Published On: Fri, Oct 18th, 2019

Pers Timor Leste Peringati Tragedi Balibo Five, Jangan Salahkan Kopassus

Share This

Sekretaris Negara Komunikasi Sosial Timor Leste, Mericio Juvinal Dos Reis Akara saat memberikan keterangan pers pada hari peringatan tragedi Balibo Five 2019.

sergap.id, DILI – Rabu (16/10/19) kemarin, Pers Timor Leste memperingati peristiwa tewasnya lima wartawan asing di Balibo, Timor Leste, pada 16 Oktober 1975. Kejadian ini dikenal sebagai tragedi Balibo Five.

Kelima wartawan yang diduga dibunuh oleh pasukan bersenjata itu adalah Greg Shackleton (29) dan Tony Stewart (21) dari Australia, Gary Cunningham (27) dari Selandia Baru, Brian Peters (24) dan Malcolm Rennie (29) dari Inggris.

Peringatan ke 44 yang dipusatkan di Balibo tersebut diikuti oleh seluruh wartawan di Timor Leste, sejumlah wartawan dari Australia dan Indonesia, diantaranya wartawan SERGAP.

Selain berdoa dan bakar lilin, para wartawan juga menabur bunga di sebuah rumah tua, tempat Greg Shackleton cs dieksekusi mati pada tanggal 16 Oktober 1975.

Ketua Dewan Pers Timor Leste, Virgilio Da Silva Guteres, mengatakan, selain memperingati kematian lima wartawan itu, kegiatan ini juga bertajuk stop kekerasan terhadap wartawan. Sebab wartawan adalah corong informasi yang mesti dilindungi oleh semua pihak.

“Mewakil wartawan Timor Leste, kami ucapkan terima kasih kepada wartawan asal Indonesia yang turut hadir dalam momentum memperingati 44 Tahun ini,” ujar Virgilio.

Virgilio mengajak seluruh bangsa bergandengan tangan bersama wartawan membangun peradaban yang damai.

“Tragedi 44 tahun silam itu menjadi sejarah. Semoga hal serupa tidak terjadi lagi. Sekarang waktunya membangun bangsa dan daerah yang damai, hindari konflik serupa,” pintanya.

“Mereka (5 wartawan) adalah pejuang, sekaligus motivator bagi wartawan di dunia yang berani korbankan nyawahnya demi mendapatkan berita,” kata Virgilio.

Sementara itu, Sekretaris Negara Komunikasi Sosial Timor Leste, Mericio Juvinal Dos Reis Akara, mengucapkan selamat datang dan salam hormat kepada wartawan negara tetangga yang hadir dalam acara peringatan tragedi Balibo Five 2019.

Dia berharap, kasus serupa tidak terjadi lagi di era modern saat ini.

Kedepan, kata Mericio, pihaknya akan terus membangun kerjasama dengan Kominfo Indonesia maupun Provinsi NTT demi terciptanya suasana damai.

Peringatan Tragedi Balibo Five 2019.

JANGAN SALAHKAN KOPASSUS

Terbunuhnya lima wartawan di Kota Balibo telah mencoreng nama tentara Indonesia yang dikirim ke Timor Leste saat itu.

Militer Indonesia mengatakan lima wartawan tersebut tewas setelah terjebak dalam pertempuran sengit antara TNI dan Falintil.

Namun tahun 2007 lalu, tim forensik asing menemukan kelimanya tewas dieksekusi, dan bukan tidak sengaja tertembak seperti informasi yang beredar di Indonesia saat ini.

Walau begitu, Kepolisian Federal Australia (AFP) telah menghentikan penyelidikan atas tewasnya lima wartawan itu, karena kekurangan bukti. Sikap AFP ini memicu kekecewaan banyak pihak, terutama keluarga para wartawan yang terbunuh.

Mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Kolonel (Pur) Gatot Purwanto, merupakan salah satu Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di Bumi Loro Sae saat itu.

Pada tahun 2009, Gatot mengakui kepada media Australia bahwa dia adalah salah satu mantan tentara yang terlibat dalam pertempuran berdarah di Balibo dan menewaskan lima wartawan.

Kepada CNN Indonesia pada Rabu (22/10), Gatot menceritakan kembali pengalamannya dalam peristiwa yang dikenal dengan nama “Balibo Five” itu.

  • Bisa diceritakan apa yang terjadi di Balibo tahun 1975?

Sebagai anggota Kopassus, saya ditugaskan ke daerah konflik. Kebetulan saya termasuk salah satu orang pertama yang dikirim dalam pasukan tertutup Kopassus, atau yang lebih dikenal dengan Tim Susi pada tahun 1975.

Saat itu, ada tiga tim kopassus yang dikirim ke sana, yaitu Susi, Tuti dan Umi.

Satu tim Susi hanya berisi maksimal 64 orang. Tugas kami adalah mengumpulkan informasi dan menyamar, tidak menggunakan nama asli.

Kami tidak memakai seragam Kopassus, sehingga kami dikenal dengan nama pasukan ‘blue jeans’. Kami juga tidak menggunakan nama asli kami. Saya kerap dipanggil Aseng di sana. Waktu itu, saya menjabat sebagai perwira komando yang paling muda.

Tim Susi ditugaskan sebagai motivator atau sukarelawan. Kami tidak tahu ada orang asing di situ sebelumnya, apalagi wartawan.

