
sergap.id, BAJAWA – Cinta di Hutan Bambu. Ya film ini diproduksi oleh Pater Simon Buis, SVD, dan Pater Piet Beltjens, SVD, pada tahun 1925 dan lulus sensor di Belanda pada tahun 1930.
Lokasi syuting film berdurasi dua jam dengan panjang pita 2443 meter ini berada di Borado dan Likowali, di Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebuah daerah pegunungan yang zaman dahulu dipenuhi hutan bambu.
Film ini berjudul Amorira dengan sub judul haat en liefde bij de bamboeboschbewoners van Borado-Likowali eiland Flores atau benci dan cinta di hutan bambu Borado-Likowali, Pulau Flores.
De Indische courant mencatat, pertama kali film ini diputar di Katholieke Sociale Bond, Surabaya, tanggal 11 Agustus 1932, dan diputar di Bajawa pada tahun 1933.
Film ini mengisahkan tentang cinta segitiga sepasang kekasih, yakni Keli dan Wesa, yang berujung perang antar kampung.
Awalnya, Meo, orang tua Keli memaksa Keli mengawini Wesa, padahal diam-diam Keli sudah memiliki kekasih dari kampung lain, yakni dari Doka.
Suatu hari Wesa memergoki Keli sedang bercengkerama dengan kekasih pertamanya. Maka pecahlah pertengkaran hingga menyebabkan perang antara kampung. Permusuhan antara dua kampung ini berlarut-larut, hingga penguasa wilayah harus mengirimkan satu batalyon militer untuk menghentikannya.
Setelah konflik redah, seorang pastor datang ke wilayah perang ini. Ia berusaha memikat penduduk dengan berbuat baik. Sedikit demi sedikit ia mengajarkan agamanya dan mengajak penduduk setempat membangun gereja.
Sang pastor kemudian dilapori oleh Keli bahwa kekasihnya asal Doka yang tidak bersalah, ditahan di penjara. Ia meminta sang pastor untuk membebaskannya. Sementara disaat yang sama keluarga Wesa terus mendesak Keli agar menikahi Wesa. Namun pastor tidak merestui pernikahan yang tidak dilandasi cinta. Pendirian pastor ini membuat keluarga Wesa marah. Rumah pastor pun dibakar, dan Sang Pengembala Umat ini menderita luka serius hingga harus dirawat.
Peristiwa penyerangan terhadap Pastor ini membuat penduduk setempat memusuhi keluarga Wesa. Tetapi Pastor memaafkan para pelaku dan perdamaian pun terwujud. Setelah itu, Pastor menikahkan Keli dan membaptis penduduk setempat menjadi Katolik. Itulah mengapa sampai sekarang di wilayah ini 100 persen katolik.
Semoga kisah ini tidak terjadi lagi hari ini. Ya, Pernikahan harus dilandasi cinta, agar bahtera rumah tangga berlayar tanpa badai, jika ada pun, hanya gemercik yang menghiasi kebersamaan hingga ajal menjemput. Jika anda suka dengan kisah ini, jangan ragu like, komentar dan share ya. Salam hangat dari saya Dinda Wangge, reporter sergap.id. see you next time. KLIK DISINI untuk nonton cuplikan filmnya. (din/din)




























