Published On: Sat, Feb 10th, 2018

Pilgub 2018: Marianus Sae Kuat di Flores, Esthon Foenay Unggul di Timor

Share This
Tags

Marianus Sae saat berkunjung ke Sumba, Rabu (7/2/18).

sergap.id, KUPANG – 4 pasang cagub-cawagub bakal merebut suara di basis yang sama. Beny Harman dan Chris Rotok akan saling kebut merebut suara di Manggarai, Marianus Sae – Yoseph Nae Soi di Bajawa, dan Eston Foenay – Viktor Laiskodat – Beny Litelnoni – Emi Nomleni  di Timor.  

“Mereka petarung Jeruk Makan Jeruk.  Alasannya adalah Manggarai lawan Manggarai, Bajawa lawan Bajawa, dan Timor lawan Timor,’ ujar pengamat politik asal Universitas Muhammadyah Kupang, Dr. Ahmad Atang kepada SERGAP di Kupang, Kamis (8/2/18).

Kata Ahmad, Esthon adalah mantan birokrat yang sangat flamboyan dan rendah hati. Tetapi publik juga tidak hanya melihat sisi positif itu, tetapi dengan topografi NTT yang begini luas, publik merasa bahwa sebenarnya NTT butuh figur calon gubernur yang energik, memiliki semangat politik yang tinggi, dan mampu menciptakan akselerasi pembangunan.

Ketika itu dikombinasikan dengan umur Esthon hari ini (68 tahun), publik menganggap tanggung jawabnya terlalu berat untuk usia dia seperti itu. Esthon juga terbentur issue-issue yang bias dari Pilkada DKI yang kemudian melatarbelakangi partai politik yang berbasis Islam dan sangat resisten dengan calon gubernur yang non Islam.

Itu memang sedang dikampanyekan. Termasuk PKS. Beny Harman. Ini yang kemudian terjadi pertautan antara kepentingan yang bersinggungan dengan Parpol. Itu menjadi rentan terhadap figure yang maju. Tetapi semua itu kembali ke persepsi publik.

Kalau publik menganggap bahwa isu yang dimainkan itu untuk kepentingan politik, justru itu akan menarik perhatian publik. Malah orang-orang yang tersandera masalah justru dianggap bagian dari politik penzaliman. Empati publik bisa muncul karena itu.

Marianus Sae saat nonton Pasola di Sumba.

Saya selalu mengatakan untuk selalu hati-hati mengemas isu dan jangan sampai membunuh karakter. Ketika publik menganggap itu bagian dari cara-cara mencari kekuasaan yang tidak beradab, itu orang yang dibully akan mendapatkan simpati publik.

Situasi yang sedang berkembang ini, pada akhirnya publik yang akan menyeleksi informasi tersebut benar atau salah. Jika informasi itu benar maka kebenaran itu akan menurunkan minat dia untuk memilih. Tetapi kalau dianggap itu salah dan hanya sebatas untuk menjatuhkan lawan, maka orang itu akan mendapatkan simpati.

Terlepas dari itu, trend demokrasi saat ini adalah trend koalisi yang satu berbasis oposisi, yang satu berbasis pro pemerintah, dan yang satunya lagi berbasis abu-abu.  Beny Harman ada di posisi abu-abu dengan pemerintah. Viktor dengan Marianus di koalisi pro pemerintah pusat, sedangkan oposan itu ada di Esthon karena di situ ada Gerindra dan PAN.

Ini kalau dibuat polarisasi politik, publik tidak terlalu melihat itu sebagai bagian dari preferensi politik. Dengan melihat beberapa pengalaman pemilihan langsung sejak tahun 2005 sampai sekarang, itu kekuatan yang sangat berpengaruh terhadap preferensi politik. Itu sebetulnya ada pada politik identitas. Bukan pada politik transaksional, apalagi politik-politik yang berbau saingan kepentingan politik nasional.

Emi Nomleni saat road show ke Sumba, Kamis (8/2/18).

Karena demokrasi kita hari ini sebetulnya demokrasi yang bergeser dari demokrasi institusi ke demokrasi individu. Demokrasi yang berbasis representasi ke demokrasi yang berbasis demokrasi partisipatoris. Kemudian figur itu menjadi lebih utama dari parpol. Parpol itu kan gerbong politik. Parpol besar sekali pun belum tentu figurnya menang. Ini sebetulnya mengemas politik kita hari ini menjadi politik pilihlah Aku, bukan politik pilihlah kami.

Maka kapasitas figur, popularitas, serta elektabilitas menjadi yang utama. Sehingga menjadi domain untuk kita melihat peta kekuatan masing-masing pasangan calon.

