Juni dan Agustus 2019 lalu, separatis ini juga menculik Uskup Agung Cornelius Fontem Esua (uskup agung Bamenda sekarang sudah pensiun) dan Uskup George Nkuo dari Kumbo.
Juni dan Agustus 2019 lalu, separatis ini juga menculik Uskup Agung Cornelius Fontem Esua (uskup agung Bamenda sekarang sudah pensiun) dan Uskup George Nkuo dari Kumbo.

sergap.id, SEDIH – Minggu (29/8/21) kemarin, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Mamfe, Pastor Julius Agbortoko, diculik oleh kelompok separatis Kamerun.

Kasus penculikan tersebut diumumkan oleh keuskupan setempat pada tanggal 30 Agustus 2021.

“Dengan sangat berat hati saya ingin memberitahukan kepada Anda bahwa romo vikjen telah diculik oleh diduga kelompok separatis” beber Jubir Keuskupan Mamfe, Romo Sebastine Sinju seperti dilansir kantor berita ACI Africa, Senin (30/8/21).

Sinju menjelaskan, awalnya pastor malang itu melakukan perjalanan ke salah satu desa bernama Kokobuma untuk kunjungan pastoral dan peresmian paroki setempat.

Beberapa saat setelah tiba di kediamannya sekitar jam enam sore, beberapa pemuda yang diduga bagian dari kelompok separatis merangsek masuk ke kediaman Uskup Lysinge yang berusa 82 tahun.

“Di sana, mereka tidak jadi menculik Mgr. Lysinge yang sudah berusia 82 tahun, tetapi memilih membawa Pastor Julius yang pada saat itu berada di tempat yang sama”, terangnya.

Berdasarkan keterangan seorang anak yang dibebaskan kelompok separatis tersebut, keuskupan diminta membayar uang tebusan lebih dari 20 juta franc CFA atau sekitar 36.000 dolar AS.

“Saya meminta Anda semua untuk berdoa dan memohon bantuan Tuhan bagi keselamatan dan pembebasannya”, pinta Sinju.

Kelompok Separatis ini telah beroperasi di wilayah berbahasa Inggris di Kamerun – Barat Daya dan Barat Laut – sejak 2016, ketika wilayah Anglophone jatuh ke dalam krisis setelah konflik sebelumnya.

Separatis bersenjata menyatakan bahwa mereka mendirikan Republik Federal Ambazonia, sebuah negara merdeka yang terdiri dari Wilayah Barat Daya dan Barat Laut. Mereka telah melakukan penculikan dan penyerangan saat melawan pasukan pemerintah.

Sebelumnya, separatis ini juga menculik imam lain dari keuskupan Mamfe pada bulan Mei lalu. Pastor Christopher Eboka itu kemudian dibebaskan setelah 10 hari ditahan.

November 2020, separatis ini menangkap Kardinal Christian Tumi, namun membebaskannya sehari kemudian.

Dua belas orang lainnya, termasuk Fon Sehm Mbinglo II, kepala adat suku Nso, diculik bersama kardinal Tumi yang meninggal pada April 2021.

Juni dan Agustus 2019 lalu, separatis ini menculik Uskup Agung Cornelius Fontem Esua (uskup agung Bamenda sekarang sudah pensiun) dan Uskup George Nkuo dari Kumbo.

Dalam pernyataannya pada tanggal 30 Agustus, Pastor Sinju menyesali serangan terhadap Gereja Katolik dan menyerukan diakhirinya konflik.

“Saya menggunakan kesempatan ini untuk mengutuk serangan yang tampaknya tak henti-hentinya terhadap Gereja pada umumnya dan terhadap Mamfe pada khususnya,” katanya.

“Bisakah para pemangku kepentingan dari konflik bersenjata yang sedang berlangsung dengan baik hati melepaskan Gereja, demi Tuhan. Semoga Maria, Bunda Para Imam dan Ratu Damai, menjadi perantara bagi kita,” ujarnya.

November 2018 lalu, 79 siswa juga diculik Separatis. Gubernur Deben Tchoffo mengatakan semua korban penculikan berusia antara 11 sampai 17 tahun.

“Sangat disayangkan bahwa peristiwa ini terjadi,” kata Tchoffo seperti dilansir Time.

Kelompok separatis ini telah bersumpah akan berbuat ulah lebih banyak guna menciptakan sebuah negara baru. Mereka akan menyerang warga sipil yang tidak mendukung perjuangan mereka.

Selain menculik, ada 100 sekolah yang dibakar oleh kelompok pemberontak ini.

Selain itu, militan separtis juga menyerang para pekerja di perkebunan karet yang dikelola oleh pemerintah Kamerun. Para pekerja disiksa dan jari-jari mereka dipotong lantaran menentang perintah menjauhi lahan peternakan milik separatis.

Gejolak separatis ini terjadi setelah Presiden Paul Biya terpilih untuk memenangkan pemilu yang ke 7 kalinya dalam pemilihan presiden Kamerun. (sp/sp)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here