
sergap.id, MAJAMERE – Ana (39), korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh Krispita Uko pada 27 September 2025 lalu, berharap polisi segera menangkap pelaku dan memproses hukum terhadapnya.
“Saya hanya ingin kebenaran ditegakkan”, ungkap Ana dengan suara bergetar kepada SERGAP, Selasa (25/11/25).
Selain Krispita Uko, ibu tiga anak yang tinggal di Kampung Ulunua, sebuah perkampungan kecil di wilayah Maja Mere, Desa Woloede, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo ini juga menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh Marten Wawo di waktu dan tempat yang terpisah.
Kasus ini bukan hanya mengguncang psikologi korban dan keluarga korban, tetapi juga merusak reputasi kampung yang selama ini dikenal aman dan tenteram.
Dalam kesehariannya, Ana dikenal sebagai sosok pendiam, pekerja keras, dan aktif dalam kegiatan sosial. Sementara suaminya hanyalah seorang petani kecil. Namun pasutri ini sukses menyekolahkan anak mereka dan menjadi kebanggaan mereka.
Sayangnya ketenteraman keluarga kecil ini terusik oleh ulah Marten dan Krspita. Akibatnya psikologi Ana terganggu dan trauma berat.
“Jujur Pak… dengan kasus yang menimpa saya ini, saya sampai berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya malu pada suami, anak, dan keluarga besar,” ucapnya.
Karena malu pada keluarga setelah diperkosa Marten, Ana sempat bersembunyi di sebuah pondok milik keluarga. Namun di sini ia justru kembali mendapat perlakuan tidak senonoh dari Krispita.
“Saya heran… bagaimana dia (Krispita) tahu bahwa saya ada di pondok (milik) Om Nus? Dia tinggal di desa sebelah, jauh dari kampung kami. Tiba-tiba datang dan bilang mau menyelamatkan saya. Tapi justru dia yang memperkosa saya,” ungkap Ana.
Menurut Ana, Krispita melakukan kekerasan seksual disertai dengan ancaman akan membunuhnya dengan parang.
“Dia ancam pakai parang. Baju saya dia robek. Tali BH saya putus”, ucapnya.
Hingga saat ini, baik Marten maupun Krispita masih berkeliaran bebas alias tidak tersentuh hukum. Padahal kasus ini telah diadukan ke polisi.
“Untuk sekarang dia mungkin bisa tertawa atas penderitaan saya. Tapi cepat atau lambat, keadilan akan datan”, ujar Ana, yakin.
BACA JUGA: Derita Ana: Dari Chat Utang Hingga Dipaksa Layani Napsu Dua Pria
Derita yang menimpa Ana mendapat perhatian serius dari seisi kampung. Natalis Mere, warga setempat, berharap polisi bertindak professional dalam menegakan hukum.
“Kami di kampung ini kaget sekali. Awalnya kami tidak menyangka. Tanta Ana orang baik, pendiam, dan selalu aktif dalam kegiatan apa saja. Keluarga mereka juga dikenal sebagai keluarga tertib dan pekerja keras,” terangnya.
Menurut dia, pada malam ketika Ana diantar oleh Krispita, warga sedang berkumpul karena sudah dua hari melakukan pencarian terhadap Ana.
“Andai malam itu, Ana langsung berterus terang bahwa dia diperkosa oleh Krispita, mungkin ceritanya berbeda. Tapi kami tetap percaya pengakuan Ana dan bukti yang ada yang tidak bisa dibantah (oleh Krispita). Baju yang robek dan BH rusak itu bukti fisik nyata”, kata Mere.
Mere menambahkan, akibat ulah Marten dan Krispita, reputasi kampung Ulunua jadi rusak.
“Ini mencoreng kampung kami. Karena itu kami minta aparat penegak hukum, dalam hal ini Polres Nagekeo untuk mengusut tuntas kasus ini. Jangan sampai menjadi preseden buruk. Penyelidikan harus dilakukan secara profesional dan transparan, tanpa tekanan atau intervensi dari pihak mana pun”, tegasnya.
Terpisah Krispita Uko yang ditemui SERGAP di Mapolres Nagekeo, Kamis (27/11/25), enggan berkomentar.
“Saya tidak ada komentar. Silahkan pihak korban memberikan komentar menurut versi mereka. Itu saja yang saya sampaikan”, ucapnya. (sg/sg)




























