PARADE budaya dalam kegiatan Prabusaka bukan sekadar panggung hiburan. Di balik gemerlapnya, tersimpan satu pertaruhan serius: apakah generasi muda masih mau menjaga identitasnya, atau perlahan tenggelam dalam arus modernitas?

Di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, mahasiswa Nagekeo memilih sikap yang tegas. Mereka tidak datang sekadar meramaikan acara. Mereka hadir membawa simbol, nilai, dan harga diri budaya. Dalam balutan busana adat dan barisan yang rapi, mereka mengirim pesan jelas, budaya tidak boleh ditinggalkan, apalagi dilupakan.

Fenomena ini tidak berdiri di ruang hampa. Realitas di lapangan menunjukkan, semakin banyak generasi muda yang kehilangan kedekatan dengan akar budayanya. Tradisi mulai dianggap usang, identitas kian kabur, dan budaya lokal perlahan tersisih oleh gaya hidup global. Dalam konteks ini, kehadiran mahasiswa Nagekeo justru menjadi anomali yang patut diperhatikan.

Parade Prabusaka menjadi titik balik kecil, namun penting. Di tengah dominasi budaya populer, mahasiswa Nagekeo membuktikan bahwa warisan leluhur masih punya daya hidup. Busana adat bukan sekadar kostum, tetapi pernyataan sikap. Kekompakan barisan bukan sekadar koreografi, tetapi simbol solidaritas. Ini bukan pertunjukan biasa, ini adalah bentuk perlawanan terhadap lupa.

Lebih jauh, kegiatan ini membuka fakta lain, kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga arena pertarungan identitas. Di sinilah mahasiswa diuji, apakah akan larut dalam arus, atau justru menjadi penjaga nilai.

Prabusaka memperlihatkan bahwa ruang pendidikan masih bisa menjadi benteng kebudayaan, jika diisi dengan kesadaran kolektif.

Mahasiswa Nagekeo juga menegaskan satu hal penting,  merantau bukan alasan untuk tercerabut dari akar. Justru di tanah rantau, identitas diuji dan pada saat yang sama menemukan relevansinya. Mereka tidak sekadar belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga memikul tanggung jawab sebagai representasi budaya di ruang publik.

Namun pertanyaannya belum selesai, apakah upaya ini akan berhenti sebagai seremoni tahunan, atau menjadi gerakan yang berkelanjutan?

Tanpa dukungan serius dari kampus dan kesadaran mahasiswa secara luas, parade budaya berisiko kembali menjadi formalitas tanpa makna.

Parade Prabusaka tahun ini memberi sinyal kuat, budaya masih hidup, tetapi tidak otomatis bertahan. Ia harus diperjuangkan, diperkenalkan, dan dipertahankan secara sadar. Mahasiswa Nagekeo telah mengambil langkah itu.

Sisanya, tinggal menunggu, siapa yang akan ikut berdiri, dan siapa yang memilih diam saat identitas perlahan menghilang. (Penulis : Theresia Zaki/‎Prodi: PPKN/‎Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)