Marshall Space Flight Centre
Marshall Space Flight Centre

sergap.id, MOTIVASI – Tak banyak yang mengenalnya di Indonesia, bahkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri. Namun di kalangan diaspora Indonesia di Amerika Serikat, nama Aris Tanone memiliki tempat istimewa. Ia adalah putra daerah asal Solor – Kupang yang berhasil menembus salah satu lembaga paling prestisius di dunia: NASA.

Aris Tanone bukan sekadar perantau biasa. Ia adalah satu-satunya orang Indonesia asal NTT yang dipercaya berkarier di lembaga antariksa Amerika Serikat, sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi tanah kelahirannya.

Lahir pada 23 Maret 1951, Aris Tanone mengenyam pendidikan di SMA Giovanni Kupang sebelum melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam perjalanan hidupnya, ia menikahi Winnie Aloisa, perempuan asal Purwokerto, pada tahun 1976. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak dan lima cucu.

Namun di balik kehidupan keluarga yang sederhana, tersimpan mimpi besar yang kelak mengubah jalan hidupnya.

Segalanya bermula pada tahun 1970, ketika Aris membaca tulisan ilmuwan roket legendaris Wernher von Braun tentang perlombaan luar angkasa. Artikel itu membakar semangatnya untuk suatu hari bisa bekerja di NASA.

Mimpi itu sempat dianggap mustahil, bahkan oleh keluarganya sendiri. Saat itu, Aris sudah memiliki karier mapan di bidang komputer dan fiber optik, bahkan dikenal sebagai salah satu ahli di bidang tersebut dan telah lama menjadi rekanan NASA.

Namun ia tetap teguh pada keyakinannya.

“Gunung pun tidak akan lari apabila kita mengejarnya,” begitu prinsip yang dipegangnya.

Tiga puluh tahun kemudian, mimpi itu menjadi kenyataan. Pada tahun 2000, setelah melalui seleksi ketat, Aris Tanone resmi diterima bekerja di NASA.

Di NASA, Aris ditempatkan di Marshall Space Flight Center di Huntsville, Alabama, pusat penelitian dan pengembangan roket, pesawat ulang-alik, serta stasiun luar angkasa Amerika Serikat.

Ia bekerja di pusat operasi muatan, tempat yang menjadi “otak” pengendali berbagai eksperimen ilmiah di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Di sana, para ilmuwan dari berbagai disiplin, teknik, matematika, sains, hingga pemrograman, bekerja tanpa henti, 24 jam sehari, 365 hari setahun.

Aris menjadi bagian dari tim elite yang berkolaborasi langsung dengan astronot di orbit serta ilmuwan dari seluruh dunia. Perannya sangat vital, bahkan pada tahap tertentu ia termasuk di antara segelintir orang yang ikut menentukan apakah sebuah roket atau pesawat ulang alik layak diluncurkan atau tidak.

Selama masa pengabdiannya, tim yang ia dukung berhasil melahirkan lebih dari 1.200 publikasi ilmiah dan menyelesaikan ratusan eksperimen luar angkasa yang berdampak bagi kehidupan di Bumi maupun eksplorasi antariksa.

Setelah lebih dari satu dekade mengabdi, Aris Tanone pensiun dari NASA pada Maret 2016. Ia kemudian menetap di Honolulu, Hawaii, bersama keluarga putrinya.

Pada 24 Januari 2022, ia menghembuskan napas terakhir di Amerika Serikat, meninggalkan jejak inspirasi yang luar biasa.

Tak hanya dikenal sebagai ilmuwan, Aris juga pernah membangun komunitas diaspora NTT melalui forum daring “Paklaru Bolelebo”, yang menjadi ruang silaturahmi dan pemersatu anak-anak NTT di seluruh dunia.

Kisah Aris Tanone adalah bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana. Dari kampung di NTT hingga pusat antariksa dunia, ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan titik awal perjalanan.

Meski namanya tak banyak dikenal di tanah kelahirannya, jejaknya telah terukir tinggi, bahkan hingga ke luar angkasa. (mi/mi)