Published On: Wed, Oct 9th, 2019

Uskup Agung Ende Minta Bupati Nagekeo Sejahterakan Masyarakat

sergap.id, MBAY – Sebagian besar warga Kabupaten Nagekeo sejauh ini masih hidup di bawah bayang-banyang kemiskinan. Selain karena alam yang kurang bersahabat, pemerintah juga kurang fokus mengatasi kemiskinan.

Buktinya, hingga hari ini jalan raya menuju kantong – kantong produksi belum terurus dengan baik. Padahal sarana ini merupakan urat nadi perekonomian.

Akibatnya masyarakat kesulitan memasarkan hasil produksi mereka. Jika terpaksa pun mereka harus membayar mahal untuk biaya transportasi.

Ujungnya, keuntungan yang didapat makin kecil dan jalan menuju kehidupan yang lebih mapan terseok-seok.

Kondisi ekonomi yang kurang sehat bisa dilihat hampir di semua kampung di Nagekeo.

Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo di bawah kendali Johanes Don Bosco Do dan Marianus Waja sibuk menghabiskan uang miliaran rupiah untuk kegiatan yang belum dianggap perlu, misalnya Festival Literasi yang menghabiskan dana APBD sebesar Rp 2,2 miliar.

Kondisi ini mematik simpati dan kritik dari para aktivis GMNI dan gereja.

“Saya dan Bapak Uskup (Angung Ende) atas nama Gereja hanya meminta (Bupati dan Wakil Bupati) sejahterakan masyarakat Nagekeo,” ujar Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Ende, RD. Sirilus Lena, Pr dalam sambutannya pada acara penandatangan MoU garam antara PT Cheetham Garam Flores Indonesia dengan Pemkab Nagekeo di ruang VIP Setda Nagekeo, Selasa (7/10/19).

BACA JUGA, GMNI: KITA LAWAN

Pernyataan singkat Romo Vikjen tersebut merupakan peringatan bagi pemerintah untuk stop menghabiskan APBD untuk sesuatu yang belum perlu.

  • GARAM MBAY

Sembilan tahun sudah PT Cheetham beroperasi di Mbay, Nagekeo. Sudah ribuan ton garam yang dihasilkan. Keuntungannya pun tidak sedikit.

Karena itu keuntungan investasi garam ini mestinya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Paling tidak wajah perekonomian Nagekeo selama lima tahun kedepan akan nampak berubah.

Direktur PT. Cheetham Garam Flores Indonesia, Arthur Tanujaya, memastikan, kehadiran mereka di Mbay, Nagekeo, untuk ikut mensejahterakan masyarakat Nagekeo.

“Tujuan kami adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Semangat tersebut didukung oleh Direktur Industri Kimia Hulu kementrian Perindustrian, Fredy Juwono.

“Saya sangat konsen dengan apa yang telah di buat oleh Pemda Nagekeo dan PT Chetam. Saya dukung sepenuhnya. Estimasi saya, kalau per hektarnya bisa menghasilkan  100 ton (garam), maka dengan sendirinya kita bisa mengurangi import garam,” katanya.

DPRD Nagekeo pun mendukung penuh kehadiran dan tujuan mulia PT Cheetham.

“Saya minta industri ini bisa menyerap tenaga kerja. Ini bisa membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran di Nagekeo,” ujar Ketua DPRD Nagekeo, Sely Adjo Bupu.

Di akhir acara penandatangan MoU, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosko Do, mengaku, masyarakat Nagekeo belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang garam.

“Untuk itu perlu kerja sama yang baik untuk melakukan sosialisasi tentang proses garam industri. Kita perlu melakukan kajian yang mendalam terkait limbah garam, mau di buang kemana? Karena ini akan berdampak pada lingkungan hidup,” katanya.

“Dengan adanya industri garam ini, saya harapkan bisa mendatangkan income bagi masyarakat saya. Tenaga kerja harus libatkan tenaga kerja lokal sesuai dengan kemampuan SDM yang dimiliki. Dengan adanya penandatanganan MoU hari ini, itu artinya PTCheetam Garam Flores Indonesia resmi dan bekerjalah secara profesional demi kemakmuran masyarakat Nagekeo,” pungkasnya. (sg/sg)

Penulis/Penerbit

Silahkan Komentar Sesuai Topik Berita di Atas