Published On: Mon, Apr 10th, 2017

Sejak Usia 14 Tahun, Anak NTT Ini Temani Presiden Soekarno

Share This
Topik

Riwu Ga semasa hidup. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bertani. Tak ada penghargaan berarti dari pemerintah untuk jasanya.

sergap.id, ENDE – Pada tahun 1934 saat Presiden Sukarno baru saja sampai di tempat pem – buangannya di Ende, Flores, NTT, ada seorang anak yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa.

Anak berumur 14 tahun ini setiap pagi berjalan 3 kilometer hanya untuk datang menonton orang buangan dari Jawa yang katanya terkenal.

Suatu siang, saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, ia datang membawa pisang goreng dan bertanya-tanya kepada Sukarno tentang cara membuat potongan kayu.

Sukarno adalah seorang Insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara, dan Sukarno senang dengan si anak yang kemudian diketahui bernama Riwu Ga.

Sejak pertemuan itu, Sukarno dan Riwu Ga menjadi akrab. Ia kemudian diminta oleh Sukarno untuk bekerja di rumah Sukarno. Jika waktu senggang, Riwu Ga ikut main Tonil dan membenahi baju-baju pemain Tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira.Tonil adalah suatu seni mirip sandiwara yang dipentaskan setiap sebulan sekali oleh Sukarno.

Riwu juga sangat senang dan melompat-lompat sambil tertawa ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal-hal yang seru. Begitu akrab dan asyiknya Bung Karno, Riwu dan para pemuda di Ende kala itu, seakan beban berat yang dipikul seketika hilang beralih menjadi suka cita dan riang gembira.

Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno. Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi ketika akan naik pesawat, Riwu Ga minta ikut, Bung Karno pun memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak jika Riwu Ga tidak diajak ke Australia, maka jadilah Bung Karno tidak dibawa ke Australia.

Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut Sukarno ke Australia.

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di Jakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya.

Takdir berkata, bahwa Riwu memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang.

Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dan dalam hatinya berteriak : “Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno”.

Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan seantero Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari mobil Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir.

Di tengah jalan Riwu berteriak “Merdeka…Merdeka…Merdeka!!!!!!!” sambil mengepalkan tangan keras-keras.

Sepanjang perjalanan, orang-orang bingung sekaligus heran melihat kelakuan Riwu. Namun akhirnya paham, masyarakat akhirnya tahu kalau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.

Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga-lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi

Matahari tepat di atas ubun-ubun, ketika saya berkunjung ke sebuah rumah dibilangan kelurahan Naikoten I, Kota Kupang. Atapnya pendek, sehingga untuk masuk ke dalam, harus sedikit jongkok.

“Rumah ini dibangun oleh almarhum ayah saya. Dia bangun rumah ini sekembalinya dari Jakarta, tahun 1948,” ujar Yance Riwu Ga, salah seorang putra Riwu Ga, ketika ditemui di rumah mereka, di Jl. Advokat No 4 RT 15/RW 6 Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota Raja, Kupang, Selasa (14/8/2012) lalu.

“Rumah ini sederhana, walau atapnya rendah, namun tidak panas. Apalagi kalau buka pintu belakang, angin banyak yang masuk sehingga rumah ini dingin,” tuturnya lagi.

Dia mengurai, sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende lokasi pengasingan Soekarno maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa.”

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang penjaga malam pada kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.

“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance. Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.

Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan markas TNI Naibonat.

“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.

Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 Wita, di hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus.

“Saat itu hadir ribuan orang. mereka ingin datang dan mendengar langsung kisah bapa. Sebagai anak, ketika dengar cerita bapa, kami terharu dan bangga. Karena seorang buta huruf, dia berarti. Walau tidak diingat jasa-jasanya. Dia kelahiran Sabu, tapi dia sudah banyak berbuat untuk Indonesia,” ujar Yance yang adalah pengajar di SMPN 2 Kupang itu sembari menyeka bulir air mata di sudut matanya mengenang ayahandanya. (Jack/Das/Gog)

Penulis/Penerbit: