Pondok Mama Domi di Pinggir Kali Waikomo
Pondok milik Mama Domi di Pinggir Kali Waikomo.

sergap.id, WAIKOMO – Sebuah pondok berukuran sekitar 3×4 meter yang terletak di pinggir kali Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, terancam amblas disapu banjir.

Pasalnya, pondok milik Mama Domi tersebut berjarak tinggal 3 meter dari bibir tebing sungai Waikomo, dan satu meter dari pinggir area persawahan yang longsor pada musim hujan tahun kemarin akibat tergerus banjir sungai Waikomo.

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Aubala, Daerah Irigasi Waikomo, Akim Buran, berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata segera mengambil langkah menyelamatkan terhadap area persawahan yang berada dipinggir sungai Waikomo, termasuk solusi bagi Mama Domi.

“Yang kita takutkan musim hujan tahun ini. Karena potensi longsor berada di sepanjang kali, apalagi lokasi pondok milik Mama Domi ini sangat dekat dengan tebing yang longsor tahun kemarin”, ujar Buran saat bersama SERGAP melihat dari dekat area tanah longsor di pinggir kali Waikomo, Rabu (3/11/21).

Menurut Buran, longsoran yang terjadi itu akibat penambangan batu pasir secara liar di sepanjang sungai Waikomo, mulai dari hilir sampai ke hulu, dan penambangan liar ini sudah terjadi bertahun-tahun.

Pernah beberapa kali pemerintah melarang, namun kembali terjadi seiring pemerintah tidak memperhatikannya lagi.

“Bukan hanya di hilir, tapi penambangan batu pasir juga sudah terjadi sampai di hulu Bendungan Waikomo”, bebernya.

Mirisnya lagi, kata Buran, oknum-oknum penambang batu pasir juga membobol tembok penyokong sungai, lantas membuat jalan masuk ke dasar sungai, agar bisa dilewati kendaraan pengangkut milik mereka. Setidaknya saat ini ada tiga titik tembok penyokong yang telah dihancurkan bagian atasnya.

Selain itu, ada ruas jalan inspeksi tani yang jebol akibat dilewati kendaraan pengangkut batu pasir dari sungai Waikomo.

“Padahal jalan tani ini hanya diperuntukan bagi sepeda motor atau mobil pick up pengangkut hasil panen sawah atau kebun di area persawahan Waikomo”, ungkapnya.

Akibat penambangan liar ini juga, lanjut Buran, area persawahan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Waikomo terancam amblas. Karena ketinggian tebing sepanjang sungai Waikomo saat ini sudah berkisar 5 meter sampai 30 meter. Apalagi di sekitar pondok Mama Domi yang berdekatan dengan kuari milik Bos Hotel Palm Indah.

Bahkan jalan raya dari depan pondok Mama Domi menuju Pasar Pada saat ini terputus akibat tergerus banjir sungai Waikomo tahun lalu.

“Sampai sekarang belum ada perhatian dari pemerintah (Balai Wilayah Sungai NTT)”, ucap Buran.

Akim Buran
Akim Buran

Sementara itu, Mama Domi, mengatakan, dirinya pasrah dengan keadaan yang ada didepan matanya.

“Kami ini orang kecil Pak. Kami tidak tahu harus mengadu kemana. Biar saja, sementara ini panen hasil disini dulu. Sekarang memang sudah masuk musim penghujan, tapi saya tidak tidur di pondok lagi. Saya hanya datang pagi, dan sore jam 5 dijemput anak-anak pulang ke rumah”, ujar janda asal Kedang yang mengaku saat ini tinggal bersama anak-anaknya yang masih sekolah di Waikomo.

Mama Domi
Mama Domi

Namun ia berharap segera mendapat perhatian dari pemerintah.

“Supaya pondok dan kebun sedikit ini tidak hilang karena banjir”, pintanya. (pl/pl)

Komentar Sesuai Topik Di Atas

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini