Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali
Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali

sergap.id, LEWOLEBA –  Mr. Ben, seorang berkebangsaan Inggris, pakar di bidang pengelolaan air bersih, pernah melakukan survei dan membuat rancangan biaya pemanfaatan sumber air Weilain guna memenuhi kebutuhan masyakatan di dua kecamatan di Kabupaten Lembata, yakni Omesuri dan Buyasuri.

Survei dilakukan atas permintaan masyarakat, karena bertahun-tahun masyarakat setempat hanya mengandalkan air hujan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih. Padahal di daerah itu ada sumber air yang bisa dimanfaatkan. Hanya saja, lokasi sumber air terlalu jauh dari pemukiman dan lokasinya berada di bawah kaki bukit dengan ketinggian 600 hingga 700 meter.

Dari hasil analisa dan perhitungan harga pipa hingga pompa air bertenaga surya, Mr Ben menentapkan rancangan anggaran sebesar Rp 15 miliar. Angka ini kemudian didiskusikan di DPRD dan mendapat persetujuan Bupati Lembata.

Sayangnya, Mr Ben kemudian didepak, dan hasil analisanya tidak dipakai. Bupati bersama kroninya membuat survei dan analisa baru serta menetapkan besaran anggaran baru sejumlah Rp 20 miliar.

Proyek kemudian dikerjakan dengan pompa air menggunakan dinamo listrik. Hasilnya, beberapa saat setelah ujicoba, dinamo terbakar, dan pemerintah kemudian menganggarkan lagi Rp 500 juta untuk mengatatasi hal itu.

Tidak hanya itu, dengan alasan pemeliharaan dan penambahan jaringan perpipaan, tiap tahun pemerintah terus menambah anggaran mulai dari Rp 200 juta hingga 700 juta.

“Total sekarang sudah 30 miliar lebih. Tapi air mati hidup. Sebagian pipa malah sudah hilang. Diduga masyarakat yang cabut buang, karena air tidak pernah mengalir”, beber Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Lembata, Simeon Lake, kepada SERGAP, Minggu (24/10/21).

“Padahal waktu itu, Mr Ben memberi jaminan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa setelah air sudah dinikmati oleh masyarakat, pihaknya yang akan melakukan pemeliharaan jaringan air dengan tanpa ada batas waktu”, ucap Simeon.

Proyek air bersih ini diambil dari mata air Weilain yang berada di Desa Leubatang, Kecamatan Omesuri dan dibangun sejak 2012, masa pemerintahan periode pertama almarhum Bupati Eliaser Yantji Sunur.

Proyek ini merupakan inisatif Fraksi PKB karena melihat orang Kedang yang terdiri dari Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri sangat sulit mendapatkan air bersih.

Inisiatif ini kemudian disambut oleh pemerintah dengan menganggarkan Rp 20 miliar tahap pertama. Sayangnya, proyek ini berjalan tak normal. Isu tak sedap menemani perjalanan proyek ini. Mulai dari isu korupsi hingga nepotisme.

Kabarnya, mulai dari bupati hingga kadis PUPR dan PPK, diduga keciprat dana tersebut, termasuk mantan Kadis PUPR yang kini menjabat sebagai Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali.

“Weilain itu perencanaannya dari kami, tapi pelaksanaanya Pak Sil. Saya hanya (tangani) pencairan tahap kedua. Tahap terakhirnya saya tidak ikut”, ujar Tapobali saat ditemui SERGAP di Kantor Bupati Lembata, Senin (1/11/21) siang.

Sejumlah warga Kedang yang ditemui SERGAP secara terpisah, mengatakan, kalau saja proyek ini dikerjakan oleh Mr Been, mungkin saja kondisinya tidak kacau balau seperti sekarang ini. Karena saat itu Mr Been ingin menggunakan tenaga surya sebagai pembangkit, bukan listrik seperti sekarang.

“Kami senang ada proyek ini, tapi sekarang ini, air kadang jalan, kadang tidak”, kata Nus, warga Kedang, saat menemani SERGAP melihat dari dekat sumber air Weilain, belum lama ini. (reds/reds)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here