Dukungan ini sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani oleh mantan Presiden AS, Barack Obama pada tahun 2016 untuk paket keseluruhan bantuan militer senilai US$ 38 miliar atau Rp 532 triliun selama dekade 2017-2028.
Dukungan ini sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani oleh mantan Presiden AS, Barack Obama pada tahun 2016 untuk paket keseluruhan bantuan militer senilai US$ 38 miliar atau Rp 532 triliun selama dekade 2017-2028.

sergap.id, DIV – Pemerintah Amerika Serikat (AS) belum juga mengendorkan dukungannya kepada Israel. Bahkan suntikan dana ke negara Yahudi tersebut terus meningkat.

Ada beberapa alasan penting mengapa AS terus memberikan bantuan kepada Israel, termasuk komitmen mereka mendukung pembentukan negara Israel tahun 1948.

Israel juga dipandang AS sebagai sekutu paling penting di Timur Tengah, dengan tujuan bersama dan komitmen bersama terhadap nilai-nilai demokrasi.

Layanan Penelitian Kongres AS (The US Congressional Research Service) menilai bahwa bantuan luar negeri AS telah menjadi komponen utama memperkuat ikatan hubungan AS-Israel.

“Para pejabat AS dan banyak anggota parlemen telah lama menganggap Israel sebagai mitra penting di kawasan itu,” tulis Laporan Penelitian Kongres AS, dikutip BBC, Minggu (27/6/21).

Badan bantuan luar negeri pemerintah AS (US Foreign aid) juga menyatakan, “Bantuan AS memastikan Israel mempertahankan Qualitative Military Edge (QME) atas potensi ancaman regional.”

QME adalah sebuah konsep dalam kebijakan luar negeri AS di mana negeri yang dipimpin Presiden Joe Biden ini berkomitmen menjaga Israel dalam koridor keunggulan militer kualitatif dalam hal teknologi, taktis, dan keuntungan lainnya.

Badan ini juga menyatakan “bantuan AS ditujukan untuk memastikan bahwa Israel cukup aman untuk mengambil langkah-langkah bersejarah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Palestina dan untuk perdamaian regional yang komprehensif.”

Upaya AS memastikan Israel dapat mempertahankan diri dari ancaman di kawasan itu telah menjadi landasan kebijakan luar negeri AS bagi presiden baik Partai Demokrat maupun Republik dalam beberapa dekade.

Kebijakan Partai Demokrat pada 2020 memang menyatakan “dukungan kuat” bagi Israel, tetapi beberapa pendukung partai ini di lain pihak mulai mempertanyakan komitmen bantuan AS.

Hal itu yang coba digalakkan oleh Senator Bernie Sanders dan senator dari Partai Demokrat lainnya yang mulai bergerak untuk mencoba menghentikan rencana penjualan senjata berpemandu presisi senilai US$ 735 juta (£ 518 juta) atau setara Rp 10 triliun (kurs Rp 14.000/US$) ke Israel.

Itu sebabnya Joe Biden kerap menghadapi pertanyaan dari beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat, partai pendukungnya, beberapa waktu lalu tentang jumlah bantuan yang dikirim AS ke Israel sejauh ini.

Senator Sanders mengatakan AS harus “memperhatikan dengan seksama” bagaimana uang dari AS dibelanjakan oleh Perdana Menteri Israel.

Pada tahun 2020, AS memberikan US$ 3,8 miliar atau setara dengan Rp 53 triliun bantuan ke Israel. Hampir semua bantuan ini untuk militer.

Dukungan ini datang sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani oleh mantan Presiden AS, Barack Obama pada tahun 2016 untuk paket keseluruhan bantuan militer senilai US$ 38 miliar atau Rp 532 triliun selama dekade 2017-2028.

Jumlah bantuan naik sekitar 6 persen (disesuaikan dengan inflasi) dari komitmen belanja untuk dekade sebelumnya.

Selain itu, tahun lalu AS memberikan dana senilai US$ 5 juta atau Rp 70 miliar untuk memberikan pemukiman bagi para migran di Israel. Negara ini memiliki kebijakan lama untuk menerima orang Yahudi dari luar sebagai warga negara.

Selama bertahun-tahun, bantuan AS telah membantu Israel mengembangkan salah satu militer paling maju di dunia, dengan dana yang memungkinkan mereka untuk membeli peralatan militer canggih dari AS.

Misalnya, Israel telah membeli 50 pesawat tempur F-35, yang dapat digunakan untuk serangan rudal (27 pesawat sejauh ini telah dikirim), dengan biaya masing-masing sekitar US$ 100 juta atau Rp 1,4 triliun.

Tahun lalu Israel juga membeli delapan pesawat KC-46A Boeing ‘Pegasus’ dengan harga sekitar US$ 2,4 miliar atau Rp 34 triliun. Ini mampu mengisi bahan bakar pesawat seperti F-35 di udara. (box/box)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here