
sergap.id, JAKARTA – Aksi penolakan terhadap proyek geothermal di Pulau Flores dan Lembata terus meluas. Tak hanya di ibukota kabupaten-kabupaten yang ada di Pulau Flores dan Lembata, tapi juga berlangsung di Jakarta. Kali ini dilakukan oleh Aliansi Nagekeo Bersatu (ANB) dan Koalisi Masyarakat Flores (KMF) di depan Menara BCA, Grand Indonesia, Jalan MH Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, Kamis, 31 Juli 2025.
Dalam orasinya, Aster Leta, juru bicara aksi, mengatakan, geothermal berpotensi merugikan masyarakat lokal, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun budaya.
Karena itu, pimpinan Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW), yakni lembaga pembangunan geothermal asal Jerman yang berkantor di Jakarta, didesak untuk mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap proyek ini.
“Kami meminta KfW mendengar suara eksistensial masyarakat Flores. Kami berdiri tegak bersama para Uskup se-Regio Nusa Tenggara yang telah secara profetis menyuarakan penolakan terhadap proyek ini,” tegas Aster.
Para pendemo juga menyatakan komitmen mereka untuk mendukung sikap tegas Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, S.H., dan Uskup Agung Ende, Mgr. Budi Kleden, yang dengan tegas menolak proyek panas bumi tersebut.
“Kerusakan sumber mata air, hilangnya habitat flora dan fauna, hingga terganggunya relasi masyarakat adat dengan lingkungannya adalah harga yang terlalu mahal. Kearifan lokal akan terkikis jika proyek ini tetap dipaksakan,” ungkap Aster.
Sementara Ando Pea, koordinator lapangan aksi, menyoroti persoalan hak tanah ulayat. Sebab, menurutnya, lokasi proyek tersebut berada di atas tanah adat yang tidak pernah dilepaskan secara sah dan sukarela oleh pemilik hak ulayat. Apalagi komunikasi antara pengembang dengan masyarakat sangat minim dan tidak inklusif. Akhirnya masyarakat setempat tidak memahami secara utuh dampak jangka panjang dari proyek tersebut.
“Proyek ini dijalankan secara tertutup, tanpa transparansi, dan minim partisipasi publik. Masyarakat merasa dipinggirkan, dan ini bertentangan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang inklusif,” tegas Ando Pea, koordinator lapangan aksi.
-
Bukan Anti Kemajuan, Tapi Tolak Eksploitasi
ANB menegaskan bahwa mereka bukan anti kemajuan energi terbarukan. Namun menolak eksploitasi pembangunan berlebihan yang merugikan dan mengorbankan masa depan masyarakat lokal.
“Tanah Flores, bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah jati diri dan warisan leluhur kami. Kami berdiri bukan hanya untuk diri kami, tetapi juga demi anak cucu kami kelak,” tegas Aster. (sp/sp)




























