HARI INI, 1 Juni, ketika bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, polarisasi politik, intoleransi, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan menguatnya arus individualisme, Ende kembali berbicara kepada Indonesia.

Kota kecil di pesisir selatan Flores itu tidak hanya menyimpan kenangan sejarah, tetapi juga menyimpan pesan yang tetap relevan bagi masa depan bangsa. Ende mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak dibangun oleh kebencian, melainkan oleh perjumpaan; tidak lahir dari penyeragaman, melainkan dari penghormatan terhadap perbedaan; tidak bertumbuh melalui dominasi satu golongan, melainkan melalui dialog yang mempersatukan.

Ketika dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ende pada tahun 1934–1938, Bung Karno memang belum merumuskan Pancasila secara resmi sebagaimana disampaikan dalam pidato 1 Juni 1945.

Namun banyak sejarawan sepakat bahwa masa pembuangan di Ende merupakan periode penting dalam pematangan intelektual dan spiritual yang mempersiapkan lahirnya gagasan-gagasan dasar Pancasila. Di tanah yang sunyi itu, jauh dari hiruk-pikuk politik Jawa, Bung Karno memperoleh ruang untuk merenung tentang hakikat bangsa Indonesia yang akan dibangun kelak.

Di bawah naungan pohon sukun yang kini menjadi simbol sejarah, Bung Karno menghabiskan banyak waktu untuk membaca, berpikir, dan berdialog. Ia berjumpa dengan masyarakat Flores yang hidup dalam keberagaman budaya dan agama. Ia menyaksikan bagaimana umat Islam, Katolik, dan penganut tradisi lokal dapat hidup berdampingan dalam suasana saling menghormati. Pengalaman konkret inilah yang memperkaya refleksinya tentang dasar-dasar kehidupan bersama dalam sebuah bangsa yang majemuk.

Yang sering terlupakan dalam narasi sejarah adalah peran para misionaris Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) yang berkarya di Ende pada masa itu. Bung Karno menjalin hubungan intelektual yang akrab dengan para imam SVD di Biara Santo Yosef Ende. Dalam berbagai kesempatan, ia berdiskusi panjang dengan para misionaris sambil menikmati secangkir kopi. Percakapan-percakapan tersebut tidak hanya menyentuh soal agama, tetapi juga filsafat, kemanusiaan, kebudayaan, demokrasi, nasionalisme, dan masa depan bangsa-bangsa yang sedang berjuang melepaskan diri dari kolonialisme.

Dalam dialog-dialog itulah semakin matang kesadaran bahwa bangsa Indonesia memerlukan dasar yang mampu mempersatukan keragaman tanpa menghilangkan identitas masing-masing. Ide tentang religiositas yang menghormati Tuhan tanpa menjadikan negara milik satu agama tertentu mulai menemukan bentuknya. Demikian pula gagasan tentang kemanusiaan universal yang melampaui sekat suku, ras, dan agama; nasionalisme yang tidak sempit dan eksklusif; demokrasi yang berakar pada musyawarah; serta keadilan sosial yang berpihak pada rakyat kecil. Kelima unsur ini kelak tampil sebagai substansi utama Pancasila.

Karena itu, ketika Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 menyampaikan rumusan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila, sesungguhnya benih-benih pemikiran itu telah lama bertumbuh dalam permenungan dan dialog yang dijalaninya selama masa pembuangan di Ende. Pancasila memang digali dari bumi Indonesia, tetapi salah satu tempat penggalian yang paling subur adalah Ende.

Dalam perspektif ini, Ende bukan sekadar lokasi pengasingan seorang tokoh politik. Ende adalah laboratorium kebangsaan.

Di sana Bung Karno belajar bahwa Indonesia hanya dapat bertahan apabila dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia, keterbukaan terhadap perbedaan, dan kesediaan untuk hidup bersama dalam solidaritas. Ende menjadi ruang perjumpaan antara tradisi Nusantara, pemikiran modern, iman religius, dan cita-cita kemerdekaan.

Peran Ende dan para misionaris SVD dalam sejarah bangsa tidak terletak pada klaim sebagai pencipta Pancasila, melainkan sebagai sahabat dialog yang membantu menyediakan ruang intelektual dan spiritual bagi pematangan gagasan-gagasan yang kelak menjadi dasar negara. Melalui budaya dialog, penghargaan terhadap martabat manusia, dan keterbukaan terhadap pluralitas, mereka ikut menyumbangkan batu-batu fondasi bagi bangunan Indonesia yang sedang diperjuangkan.

Hari ini, ketika kita menatap kembali Ende, kita tidak hanya mengenang masa lalu. Kita sedang diingatkan akan sebuah tugas sejarah. Bangsa ini akan tetap berdiri kokoh bukan karena keseragaman, tetapi karena persaudaraan; bukan karena dominasi satu kelompok, tetapi karena keadilan bagi semua; bukan karena politik kebencian, tetapi karena dialog yang menghormati martabat manusia.

Dari Ende, Bung Karno belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpisah, melainkan panggilan untuk bersatu. Dari Ende pula Indonesia belajar bahwa kebangsaan yang sejati hanya mungkin tumbuh apabila religiositas, humanisme, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial berjalan bersama.

Karena itu, Ende tidak pernah sekadar menjadi titik di peta Indonesia. Ende adalah salah satu rahim intelektual tempat Pancasila bertumbuh dalam keheningan, permenungan, dan dialog. Dan selama Indonesia tetap setia pada nilai-nilai itu, selama itulah api Pancasila akan terus menyala—dari Ende untuk Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila

“Aku menggali Pancasila dari bumi Indonesia.” Kalimat Bung Karno itu menemukan salah satu maknanya yang paling mendalam ketika kita menatap kembali Ende: tanah sunyi tempat gagasan besar tentang Indonesia diperdalam, dimurnikan, dan dipersiapkan untuk menjadi dasar kehidupan bersama seluruh bangsa. Untuk lebih dalam dan akademik, silahkan membaca buku Tafsir Karya-Karya Sukarno, telaah hermeneutis atas Surat dan Tonil di Ende, kajian  akademisi NTT: Leo Kleden, Felix Baghi , Philip Tule, Gregor Neonbasu, Maria Matildis Banda, Marselus Robot, Yuke Ardhiati, Eduardus Dosi dan Alo Liliweri.  Buku dengan pengantar dari Megawati Soekarnoputri ini menjadi cikal bakal penemuan “hidden nucleus” warisan Soekarno yang paling penting untuk fundasi bangunan bangsa dan negara ini. (Felix Baghi/Dosen filsafat IFTK Ledalero)