Bersama pasukan UDT (Partai Persatuan Demokrat Timor Timur) UDT dan APODETI (Asosiasi Demokrasi Populer Timor Timur), kami diperintahkan untuk ikut membantu dalam pertempuran Balibo, total jumlah kami saat itu sekitar 200 orang.

Menyerbu Balibo memang inisiatif dari pihak Indonesia, untuk membantu menguatkan garis pertahanan kita.

Ketika baku tembak dengan pasukan pemberontak terjadi, masing-masing dari kami, termasuk UDT dan APODETI memiliki senjata, sehingga setiap orang bebas menembak ke mana saja ke arah garis pertahanan lawan.

Kami berhasil merebut ketinggian yang menjadi batas pertahanan lawan, kami melihat di antara mayat tersebut ada orang bule.

  • Anda tahu mereka wartawan asing?

Kami tidak tahu ada orang asing di situ sebelumnya, apalagi wartawan.

Berita yang beredar saat ini adalah kami (Kopassus) menembaki ratusan orang, termasuk para wartawan asing. Itu tidak benar.

Pertempuran di Balibo adalah upaya bela negara. Dan, seperti yang tadi saya katakan, Kopassus bersama dengan ratusan orang dan masing-masing memegang senjata.

  • Lalu kenapa hanya Kopassus yang disalahkan?

Semua peluru dari semua senjata mungkin saja mengenai para wartawan asing itu. Tidak ada maksud untuk membunuh para wartawan.

Kami saja tidak tahu ada wartawan, apalagi berniat membunuh mereka. Tidak seperti yang diceritakan dalam film Balibo Five. Namanya pertempuran, ya tidak ada yang bisa menembak jarak dekat seperti dalam film itu.

Memang, setelah kami berhasil mencapai garis pertahanan lawan dan melihat jenazah asing, para tentara kami menjarah beberapa mayat, jam dan dompet.

Saya cuma dapat filmnya (kamera) salah satu wartawan. Saat itu orang-orang bilang saya bodoh, karena hanya dapat kamera.

  • Lalu, apa yang terekam oleh kamera itu? Ada foto-foto perang?

Saya tidak pernah membuka kamera yang bentuknya kotak kaleng itu. Saya tidak mau tahu juga di dalamnya ada apa. Saat ini kameranya ada di rumah saya, jadi ganjalan pintu.

  • Apa yang tim Anda lakukan terhadap jenazah wartawan asing itu?

Pimpinan menyuruh kami membakar mayat-mayat itu untuk menutupi bukti. Itu intruksi pimpinan kami saat itu. Dia tidak mengira sama sekali bahwa dalam lini pertahanan itu ada wartawan, apalagi wartawan asing.

Yang kami bakar saat itu kan orang yang sudah meninggal, sudah menjadi mayat. Jadi kita tidak membakar mereka hidup-hidup.

Pimpinan kami, Pak Yunus Yosfiah sampai dimarahi oleh Kolonel Dading Kalbuadi terkait wartawan asing tersebut. Mau bagaimana lagi, kami benar-benar tidak tahu ada wartawan asing.

  • Pernahkah ada wartawan asing yang mendatangi atau mencari informasi ke Kopassus di sana?

Peringatan Tragedi Balibo Five 2019.

Tentu tidak, kan kami beroperasi di dalam hutan dan bergerilya ke dalam pelosok. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa wartawan berada di lokasi pertahanan paling depan tentara musuh. Seharusnya mereka tidak boleh ada di situ. Setahu saya, tempat wartawan berada di pinggir kota, dekat gereja.

  • Saat bertugas di sana, Anda sempat bertemu dengan Xanana Gusmao. Apa yang waktu itu Anda bicarakan?

Kami bertemu beberapa kali di dalam hutan. Saya selalu didampingi oleh lima orang pasukan saya. Namanya sedang perang, saya dan Xanana saling mempengaruhi.

Saya berusaha mempengaruhi dia agar perang segera dihentikan, dia pun ingin hal yang sama. Tetapi banyak hal yang belum bisa kami sepakati saat itu.

Sebenarnya, jika ekonomi Indonesia saat itu baik, Xanana pernah berpikir untuk meminta otonomi daerah saja. Namun saat itu, tahun 1980 ekonomi Indonesia juga sedang turun, itu juga jadi salah satu alasan pengurangan pengiriman pasukan ke Timor Leste (Timor Timur).

  • Mengapa Anda berani mengungkapkan kasus ini?

Semua orang sudah tahu tetang Balibo, mengapa harus ditutup-tutupi? Cerita yang beredar sudah menjadi simpang siur dan ditambahi bumbu-bumbu. Saya ingin mengungkapkan apa adanya, sehingga tidak serta merta Kopassus disalahkan.

  • Kepolisian Australia menutup penyelidikan kasus ini, respon Anda?

Sebenarnya saya gembira, karena sudah tidak akan ada lagi pernyataan dan pengusutan lebih lanjut.

  • Apakah benar dihentikannya penyelidikan karena kurang bukti?

Mungkin juga karena kurang bukti. Karena bagaimana bisa dibuktikan peluru yang mengenai wartawan itu dari senjata siapa?

  • Apakah Anda pernah ditanyai oleh pemerintah Australia terkait kasus ini?

Sampai saat ini belum pernah. Saya hanya pernah ditanyai oleh jurnalis dari beberapa media Australia. (sel/cnn)

Penulis/Penerbit

Silahkan Komentar Sesuai Topik Berita di Atas