
sergap.id, SOSOK – Pater Zacharias Ze, SVD – yang akrab disapa Pater Sakarias Se – bukan sekadar imam. Ia adalah jejak hidup yang masih terasa hingga hari ini.
Lahir di Mundemi, Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, NTT, pada 7 Desember 1912, ia menembus batas zamannya. Tahun 1945, di tengah perubahan besar bangsa dan gereja, ia ditahbiskan sebagai imam Katolik pertama dari etnis Keo, sebuah tonggak yang mengubah arah sejarah iman sekaligus identitas budaya masyarakatnya.
Ia wafat pada 5 Maret 1995. Namun kisahnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Pusara Pater Sakarias di Taman Makam Biara Bruder Kenosis (BBK) Ende kini menjadi magnet ziarah. Bukan sekadar tempat peristirahatan, tetapi ruang harap. Pelajar, mahasiswa, hingga umat sederhana datang silih berganti, mencari doa, mencari jawaban, atau sekadar menumpahkan beban hidup.
Semasa hidup, namanya beredar dari kampung ke kampung sebagai imam yang tidak banyak bicara, tetapi “berbicara” lewat doa. Ia dikenal mampu “menantang langit”: memanggil hujan saat kemarau menggigit, atau menahan hujan ketika pesta adat dan misa besar tak boleh terganggu. Bagi sebagian orang, itu mukjizat. Bagi yang lain, itu iman yang bekerja tanpa kompromi.
Orang sakit berdatangan. Mereka datang dengan tubuh lemah dan pulang dengan cerita yang sulit dijelaskan. Ada yang sembuh seketika setelah didoakan. Ada yang menemukan kekuatan baru untuk bertahan. Nama Sakarias Se pelan-pelan berubah dari sekadar imam menjadi simbol harapan.
Namun kekuatannya bukan hanya di altar.
Ia menyusuri pelosok, menembus kampung-kampung terpencil, menginap di rumah umat tanpa sekat. Di sanalah ia membangun sesuatu yang lebih dari pelayanan: kedekatan. Tak sedikit kisah beredar, rumah yang pernah disinggahinya dipercaya “terberkati”, anak-anak pemilik rumah tumbuh berhasil, bahkan mencapai posisi penting. Antara iman dan cerita rakyat, batasnya menjadi kabur, tetapi pengaruhnya nyata.
Sebagai putra Bheda, Mundemi – wilayah dengan tradisi lisan yang kuat – Pater Sakarias tidak memutus akar budaya. Ia justru merawatnya. Kesalehan yang ia hidupi berjalin erat dengan nilai-nilai Keo: kesederhanaan, keteguhan, dan harga diri. Di mata umat, ia bukan hanya gembala rohani, tetapi juga penjaga martabat budaya di tengah arus perubahan.
Hari ini, namanya masih hidup dalam cerita-cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Tidak semua bisa dibuktikan. Tidak semua perlu dibuktikan. Karena bagi banyak orang Keo, satu hal sudah cukup jelas: Pater Sakarias Se bukan hanya bagian dari sejarah, ia adalah iman yang terus bekerja, bahkan setelah kematian. (chris parera)





























