Batu Meja atau meja yang tebuat dari batu, satu diantara peninggalan purbakala yang masih ada di Desa Warloka.
Batu Meja atau meja yang tebuat dari batu, satu diantara peninggalan purbakala yang masih ada di Desa Warloka.

sergap.id, WISATA – Desa Warloka di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, memiliki cerita yang patut disimak. Disini ada tiga masyarakat kampung yang hidup harmonis meski berbeda agama. Tiga kampung itu adalah Kampung Warloka 100 persen beragama Islam, sedangkan Kampung Kenari dan Kampung Cumbi 100 persen beragama Katolik.

Desa Warloka terletak di tepi pantai yang menghadap ke arah Pulau Rinca di bagian barat Kabupaten Manggarai Barat, sekitar 30 km dari kota Labuhan Bajo. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian nelayan dan peladang.

Dikutip dari situs kemdikbud.go.id, disebutkan, pada tahun 1981 Desa Warloka pernah diteliti oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Penelitian ini menemukan menhir, dolmen, alat batu, gerabah dan keramik. Adanya penemuan tersebut membuktikan bahwa Desa Warloka merupakan situs permukiman dan pemujaan pada masa prasejarah hingga masa setelahnya.

Tim peneliti dari Unversitas Gajah Mada Yogyakarta juga pernah melakukan penelitian di Desa Warloka. Penelitian tersebut berhasil menemukan empat tulang manusia modern tipe homo sapiens yang terdiri dari tiga tulang manusia dewasa dan satu tulang anak kecil. Juga ditemukan berbagai benda peninggalan lain seperti gelang, rantai perunggu, mangkok, batu nisan, tulang-tulang binatang serta alat-alat pada zaman sejarah

Adanya penemuan penting tersebut, otomatis menempatkan kawasan Warloka menjadi objek penelitian ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi sasaran penggalian liar yang dilakukan oleh penduduk desa dan sekitarnya untuk mendapatkan barang keramik dan barang berharga lainnya.

Penggalian-penggalian liar ini mengakibatkan lokasi-lokasi warisan budaya yang tersebar di kawasan Warloka menjadi rusak. Hal ini dapat diketahui dari posisi warisan budaya yang sudah tidak insitu dan tergeletak begitu saja di tanah, bahkan ada dalam kondisi terpotong dan pecah.

Tinggalan budaya yang masih dapat ditemukan sampai sekarang di Desa Warloka berupa batu-batu menhir dan dolmen yang tersebar di daerah pantai, lereng bukit dan puncak bukit.

Warisan budaya di desa ini merupakan bukti sejarah perjalanan hidup nenek moyang orang Flores yang amat penting untuk dilestarikan. Karena nilai penting yang terkandung di dalamnya, maka warisan budaya itu harus dilestarikan untuk kepentingan pembentukan jati diri dan karakter bangsa di masa yang akan datang.

Sesuai Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, khususnya pasal 1 ayat 6, Desa Warloka dapat dikategorikan sebagai Kawasan Cagar Budaya karena merupakan satuan ruang geografis yang memiliki dua situs atau lebih yang letaknya berdekatan dan memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.

Di Desa Warloka terdapat beberapa lokasi yang menyimpan peninggalan purbakala yang khas, berupa peninggalan dari masa megalitik. Untuk dapat dikatakan sebagai Cagar Budaya, maka lokasi beserta benda di dalamnya harus ditetapkan melalui proses penetapan.

Pada pasal 1 Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 disebutkan kewenangan penetapan berada di tangan pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya, dan BP3 Bali sebagai sebuah UPT yang mempunyai tugas dan fungsi  melaksanakan pelestarian Cagar Budaya di Propinsi Bali, NTB dan NTT, tetap diwajibkan untuk melakukan kegiatan inventarisasi warisan budaya.

Desa Warloka dan sekitarnya ditinjau dari segi geomorfologi (pembentukan permukaan kulit bumi), merupakan daerah perbukitan dengan sedikit dataran. Daerah di pantai barat Pulau Flores ini dapat dibagi menjadi tiga zone (daerah), yaitu daerah pantai (bea), daerah lereng perbukitan (tonggong) dan daerah puncak bukit (golo).

Untuk mencapai lokasi Kawasan Warloka dapat ditempuh melalui jalur darat dan laut, dengan perbandingan jalur darat membutuhkan waktu yang lebih panjang dari pada jalur laut.  Dari pelabuhan Labuan Bajo perjalanan dapat ditempuh ± selama 1,5 jam dengan menggunakan boat sampai di pelabuhan Warloka. Dari pelabuhan Warloka perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati perumahan penduduk.

Konsentrasi tinggalan purbakala di kawasan ini tersebar di beberapa lokasi, ada di tepi laut, areal pemukiman penduduk, sampai di daerah-daerah perbukitan. Konsentrasi I, berupa menhir terletak di tepi laut, tepatnya di areal Puskesmas  Pembantu Komodo. Konsentrasi I berjarak ± 250 m dari Pelabuhan Warloka.

Konsentrasi II, berupa menhir terdapat di areal pemukiman berjarak ± 500 m dari konsentrasi I. Konsentrasi III, berupa menhir terletak di areal bukit kecil, berjarak ± 200 m dari konsentrasi II. Konsentrasi IV terletak di puncak sebuah bukit berjarak ± 1.5 km dari konsentrasi I dengan harus melalui jalan yang terjal.

Laporan Verhoeven pada tahun 1950 dan 1952 menyebutkan adanya tempat upacara berupa menhir dan dolmen serta sisa-sisa peralatan batu. Laporan Berita Penelitian Arkeologi No. 30 tahun 1984 juga menyebut bahwa Situs Warloka merupakan situs kegiatan dari masa prasejarah dan diduga bahwa daerah Warloka dan sekitarnya merupakan situs permukiman dan pemujaan.

Kehadiran bangunan-bangunan batu tersebut sesuai dengan konsep pemujaan bahwa gunung adalah tempat suci dari arwah nenek moyang. Dengan demikian di puncak bukit itulah tempat diadakannya upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Batu Meja atau meja yang tebuat dari batu, satu diantara peninggalan purbakala yang masih ada di Desa Warloka.
Batu Meja di Bukit Warloka.

Pada situs ini belum dapat dibuktikan bahwa dolmen yang ditemukan merupakan tempat penguburan seperti di Pulau Sumba. Sementara itu, bangunan-bangunan batu menhir yang ditemukan diduga berfungsi sebagai batas permukiman atau batas daerah yang sakral.

Catatan dari Orsoy de Flines tahun 1972 menyebutkan tentang ditemukannya keramik-keramik. Pada tahun 1979 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museum Nasional melaporkan telah berhasil mengumpulkan keramik-keramik yang berasal dari Cina (dinasti Sung-Ming) abad ke 10-17; Vietnam (Annam) abad ke 14-15; dan Thailand abad ke 14-17 (Abu Ridho, 1979).

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa perhubungan dagang internasional pelabuhan Warloka dengan wilayah jauh (Cina, Vietnam, Thailand) secara langsung ataupun tak langsung lebih maju dan intensif pada abad 14-17.

Kehidupan masyarakat Warloka modern.
Kehidupan masyarakat Warloka saat ini.

Bukti lain terkuak lewat temuan Tim Penelitian Ekskavasi Situs Warloka 2010 yang ditulis Adyanti Putri Ariadi dalam Jurnal Arkeologi Papua, Vol. 6 Edisi No. 1 Juni 2014.

Dalam penelitian arkeologis tersebut, ditemukan bekal kubur yang diduga dipasok dari luar berupa keramik, gerabah, manik-manik, dan logam perunggu. Benda-benda tersebut memiliki bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit dan diduga merupakan komoditas dari luar Situs Warloka.

Dari beberapa penjelasan itu, masyarakat Situs Warloka memang melakukan kontak dengan pihak luar dengan melakukan kegiatan pertukaran barang. Hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya “bengkel” atau tempat pembuatan benda-benda yang menjadi bekal kubur.

Benda-benda dengan bahan dan teknik pengerjaan yang cukup rumit mungkin belum bisa diterapkan pada masyarakat Situs Warloka pada saat itu karena terbatasnya sumber bahan dan pengetahuan. (dik/bud)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here