
sergap.id, LEWOTOLOK – Dalam 24 jam terakhir terjadi 8 kali letusan yang disertai gemuruh di Gunung Ile Lewotolok. Lontaran material lava pijar pun mencapai 300-500 meter di atas puncak gunung.
“Strombolian (letusan lava pijar) terjadi setiap malam. Waktunya tidak menentu. Biasanya terjadi di antara jam 6 sore sampai jam 12 malam. Biasanya, semburan disertai gempa kecil”, ujar Nandra, petugas pos pemantau gunung Ile Lewotolok, saat ditemui SERGAP di gedung Lewotolok Volcano Observatory, Kabupaten Lembata, Sabtu (13/11/21) malam.
Walau demikian, kata Nandra, belum ada aktivitas gunung yang signifikan yang berpotensi terjadinya erupsi besar.
Yang teramati dalam 24 jam terakhir adalah cuaca cerah, berawan, mendung, hujan. Angin bertiup lemah dan sedang ke arah tenggara, barat. Suhu udara 24.4-28.4 °C dan kelembaban udara 72.3-77.3 %. Volume curah hujan 8.1 mm per hari.
Gunung terlihat jelas, kabut 0-I, kabut 0-II, kabut 0-III. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih, kelabu dengan intensitas tipis, sedang dan tinggi 100-600 m di atas puncak kawah.
Teramati 8 kali letusan dengan tinggi 300-500 m dan warna asap putih dan kelabu.
Gemuruh lemah, teramati sinar Api, Gemuruh Lemah, Gemuruh lemah, Gemuruh Lemah, Teramati Lontaran Material Lava Pijar LK 200 Mdpck.
Gempa terjadi sebanyak 8 kali, Amplitudo: 9.6-21.7 mm, Durasi : 30.4-41.7 detik)
Tingkat aktivitas Ile Lewotolok berstatus siaga level III.
Masyarakat di sekitar gunung dihimbau tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah.
Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah.
Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya, maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling gunung, maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung agar mewaspadai ancaman lahar terutama saat hujan.
“Kita selalu buat laporan setiap 6 jam dan diteruskan ke grup WA masyarakat di sekitar gunung dan dikirim juga ke grup WA vulkanologi”, tutup Nandra. (reds/reds)































