Pater Felix Bhagi, SVD
Pater Felix Bhagi, SVD

REFLEKSI singkat ini terinspirasi dari pemikiran Eric Weil yang berjudul l’homme comme raison dalam  karya logique de la philosophie (1996, 3-11). Sejatinya, Weil menulis sebagai pengantar refleksi tentang philosophie et violence – filsafat dan kekerasan. Menurut Weil, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengutuk dirinya melalui pertanyaan “siapakah aku?” Binatang yang lain hidup tanpa perlu legitimasi ontologis. Hanya manusia yang membangun cermin bernama définition, lalu terperangkap di dalam ‘definisi’ yang ia rancang sendiri.

Dikatakan bahwa manusia adalah animal rationale. Definisi ini terdengar luhur, padahal definisi ini, tidak lain adalah pengakuan akan kegagalan. Mengapa? Sebab jika ‘akal budi’ benar-benar adalah kodrat manusia, mengapa ‘akal budi’ harus diperalat sebagai strategi atau proyek? Tidak ada ikan yang mendefinisikan dirinya “hewan yang berenang.” Ia berenang. Titik. Tidak ada burung yang mendefiniskan dirinya sebagai ‘hewan yang terbang.’ Burung terbang. Titik.

Oleh karena itu, logos yang sering dimengerti juga sebagai ‘akal budi,’ bukanlah deskripsi. Ia adalah tuntutan. Ia adalah cambuk yang manusia ayunkan ke punggungnya sendiri melalui imperatif: “jadilah berakal.” “Beranilah menggunakan akal budimu sendiri – sapere aude! Ini semua lahir dari kecemasan karena bahwa “manusia itu belum berakal,” dan manusia sesungguhnya belum berani menggunakan akal budinya. Definisi bukan cermin, melainkan ‘pedang Damokles’ – sesuatu yang tampak megah dan indah dari luar, tetapi sebenarnya dibayangi ancaman besar yang terus mengintainya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Ada paradoksnya. Manusia percaya bahwa akal budinya membedakan dia dari binatang, tapi setiap hari, fakta berbicara lain, yaitu tentang tindakan saling membantai, saling menipu, takhyul, merusakkan martabat sesama yang lain, berhala pada kekuasaan bodoh,  yang bahkan serigalapun tidak melakukan hal itu.

Akal budi bukan atribut biologis dalam diri manusia. Akal budi adalah horizon, bukan organ. Ia adalah sesuatu yang selalu ‘belum,’ selalu ‘hampir,’ dan justru karena itulah, kerja akal budi selalu tetap dianggap manusiawi. Hegel menempatkan manusia dalam bentuk negativitas yang aktif. Jika binatang menerima dunia, manusia lebih dari binatang. Ia menyangkal dunia, menguasainya dan bahkan merusakkanya.  Ini dosa asal. Bahasa adalah bukti dosa asal itu. Kucing tidak berkata “ini bukan tikus.” Ia menerkam atau pergi. Hanya manusia yang menciptakan kata ‘bukan,’ dan berkata demikian, seluruh peradaban lahir. “Ini bukan hutan yang sejuk” maka ‘hutan itu’ harus diubah melalui ekstraktivisme. “Ini bumi yang subur” maka “bumi itu harus dikeruk isinya” melalui pertambangan dan pemboran. “Ini bukan pemimpin yang adil” maka harus ada revolusi. Manusia selalu mempertanyakan diri: “Aku bukan siapa-siapa,” dan karena lahirlah filsafat, pengetahuan, teknologi, agama, atau, sering terjadi  tindakan membunuh diri atau saling membunuh.

Jadi, akal budi bukanlah alat untuk memahami segala yang ada. Akal budi adalah palu untuk menghancurkan ‘yang ada’ agar ‘yang belum ada’ dipaksa lahir. Setiap kalimat yang tidak tautologis adalah kebohongan suci: ia mengklaim bahwa dunia harus tunduk pada hasrat. “Singa adalah kucing besar” yang terdengar netral. Padahal itu deklarasi perang: aku menolak melihat singa ini sebagai singularitas yang menggentarkan, aku harus memperkecil dia jadi kategori tertentu, agar bisa ia dikuasai.

