
sergap.id, HALILULIK – Kabar duka menyelimuti daratan Timor. Bruder Yosef Schoendorff, yang lebih dikenal sebagai Bruder Beatus, menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 26 April 2026, pukul 07.00 WITA di Rumah Sakit Katolik Marianum Halilulik, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Kepergiannya tidak hanya menjadi kehilangan bagi Gereja, tetapi juga bagi masyarakat kecil yang selama puluhan tahun disentuh langsung oleh karya nyata tangannya.
“Di sini kalau ada pastor, suster, atau bruder meninggal, lonceng gereja dibunyikan. Dari situ kami tahu. Saya langsung ke rumah sakit,” ungkap Boni Halek, tokoh masyarakat Halilulik, kepada SERGAP, Selasa (27/4/26) pagi.
Dentang lonceng itu bukan sekadar penanda kematian, ia menjadi simbol berakhirnya sebuah pengabdian panjang yang nyaris tak tertandingi.
Selama 62 tahun, misionaris asal Jerman ini mengabdikan hidupnya di tanah Timor. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Timor pada tahun 1964, Bruder Beatus tidak pernah benar-benar “pergi”. Ia memilih tinggal, bekerja, dan hidup bersama masyarakat hingga akhir hayatnya.
Lahir pada 29 Januari 1932 di kawasan perbatasan Jerman–Prancis, masa kecilnya ditempa keras oleh Perang Dunia II. Namun dari reruntuhan perang, tumbuh panggilan hidup yang kelak mengubah nasib ribuan orang di Timor.
Sebuah pengalaman spiritual di masa muda, suara misterius yang memanggilnya masuk biara—menjadi titik balik hidupnya. Ia meninggalkan kehidupan biasa, masuk biara SVD, dan akhirnya diutus bukan ke Afrika seperti impiannya, melainkan ke Indonesia, sebuah negeri yang bahkan belum ia kenal di peta dunia saat itu.
Namun justru di tanah asing inilah ia menemukan tujuan hidupnya.
Dari Roma ke Jakarta, lalu ke Ende, hingga akhirnya tiba di Atapupu dan berjalan kaki menuju Atambua. Langkah-langkah awalnya penuh keterbatasan. Ia datang bukan dengan kemewahan, tetapi dengan tekad dan iman.
Di Kupang, ia membangun gereja dan sekolah di tengah kondisi masyarakat yang dilanda kemiskinan dan kelaparan. Material bangunan pun harus ia datangkan dari Eropa. Tapi itu tidak menghentikannya.
Ia tidak sekadar membangun Gedung, ia membangun harapan.
Ketika tugas itu selesai, ia tidak mencari kenyamanan. Ia justru kembali ke Belu, ke kampung Labur, dan memulai sesuatu yang lebih mendasar: membangun manusia.
Dengan dana pribadi dari keluarganya di Jerman, ia membeli lahan lebih dari enam hektar dan mendirikan pusat pelatihan keterampilan. Di tempat itu, anak-anak muda putus sekolah diajarkan bertukang, menjahit, bertani, beternak, hingga memasak.
Di tangan Bruder Beatus, mereka yang sempat kehilangan arah, menemukan masa depan.
Kini, sosok sederhana yang dikenal ramah, pekerja keras, dan penuh kasih itu telah tiada. Namun jejaknya tidak ikut terkubur.
Ia hidup dalam setiap rumah yang dibangun, dalam setiap anak muda yang pernah ia latih, dan dalam setiap harapan yang pernah ia nyalakan.
Bruder Beatus mungkin telah pergi. Tapi warisannya tetap tinggal, kokoh, membumi, dan tak tergantikan.
BACA JUGA: Bruder Beatus, Rasul Keterampilan Bagi Anak Putus Sekolah di Timor
Ucapan duka pun datang silih berganti, dari masyarakat kecil hingga Bupati Belu, Willy Lay. SELAMAT JALAN BRUDER, SURGA TEMPATMU! (chris parera)































