Published On: Sun, Mar 11th, 2018

Selain Disiksa, Yeni Juga Dilarang Beribadah dan Dipaksa Minum Obat Anti Haid

Share This
Tags

Yeni Tfuakan tiba di Bandara El Tari Kupang, Minggu (11/3/18). Ia dipulangkan dari Tuban, Jawa Timur. Sebelumnya Yeni dipulangkan dari Malaysia dan nyasar di Tuhan. Ia kemudian ditampung oleh keluarga Nurkholis di Tuban.

sergap.id, KUPANG – Sebelum ke Malaysia tahun 2015 lalu, Yeni Tfuakan, ternyata adalah salah satu korban dari 22 TKW asal NTT yang mengalami penyiksaan berat saat berkerja di sebuah perusahaan sarang burung walet di jalan Brigjen Katamso, Medan, Sumatera Utara.

Selama 3 tahun (2011-2014) bekerja di perusahaan milik Mohar dan Haryati itu, Yeni sama sekali tidak diberi gaji. Ironisnya lagi, setiap hari Yeni dan teman-temannya hanya diberi makan nasi putih dan kerupuk.

Informasi yang dihimpun SERGAP pada Sabtu (10/3/18), menyebutkan, Yeni mulai bekerja pada Mohar sejak bulan Februari 2011. Ia bersama teman-temannya direkrut oleh Rebecca Ledoh – Oematan dan Damaris Nggoen.

Selama bekerja, Yeni cs benar-benar diperlakukan secara biadab oleh Mohar dan Haryati. Selain bertugas membersihkan sarang burung walet, Yeni cs juga harus mengerjakan tugas rumah tangga dan tidak diperbolehkan keluar rumah. Mereka juga di larang untuk beribadah dan dipaksa minum obat anti haid oleh Haryati.

Semua jendala gedung sarang walet dan ruangan tempat Yeni cs tidur dan beraktivitas dilapisi dengan kertas koran sehingga mereka benar-benar tidak bisa melihat dan menikmati sinar matahari.

Yeni sendiri pada Maret 2014 ketika kasus Medan terungkap, ditemukan dalam keadaan sakit keras dan badannya tinggal kulit membungkus tulang. Ia dirawat di RS Deli Medan akibat menderita sakit paru-paru, sesak napas dan lumpuh total.

Sepulang dari Medan, ia dirawat selama tiga bulan oleh Romo Dedi Lajar dan Suster di Kupang sebelum pulang ke Takari. Belakangan Yeni diketahui pergi ke Malaysia secara ilegal, lalu terlantar di Tuban, Jawa Timur, hingga akhirnya di tolong oleh keluarga M. Nurkholis.

Para pelaku kasus Medan telah dilaporkan ke Polda NTT pada tahun 2014. Bahkan berkas-berkasnya sudah diserahkan oleh salah satu anggota Aliansi Menolak Perdagangan Orang (AMPERA) Provinsi NTT kepada Presiden Joko Widodo.

Perekrut Rebecca Ledoh – Oematan telah ditangkap dan divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Tingkat 1 NTT. Namun pelaku Mohar cs di Medan masih bebas dan hilang jejak hingga hari ini.

Pihak Polda NTT yang ditemui dalam audiens dengan media pada 5 Maret 2018 lalu menyatakan bahwa kasus Medan tidak ada komunikasi lanjutan dengan Polres Medan. Kendalanya adalah tidak ada komunikasi dengan Polda Medan soal penetapan tersangka di sana.

AKBP, Jules A. Abast, Kabid Humas Polda NTT, saat dimintai tanggapan soal kasus Yeni lewat Whatsapp, Minggu (11/3/18), hanya menjawab singkat, “Nanti kita cek dulu ya”.

ELCID LI

Elcid Li, Phd, peneliti Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) yang juga personil AMPERA NTT meminta Polda NTT mengusut kasus Yeni secara tuntas, mulai dari proses perekrutan hingga pengiriman Yeni ke Medan dan Malaysia.

“Polda NTT perlu bekerja keras. Yenny merupakan korban perdagangan orang di Medan tahun 2014 yang BAP pelakunya hingga kini masih nihil. Mohar pelaku utama masih bebas,” kata Elcid.

Herman Seran, pemerhati masalah human trafficking yang juga relawan J-RUK Kupang, meminta Pemrov NTT untuk ikut mengawal kasus Yeni agat diusut tuntas oleh pihak penegak hukum.

Herman juga mengecam tindakan perekrut yang secara biadab terus melakukan perekrutan dan pengiriman TKI secara ilegal keluar dari wilayah NTT.

“Oknum yang sudah tahu Yeni datang dalam keadaan lumpuh hampir mati, kemudian diambil lagi untuk diberangkatkan, itu sangat tidak berperikemanusiaan. Kalau sesama Indonesia tidak punya solidaritas dan belas kasihan, maka tak ada gunanya kita menuntut Malaysia. Masalah ada di rumah kita sendiri. Kitalah yang bertanggung jawab,  terutama para pemimpin NTT,” ujar Herman sembari mendesak aparat hukum serius melakukan penyelidikan terhadap kasus Yeni.

HERMAN SERAN

Ketua Badan Pembantu Pelayanan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT, Pdt. Emmy Sahertian, mengaku sangat prihatin dengan kasus kekerasan yang secara berulang terjadi pada Yeny.

“Anak ini pernah menjadi korban penyiksaan hingga lumpuh pada kasus Medan tahun 2014. Dia kemudian ditangani AMPERA dan dirawat hingga pulih, kemudian kembali ke keluarga dan putus kontak. Sekarang dia kembali menjadi korban penyiksaan di Malaysia dan diterlantarkan. Beruntung ada keluarga Nurkholis yang berbaik hati dan mau menampung serta memulihkan kondisi psikisnya,” ucap Emmy.

“Kejadian ini sudah sangat luar biasa, sehingga harus dilaporkan ke kepolisian. Kami  sangat menyayangkan kejadian berulang ini. Itu berarti bahwa mafia (perdagangan orang) semakin merajalela. Kasus berulangnya Yeny  ini kami perlu kawal agar kebenaran diungkap. Terutama keadilan bagi korban,” tegas Emmy. (fwl/fwl)

Penulis/Penerbit

Silahkan memberi komentar sesuai topik di atas. Terima Kasih!