Karena demokrasi berbasis figur, maka kekuatan politik cultural sangat berpengaruh terhadap cara pandang masyakat terhadap calon. Orang Manggarai cenderung memilih orang manggarai. Orang Bajawa memilih orang Bajawa. Begitu pun orang Timor akan memlih orang Timor.

Kalau itu yang kemudian menjadi basis analisis, maka Manggarai dengan jumlah pemilih yang hampir 590.000 pemilih diperebutkan oleh Chris Rotok dengan Beny Harman. Jika pandangan pemilih lebih memilih Gubernur daripada Wakil Gubernur, maka Beny dapat mengambil suara di Manggarai lebih dari 50%. Kalau itu yang dilakukan dan menjadi model, maka tentu Manggarai sudah ada 300 ribu lebih pemilih di tangannya. Tinggal bagaimana Ia berkompetisi ke luar untuk mengambil sedikit-sedikit yang berada di Kabupaten lain. Jadi,,, modal utama Beny sudah ada.

Marianus Sae saat mengunjungi Pulau Sumba.

Mengenai Marianus Sae, pemilih di Bajawa113.00 diperebutkan dua orang, taruhlah Marianus mengambil 80%, itu tidak sampai 100 ribu. Berarti kemampuan dia untuk mencari tambahan suara lebih berat dibandingkan dengan Beny.

Itu menjadi pokok permasalahannya. Sedangkan keberhasilan seorang Marianus di Ngada, saya tidak melihat itu sebagai preferensi publik. Tetapi lebih kepada ikatan identitas yang kemudian orang melihat figur. Apakah ini menjadi isu politik primordial? Sangat tepat! Primordial itu bagian dari politik karena primordial itu sesuatu yang given.

Anda lahir sebagai seorang Katolik, tidak ada protes dari yang lain. Itu yang disebut primordial. Anda lahir sebagai orang Flores, Anda tidak dapat protes. Itu yang disebut primordial. Tetapi politik identitas itu berbasis agama, berbasis etnis, dan berbasis budaya. Itu bisa menjadi identitas politik kalau kekuatan itu di eskploitasi dan dimanfaatkan menjadi isu pokok politik.

Nah hari ini sebetulnya kita sedang mengemas identitas-identitas lokal menjadi tujuan dan kepentingan politik. Karena itu prestasi orang bukan serta merta menjadi rujukan utama bagi orang Timor untuk memilih Marianus.

Bahwa dia memiliki prestasi ya itu silahkan, sebab itu kekuatan lainnya. Prestasi itu untuk kepentingan orang di  Kabupaten Ngada di sana. Itu kemudian memperlemah cara pandang publik soal prestasi figur itu.

Yang lebih dekat itu sebetulnya politik identitas berbasis kultur. Karena itu bagi saya di Flores itu pemain utamanya hanya ada di Manggarai dan Bajawa. Tetapi dari Ende sampai Lembata dan Alor, itu adalah daerah bebas. Di situ pertarungan identitas politik, ideologis, prestasi sedang terjadi.

Kalau isu-isu strategis lokal itu juga turut mendukung, maka di basis utama mereka bermain politik kultural, tetapi di basis luar bermain politik ideologis, dengan memainkan isu kita satu agama misalnya. Itu masuk dalam politik territorial karena kita orang Flores sama-sama.

Oleh karena itu, di Timor sebetulnya antara Esthon dan Viktor dengan melihat pengalaman politik Pilkada dimana Esthon juga terlibat. Seorang Ibrahim Medah yang begitu kuat tidak mampu mengalahkan Esthon. Karena Pilkada pertama melawan Frans-Esthon, Timor unggul mendukung Frans dan Esthon. Ketika pilkada 2013 yang masuk ke putaran ke dua adalah Esthon versus Frans. Ibrahim Medah tidak masuk. Padahal Medah itu ketua Golkar dan basis kekuatan politik hampir seluruh Kabupaten ada dalam genggaman Golkar dan dia orang Rote yang jadi Bupati Kupang dua periode. Tetapi tidak menolong dia untuk bisa meraup suara Timor.

Kekuatan itu justru ada di lawannya Esthon itu, maka dengan perbandingan itu saya kemudian mengambil kesimpulan Esthon masih kuat. Kalau itu menjadi dasar maka secara geografis Sumba yang akan menentukan siapa yang menang.

Sebab Sumba menjadi daerah bebas. Ini menjadi logika politik untuk setiap panggungnya Esthon yang akan melawan Beny Harman dari pendekatan politik kultural. Tetapi kalau dari politik ideologis keagamaan saya kira Flores terlalu kuat untuk Marianus Sae.

Keunggulan Marianus Sae justru di sini, karena dia punya relasi keagaamaan yang bagus. Dan di Timor masih Esthon lah. Hanya bedanya kalau digunakan analisa politik identitas berbasis agama, maka orang Flores bisa merebut suara Timor. Karena TTU sampai dengan Malaka itu basis Katolik. Tetapi orang Timor tidak bisa merebut suara Flores, karena di sana tidak ada Kabupaten yang mayoritas Kristen Protestan kecuali Alor dan Sumba.

Marianus dan Emi dipermukaan tidak memainkan isu agama, tetapi hitungan pemilih berbasis etnis dan agama sedang digodok.

Dr. Ahmad Atang

Saat saya memberikan materi di PKS, saya paparkan semua data-data itu. Bagamana tipe pemilih Timor, dan lain sebagainya. PKS ini kan partai berbasis Islam. Saya ingatkan jika pemilih Muslim di NTT sekitar 370 an ribu tidak serta merta memilih figure yang di dalamnya ada yang dari Islam. Karena Islam NTT itu Islam urban bukan Islam Pribumi. Di Timor sendiri tidak ada Islam pribumi, semua Islam urban. Begitu pula di Flores, hanya Ende, Flores Timur, itu yang kemungkinan Islam pribumi. Tetapi Manggarai, itu Islam urban dari Bima, di Maumere Islam urban dari Sulawesi.

Soal isu ideologi, posisi Islam, mereka sangat tergantung pada wilayah domisili. Kalau dia Muslim Flores dia mesti memilih calon dari Flores. Kalau pun lintas itu juga memang benar-benar ada satu sentiment yang sangat kuat untuk dia tidak memilih orang Flores.

Maksud saya begini, pilihan utamanya orang Flores, tetapi kalau misalnya dia harus memilih orang Timor itu karena ada sesuatu yang dia rasakan supaya dia harus memilih orang Timor, misalnya ikatan emosional, hubungan perkawinan, atau karena calon itu pernah bantu di jasa social. Tetapi kalau hanya sekedar dia mau memilih orang Timor, saya kira dia akan berpikir lagi untuk memilih calon dari Flores.

Soal gaya politik Marianus yang melakukan road show dengan motor cross, Viktor laiskodat dengan artis, lalu Esthon dan Beny yang kelihatan adem ayem, saya melihat sebagai konsekuensi dari politik praktis. Ini konsuekensi demokrasi pilihlah aku. Maka setiap calon harus dikenal orang. Maka terjadilah prinsip siapa mengenal aku, atau aku mau dikenal, maka aku bertemu mereka.

Karena itu cara bagaimana mereka mensosialisasikan diri atau cara mereka menjual diri. Itu bagian dari strategi yang dilakukan.

Tidak perlu mengumpulkan massa, tetapi dia (Marianus) memperkuat basis dukungan dengan memanfaatkan jaringan partai, jaringan kekerabatan. Dari pada mengumpulkan massa dan menghabiskan uang banyak mending uang itu kita bentuk jaringan supaya semua orang bekerja.

Tetapi ada juga cara one man show, seperti yang dilakukan Marianus Sae dengan tour ke daerah-daerah. Ini adalah politik one man show, jual diri sendiri. Tidak perlu ada jaringan, pokoknya semua tempat dikunjungi dengan motor. Itu kan nyentrik dan unik. Cara ini dapat meraup dukungan massa tergantung cara menunjukkan diri ke publik bahwa saya inilah Marianus Sae, pilihlah saya.

Menarik juga itu Viktor. Sebab ada semacam politik massanya. Walaupun itu tidak dapat diklaim bahwa yang hadir ribuan itu menjadi massa real. Tidak sama sekali dan mesti disadari. Karena demokrasi di Indonesia ini adalah demokrasi yang menganut sistim massa mengambang atau floating mass.

Orang banyak hari ini datang berkumpul hadir di paket A, besok sudah datang di Paket B atau yang lainnya. Ini tidak bisa diklaim atau dijadikan jaminan karena banyaknya massa itu. Tetapi dengan menghadirkan massa yang banyak itu akan terjadi politik penciutan.

Saya menggunakan istilah ini karena kelompok Viktor yang hadir dengan ribuan massa akan dilihat paket lain. Nyali mereka menjadi kecil karena banyaknya massa yang ada. Ini metode mengumpulkan massa itu untuk menakutkan lawan.

Ini namanya politik massa. Dengan cara menghadirkan massa, secara psikologi akan mengganggu lawan. Namun sekali lagi saya katakana itu bukan jaminan mutlak. Walapun kita harus akui ini teknik mengganggu konsentrasi lawan.

Jadi, road show, kampanye, sosialisasi diri, itu juga metode saja. Bahwa metode itu kemudian tepat sasaran ini kan mesti dievaluasi lagi. (fwl/fwl)

Penulis/Penerbit