikan fitnah keji baik kepada pasangan calon itu sendiri maupun kepada keluarga mereka. Kampanye hitam ini bisa saja dibuat dalam bentuk meme atau karikatur yang sifatnya menyerang dan menghina kemanusiaan calon dimaksud. Ini melanggar etika – moral dan dilarang oleh agama.

Kedua. Melawan hoax. Hoax itu kabar atau berita bohong. Ini marak terjadi saat masa Pilpres 2014 dan di Pilgub DKI 2017. Berita-berita bohong ini di-share secara masif melalui media sosial. Sifatnya provokatif selain itu konten beritanya berisikan ujaran kebencian. Jika berita ini dibiarkan maka tak dipungkiri bisa menyebabkan konflik antarpendukung. Hal ini harus dihindari oleh semua masyarakat pemilih. Kaum muda harus menjadi pencerah dengan membagikan berita-berita yang berasal dari portal berita yang kredibel. Jangan sampai menjadi bagian kaum sumbu pendek yang cepat meleduk.

Ketiga. Mejaga persatuan dan kesatuan bangsa.  Pada akhirnya kita harus mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. Yaitu, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kaum muda perlu memiliki kesadaran  kolektif sebagai anak bangsa karena pesta demokrasi seperi Pilgub NTT adalah pesta lima tahunan. Sifatnya sementara. Yang namanya pesta demokrasi itu adalah pesta rakyat, penuh kegembiraan.  Untuk apa kita baku marah, untuk apa kita bermusuhan toh kita adalah saudara sedaerah.  Jika kita berbeda dalam agama toh kita adalah saudara dalam kemanusiaan – Imam Ali bin Abi Thalib. Di dalam politik kita berbeda dalam Tuhan kita sama, ihwal ini disampaikan oleh Esthon Foenay dalam debat Pilgub 2013.

Kaum muda NTT harus berdiri di garda terdepan dalam menggelorakan prinsip-prinsip kebebasan (liberte), keadilan (egalite), dan persaudaraan (fraternite). Jangan menjadi kaki tangan kelompok sumbu pendek. Spirit dan idealisme kaum muda harus dikonkretisasikan dan diaktualisasikan dalam konteks kekinian, artinya apa? Urusan kaum muda bukan saja soal politik tapi banyak seperti masalah TKW, degradasi moral, korupsi, radikalisme, anarkisme, dan lain-lain.

Dengan demikian tugas kaum muda adalah menjadi cahaya dalam kontestasi Pilgub NTT 2018. Karena didalam diri kaum muda ada potensi kebaruan. Bung Karno pernah bilang ada inpotentia di dalam diri kaum muda, jiwa pembaharu. Salam Damai. (Penulis: Bonefasius Sambo, Pegiat Sosial Media, tinggal di Waingapu – Sumba Timur)

Penulis/Penerbit