
sergap.id, MAUMERE – Sebuah dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur kembali menyeret nama institusi kepolisian ke sorotan publik. Kali ini terjadi di lingkungan Mapolres Sikka, Nusa Tenggara Timur, ketika seorang siswa SMP berinisial AHP (14) diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum anggota Satlantas Polres Sikka.
Peristiwa yang terjadi Selasa (12/5/2026) itu bermula dari razia lalu lintas biasa. Namun yang seharusnya berakhir dengan penindakan pelanggaran helm, justru berubah menjadi dugaan tindak kekerasan di area kantor polisi.
Pagi itu, AHP berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor tanpa mengenakan helm. Ia dihentikan petugas patroli di Jalan Ahmad Yani, Maumere. Motor yang dikendarainya kemudian diamankan dan dibawa ke area penitipan barang bukti Satlantas Polres Sikka.
Menurut pengakuan korban, dirinya tidak membawa uang untuk pulang ke rumah setelah kendaraan ditahan polisi.
Dalam kondisi bingung dan takut dimarahi orang tua karena pulang terlambat, AHP mengaku mencoba meminta bantuan ongkos ojek kepada salah satu anggota polisi yang berada di lokasi.
Namun permintaan itu disebut justru memicu amarah.
“Saya cuma minta uang Rp10 ribu buat ojek pulang. Dia langsung turun dari motor dan bilang saya main gila,” ungkap AHP.
Tak lama setelah itu, korban mengaku dipukul di bagian belakang kepala dan dicekik di area parkiran belakang Kantor Satlantas.
Fakta yang menjadi sorotan publik bukan hanya dugaan pemukulan terhadap anak di bawah umur, tetapi lokasi kejadian yang disebut terjadi di dalam kompleks kepolisian.
Area yang semestinya menjadi tempat penegakan hukum dan perlindungan masyarakat justru berubah menjadi lokasi dugaan kekerasan terhadap seorang pelajar.
AHP mengaku dipukul berkali-kali hingga menangis. Tidak ada pendampingan keluarga saat kejadian berlangsung.
Usai kejadian, korban pulang ke rumah dalam kondisi trauma dan mengeluh sakit pada bagian kepala.
Ketegangan memuncak ketika ayah korban mendatangi Mapolres Sikka untuk meminta klarifikasi atas perlakuan terhadap anaknya.
Menurut keluarga, suasana sempat memanas dalam pertemuan dengan pihak kepolisian. Diduga karena tekanan emosional dan syok berat, ayah korban tiba-tiba jatuh pingsan di area kantor polisi.
Ia langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit setempat.
“Bapak sempat marah karena anak dipukul. Pas keluar dari kantor polisi, bapak langsung jatuh,” kata AHP.
Korban juga menjalani pemeriksaan medis akibat luka di bagian kepala.
-
Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Tidak menerima dugaan tindakan brutal tersebut, keluarga korban resmi melapor ke Unit Propam Polres Sikka atas dugaan pelanggaran etik profesi anggota Polri.
Selain itu, laporan pidana juga diajukan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) terkait dugaan penganiayaan terhadap anak di bawah umur.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Sikka belum memberikan keterangan resmi terkait identitas oknum anggota Satlantas yang dilaporkan maupun langkah internal yang akan diambil terhadap kasus tersebut. (me/me)
































