Rombongan pejabat Perpustakaan Nasional cs sedang melihat langsung kondisi perpustakaan di SDI Towak.
Rombongan pejabat Perpustakaan Nasional cs sedang melihat langsung kondisi perpustakaan di SDI Towak.

sergap.id, NAGEKEO – Pujian pejabat pusat terhadap perpustakaan SDI Towak di Kelurahan Towak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, membuka ironi besar dunia pendidikan di daerah. Di balik label “perpustakaan terbaik” yang disematkan pemerintah, sekolah itu ternyata masih bergelut dengan keterbatasan buku, minim fasilitas, dan sarana pendidikan yang jauh dari memadai.

Fakta tersebut terungkap saat rombongan pejabat nasional dari Kemdikdasmen, Bappenas, dan Perpustakaan Nasional RI turun langsung ke SDI Towak pada Selasa (12/5/2026).

Kunjungan yang dikemas dalam agenda “Lokakarya Penuntasan Literasi Berbasis Ekosistem Pendidikan” itu awalnya berlangsung meriah. Rombongan pejabat pusat disambut tarian Ja’i dan sapaan adat oleh siswa-siswi SDI Towak.

Namun di balik seremoni itu, kondisi sebenarnya mulai terbuka.

Direktur Direktorat Agama, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas, Munawaroh, secara terbuka mengakui bahwa sekolah yang dipuji sebagai contoh perpustakaan terbaik di Nagekeo tersebut masih menghadapi persoalan mendasar, yakni keterbatasan sarana dan prasarana.

“SDI Towak bisa menjadi contoh sebagai sekolah dengan perpustakaan terbaik di Nagekeo. Persoalan yang masih dihadapi saat ini adalah keterbatasan sarana dan prasarana,” ujarnya di hadapan guru dan warga sekolah.

Pernyataan itu memunculkan pertanyaan serius, bagaimana mungkin perpustakaan yang disebut terbaik justru masih kekurangan buku dan fasilitas dasar?

Kepala SDI Towak, Elisabet Keo, mengungkapkan langsung kondisi sekolahnya kepada rombongan dari Jakarta. Ia menyebut koleksi buku di perpustakaan masih sangat terbatas, sementara minat baca siswa terus meningkat.

“Kami sangat membutuhkan bantuan sarana dan prasarana. Jumlah buku di perpustakaan masih sangat terbatas, sementara minat baca anak-anak sangat tinggi,” ungkapnya.

Pengakuan itu memperlihatkan adanya kesenjangan besar antara semangat literasi yang terus digaungkan pemerintah dengan kondisi riil sekolah-sekolah di daerah terpencil.

Ironisnya, SDI Towak justru mampu bertahan dan berkembang berkat inisiatif guru serta dukungan masyarakat setempat, bukan karena fasilitas yang memadai dari negara. Perpustakaan sekolah yang kini dijadikan contoh ternyata dibangun dari keterbatasan dan kerja swadaya.

Kunjungan pejabat pusat ini sekaligus menjadi tamparan bagi perhatian pemerintah terhadap pendidikan dasar di daerah. Sebab, ketika sekolah dengan fasilitas terbatas saja sudah dianggap terbaik, patut dipertanyakan bagaimana kondisi sekolah lain di pelosok negeri ini?

Meski demikian, Munawaroh memastikan seluruh kebutuhan SDI Towak telah dicatat dan akan diperjuangkan setelah kunjungan tersebut.

“Ibu kepala sekolah sudah menyampaikan berbagai kekurangan kepada kami, dan semuanya sudah kami catat. Sekembalinya dari sini kami akan berupaya memenuhi permintaan yang menjadi kebutuhan sekolah,” tegasnya. (sg/sg)