Manusia membanggakan diri sebagai homo faber. Ia mencipta. Namun pertanyaan: mengapa manusia harus terus mencipta tanpa berhenti? Boleh jadi, jawabannya, karena setiap ciptaan adalah ‘batu nisan’ bagi kepuasan diri sebelumnya. Manusia menciptakan roda karena kaki terlalu capai untuk berjalan. Ia menciptakan Artificial Intelligent karena otak sudah lelah, dan bahkan mengecewakan. Jadi setiap teknologi adalah otobiografi kegagalan manusia untuk menerima diri.

Maka homo faber adalah Sisyphus yang bangga pada ototnya. Namun ia lupa bahwa batu itu adalah kutukan. Akal budi adalah alat, dan alat itu adalah sebagai budak ketidakpuasan. Selama ia jadi alat, ia hanya memperpanjang mata rantai. Kepuasan sejati tidak pernah datang, karena kepuasan membunuh hasrat, dan hasrat adalah napas dari akal-instrumental. Oleh karena itu, bunuhlah hasrat, dan akal budi akan mati!

Justru pada titik ini, filsafat berhenti untuk menjadi juru bicara, dan siap untuk menjadi algojo. Tugas filsuf bukan menjelaskan  bahwa ‘manusia itu mahluk berakal budi.’ Ini kerja marketing. Tugas filsuf adalah menunjukkan bahwa manusia harus berhenti ingin menjadi ‘berakal’ dengan cara memiliki akal. Ia harus menjadi akal itu sendiri, dengan cara bukan akal-akalan.

Caranya bagaimana? Caranya adalah ‘negasi atas negasi.’ Negasi pertama: aku menyangkal dunia. “Ini bukan rumahku, ini bukan tubuhku, ini bukan nasibku.” Dari situ lahir ilmu, seni, politik. Negasi kedua: aku menyangkal penyangkalanku. Sebab “ketidakpuasanku sendiri telah memenjarakan aku.” Ini lompatan yang mengerikan. Berhenti menjadikan dunia sebagai musuh, dan jangan melihat dengan  tatapan yang lapar di dalam kepala.

Ini yang disebut tradisi sebagai “pertobatan akal”. Akal berhenti jadi tukang, ia menjadi candi. Ia berhenti berkata “apa yang bisa kuubah?” dan mulai berdiam, hening, dan mendengar dengan saksama di dalam “apa yang ada”. Diam bukan kebodohan. Diam adalah kepenuhan setelah bahasa meledak karena tidak sanggup memuat realitas.

Oleh karena itu, ‘definisi’ terakhir manusia, bahwa ia bukan “hewan yang berakal,” melainkan “hewan yang bisa berhenti jadi hewan dengan cara berhenti menjadikan akal sebagai ‘tangan,’ melainkan menjadikannya ‘mata.’” Tangan selalu menuntut masa depan: menggenggam, mengancam, membangun, menghancur. Mata yang jernih hanya menerima sekarang. Nunc stans. Keabadian bukan waktu yang diperpanjang, melainkan waktu yang dibatalkan.

Ketika akal budi tidak lagi bernegosiasi dengan dunia, maka ia tidak mati. Ia justru bangkit sebagai kehadiran. Di titik ini, manusia tidak lagi “punya” akal. Ia adalah akal. Dan karena akal yang sejati tidak punya kepentingan, ia tidak lagi punya “aku” yang haus akan pengakuan, yang rakus posisi, dan mencari intrik. Justru ini adalah kebebasan, namun bukan bebas dari rantai, tapi bebas dari sipir yang bernama ‘hasrat.’

Filsafat mendidik tiap orang untuk mengkhianati ‘manusia lama’ agar ia sanggup menjadi ‘manusia baru.’ Filsafat menuntut bahwa semua definisi manusia  tentang dirinya  adalah alibi untuk menunda kehadiran. Buanglah! Manusia bukan homo sapiens. Bukan juga homo faber. Manusia adalah kemungkinan untuk berhenti menjadi homo. 

Setiap kali ketika kita  benar-benar melihat, tanpa nama, tanpa proyek, tanpa ‘ini dan itu,’  maka kita harus melihat bahwa  akal budi bukan kutukan, melainkan jalan pulang, kembali menjadi  insan yang berkeringat, lapar, dan takut. Tapi kita harus kembali dengan luka yang suci: kita tahu jalan pulang itu ada. Itulah mengapa kita terus berfilsafat. Bukan untuk mengetahui lebih banyak, melainkan agar sesekali, kita berani berhenti tahu terlalu banyak, dan mulai ‘berada.’ Ya, ‘berada seadanya,’ ‘bersahaja.’ Penulis: Felix Baghi SVD / Dosen Filsafat IFTK Ledalero