
sergap.id, TAHERAN – Teror negara kembali dipertontonkan oleh rezim Islam Iran. Kali ini dengan pesan yang lebih dingin, lebih telanjang.
Seorang pemuda, Erfan Kiani (26), digantung. Tuduhannya berat. Dia disebut sebagai agen Mossad, perusuh, ancaman negara. Putusannya adalah mati.
Sabtu pagi, 25 April 2026, nyawa itu diakhiri di tiang gantungan. Tanpa keraguan, tanpa pembelaan yang benar-benar setara. Dalam narasi resmi, ini adalah penegakan hukum. Dalam kacamata publik global, ini adalah eksekusi politik yang dipoles dengan jargon keamanan nasional.
Label “agen Mossad” bukan sekadar tuduhan, ini senjata. Begitu cap itu ditempelkan, semua pintu tertutup. Hak hidup lenyap, empati diputus, dan publik diarahkan untuk percaya bahwa yang digantung bukan lagi warga negara, melainkan musuh.
Inilah pola lama yang kini dimainkan dengan lebih agresif: kriminalisasi perlawanan, lalu ditingkatkan menjadi kriminalisasi sebagai pengkhianatan negara.
Erfan dituduh merusak fasilitas umum, membakar jalanan, menyerang aparat saat gelombang demonstrasi Februari 2025. Namun tuduhan itu tidak cukup untuk membungkam. Maka narasi ditarik lebih jauh didorong ke wilayah spionase. Dari demonstran menjadi “infiltrator asing”.
Lompatan narasi ini bukan kebetulan. Ini strategi.
Dengan satu label, rezim mengubah aksi jalanan menjadi operasi intelijen. Mengubah kemarahan rakyat menjadi konspirasi luar negeri. Dan dengan itu, hukuman paling ekstrem terasa “masuk akal” dalam logika kekuasaan.
Di Teheran, mesin ini terus bekerja. Tiga nama lain, yakni Ehsan Hosseinipour, Matin Mohammadi, dan Erfan Amiri, sudah dikunci nasibnya. Tuduhan serupa: menyerang markas Basij, menggunakan bom molotov, menewaskan aparat. Lagi-lagi, bayang-bayang “jaringan asing” dihadirkan untuk memperkuat cerita.
Vonis mati dijatuhkan. Eksekusi tinggal menunggu waktu.
Pesannya brutal dan tanpa basa-basi, oposisi bukan lagi lawan politik, mereka adalah musuh negara, agen asing, target eliminasi.
Dikutip SERGAP dari situs National Council of Resistance of Iran (NCRI), pola ini disebut sebagai strategi sistematis rezim untuk menanamkan ketakutan massal, menggabungkan citra pemberontak dan mata-mata dalam satu tubuh.

Presiden terpilih Dewan Nasional Perlawanan Iran, Maryam Rajavi, menilai gelombang eksekusi ini bukan tanda kekuatan, melainkan kepanikan rezim.
“Rezim tidak lagi sekadar menindak, mereka membingkai. Mereka butuh musuh besar untuk membenarkan kekerasan besar,” tegasnya.
Isu Mossad dalam konteks ini bukan soal bukti, melainkan alat. Alat untuk mengunci narasi, membungkam simpati, dan menekan siapa pun yang mencoba bertanya.
Karena di bawah bayang-bayang label itu, satu hal menjadi jelas, siapa yang berani membela akan ikut dicurigai.
Namun strategi ini menyimpan risiko yang tak kecil. Ketika setiap bentuk perlawanan dipaksa masuk ke dalam skenario konspirasi asing, realitas di lapangan mulai retak. Ketidakpuasan rakyat yang nyata diputar menjadi cerita buatan. Dan saat publik berhenti percaya, narasi resmi kehilangan daya kendali.
Sejarah menunjukkan, ketakutan bisa dipaksakan, tapi kepercayaan tidak.
Darah yang ditumpahkan di tiang gantung mungkin dimaksudkan untuk meredam. Tapi sering kali, justru menjadi bahan bakar.
Iran kini tidak hanya menghadapi perlawanan di jalanan, tetapi juga krisis legitimasi yang semakin dalam. Rezim bisa menggantung tubuh, tapi tidak mudah menggantung kemarahan.
“Saya menyerukan kepada komunitas internasional untuk secara tegas mengutuk gelombang eksekusi di Iran”, ucap Maryam.
Dia juga mendesak Dewan Keamanan PBB dan negara-negara anggotanya agar segera mengambil langkah konkret guna menghentikan eksekusi tersebut dan menyelamatkan para tahanan yang berada di lorong kematian.
“Sudah saatnya para pemimpin rezim ini dimintai pertanggungjawaban atas lebih dari empat dekade kejahatan terhadap kemanusiaan dan tindakan genosida”, pungkasnya. (huk/huk)





























