Petugas memindahkan kantong yang berisi limbah B3 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, tahun 2021 lalu.
LIMBAH COVID 19 - Petugas memindahkan kantong yang berisi limbah B3 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, tahun 2021 lalu.

sergap.id, MBAY – Limbah medis akibat Corona Virus Disease (Covid-19) di Kabupaten Nagekeo hingga saat ini masih tertampung di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Rumah Sakit Daerah (RSD) Aeramo.

Limbah yang tergolong Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta Infeksius atau limbah yang terkontaminasi organisme pathogen dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan ini dikhawatirkan menjadi sumber penyakit baru dan mencemari lingkungan.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.SE.2/MENLHK/PSLB3.3/3/2020, hal yang perlu dilakukan terhadap limbah medis infeksius yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah:

  1. Melakukan penyimpanan limbah infeksius dalam kemasan yang tertutup paling lama 2 (dua) hari sejak dihasilkan;
  2. Mengangkut dan/atau memusnahkan pada pengolahan Limbah B3:
  • Fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran minimal 800°C; atau
  • Autoklaf yang dilengkapi dengan pencacah
  1. Residu hasil pembakaran atau cacahan hasil autoclave dikemas dan dilekati simbol “Beracun” dan label Limbah B3 yang selanjutnya disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3 untuk selanjutnya diserahkan kepada pengelola Limbah B3.

Undang- Undang Lingkungan Hidup, Nomor 32 Tahun 2009, dalam penjelasannya pun mengatakan “setiap limbah infeksius boleh disimpan pada TPS paling lama 90 hari. Namun yang terjadi di Nagekeo, limbah tersebut tertahan di TPS RSD Aeramo selama berbulan- bulan sejak awal 2022.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagekeo, Remigius Jago
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagekeo, Remigius Jago.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagekeo, Remigius Jago, menjelaskan, pihaknya pernah melakukan rapat kordinasi dan evaluasi dengan manajemen RSD Aeramo yang dipimpin oleh Sekda Nagekeo.

Dalam rapat tersebut menghasilkan beberapa point  yang perlu segera ditindaklanjuti, antara lain:

  1. Segera menyelesaikan masalah limbah covid di setiap Puskesmas, RSD Aeramo dan klinik-klinik kesehatan lainnya.
  2. Segera ditangani, paling lambat sampai akhir September 2022.
  3. Jika pada batas waktu yang ditentukan masalah limbah belum ditangani secara baik, maka disarankan untuk diserahkan kepada pihak ketiga (vendor) yang memiliki kewenangan dan perijinan lengkap.

“Yang menjadi masalah saat ini adalah insenerator (alat pemusnah limbah B3) di RSD Aeramo rusak. Kerusakan terjadi pada ruang Barnet 1 atau ruang bakar 1, yang memyebabkan terjadinya penumpukan limbah di Tempat Penampungan Khusus di RSD Aeramo”, ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Drg. Emirentiana Reni Wahjuningsih
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Drg. Emirentiana Reni Wahjuningsih.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Drg. Emirentiana Reni Wahjuningsih, pun membenarkan bahwa alat pemusnah limba B3 di RSD Aeramo hingga kini masih dalam keadaan rusak.

“Kita sudah buat SPK (Surat Perintah Kerja) kepada pihak ketiga untuk mengerjakan pemeliharaan ruang bakar utama itu”, ujar Emirentiana kepada SERGAP, Rabu (21/9/22).

“Sedangkan residunya akan diserahkan kepada pihak ketiga untuk diangkut dan dimusnahkan. Dengan pihak ketiga saat ini sudah ada komunikasi, hanya belum dilakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS)”, bebernya.

Emirentiana menambahkan, saat ini Tim BLUD RSD Aeramo baru melakukan konsultasi di BPKP NTT terkait kerjasama dengan pihak ketiga tentang penanganan limbah B3 di Nagekeo. (sg/sg)