Published On: Wed, Oct 9th, 2019

Ritual Pakai Babi, Sumur Bor Tak Berfungsi, Warga Susah Air

sergap.id, BOAWAE – Kehadiran proyek sumur bor di Desa Wolowea Barat, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo diharapkan mampu mengatasi kesulitan air bersih yang selama ini terjadi. Namun ternyata belum terwujud.

Akibatnya, warga terus dilanda kesulitan mendapatkan air bersih. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini.

Jangankan untuk mandi, cuci dan kepentingan privat di dalam kamar WC (Water Closet), untuk minum dan masak saja, warga harus bersusah payah mendapatkan air.

Padahal proyek itu telah menghabiskan Dana Desa (DD) tahun 2017 senilai Rp 223 juta.

Di lokasi sumur bor hanya terlihat beberapa potongan pipa yang diterlantarkan dan kondisinya telah rusak.

“Kami di sini air susah. Ada sumur bor, tapi sampai hari ini air tidak keluar,” ujar Anastasia,  warga Wolowea Barat yang ditemui SERGAP akhir pekan kemarin.

Warga mengaku, selama ini mereka mendapat pasokan air bersih yang didistribusi dari Mulakoli, desa tetangga, menggunakan pipa setengah dim. Namun karena debitnya terus menurun, makin hari aliran air makin kecil, bahkan sering sekali mati.

Kondisi ini membuat warga harus merogoh kocek untuk membeli air tengki 1100 liter seharga Rp 50 ribu.

Selain merugikan negara sebesar Rp 223 juta, proyek sumur bor itu juga menyisahkan sakit hati bagi sebagian warga.

Pasalnya, Pemerintah Desa (Pemdes) Wolowea Barat yang saat itu di bawah kepemimpinan mantan Kepala Desa (Kades) Agus Tue bersama panitia pembangunan sumur bor yang diketuai Fidelis Nuwa memiliki hutang yang belum di bayar, diantaranya seekor babi senilai Rp 5 juta yang dipakai untuk ritual penggalian sumur bor.

“Waktu itu bapa desa (Kades) dengan panitia bon babi saya untuk makan bersama saat ritual adat. Bilangnya nanti akan dibayar, tapi sampai sekarang belum bayar. Padahal saya jual babi itu untuk bayar uang sekolah anak saya,” beber Damianus Ceme kepada SERGAP pada Senin (7/10/19).

Untuk menyukseskan ritual penggalian sumur bor itu, kata Damianus, warga juga diwajibkan mengumpulkan uang sebesar Rp 50 ribu per jiwa.

“Banyak yang sudah kumpul uang, anak saya juga, ada sebagian warga yang langsung dipotong dari uang anggur merah,” paparnya.

Ironisnya, hingga kini pertangungjawaban Kades dan panitia pembangunan sumur bor tentang penggunaan babi dan uang tersebut tak pernah ada.

Sekretaris Desa (Sekdes) Wolowea Barat, Agustinus Bhia Wea saat dikonfirmasi Sergap (8/10/19), mengakui kalau proyek sumur bor itu mubazir.

“Proyek ini benar tidak berfungsi,” tegasnya.

Namun menurut dia, proyek ini sudah diserahterimakan (PHO) dari pekerja ke Pemdes Wolowea Barat, serta pernah diujicoba yang disaksikan oleh Camat Boawae dan sejumlah warga.

Hanya saja, tak lama setelah ujicoba, air tak lagi keluar hingga hari ini.

Mantan Kades Wolowea Barat, Agus Tue, yang dihubuingi SERGAP per telepon pada Selasa (8/10/19) membantah jika proyek tersebut tidak berfungsi.

“Tidak pak! itu tidak mubazir, airnya ada, itu hanya kesalahan teknis, saat uji coba airnya keluar, hanya tali katrolnya putus saat kami masukan mesin celup ke dalam lubang,” katanya.

Menurut dia, putusnya tali katrol membuat pipa pecah.

“Waktu ujicoba, airnya keluar, dan sumur bor berfungsi dengan baik,” kata Agus.

Kata dia, sumur bor yang memiliki kedalaman 90 meter tersebut masih bisa difungsikan jika semua pipa diganti dengan yang baru.

“Dalam RAB hanya gali, beli mesin, dengan beli pipa. Kalau instalasi penyaluran ke rumah rumah warga tidak ada anggarannya,” jelasnya.

Terkait hutang babi sebesar Rp 5 juta, Agus mengakuinya.

“Benar kalau soal babinya Damianus itu. Karena waktu itu Pemdes dan panitia kekurangan dana untuk biayai ritual,” pungkasnya.

Lah terus kapan bayarnya? (sev/sev)

Penulis/Penerbit

Silahkan Komentar Sesuai Topik Berita di Atas