Pulau Atauro Timor Leste
Wisatawan saat berkunjung ke Pulau Atauro, Timor Leste.

sergap.id, TILES – Ini adalah Pulau Atauro, sebuah hamparan batuan vulkanik sepanjang 25 kilometer di lepas pantai utara Timor Leste, negara termuda di dunia.

Tidak ada pariwisata massal di Atauro, tapi Estevao Marques yang berprofesi sebagai nelayan dan pemilik losmen sederhana, sedang menghadapi persoalan sumber daya laut di sekitarnya yang dieksploitasi secara berlebihan hingga semakin menipis potensinya.

Untuk itu, Estevao Marques dan warga Atauro lainnya menghidupkan kembali peraturan pengelolaan lahan tradisional yang dikenal sebagai Tara Bandu, sembari mengembangkan pariwisata berbasis warga.

Tujuannya adalah untuk melestarikan terumbu karang dengan keanekaragaman hayati paling banyak di dunia.

“Timor Leste memiliki beberapa sumber daya laut paling signifikan di dunia,” kata Manuel Mendes, Direktur Conservation International untuk kawasan Timor Leste.

Organisasinya adalah yang pertama kali meriset secara ekstensif perairan di Atauro pada tahun 2016.

Tim ilmuwan kelautan dari Conservation International menyimpulkan bahwa Atauro memiliki rata-rata spesies ikan karang tertinggi di dunia.

Tim pakar ini mencatat setidaknya terdapat 253 spesies terumbu karang unik di 10 lokasi penyelaman selama penelitian mereka. Total ada 642 spesies berbeda yang mereka catat selama riset.

Beberapa bulan kemudian, survei lain mencatat 2.287 paus dan lumba-lumba yang bermigrasi dari total 11 spesies di lepas pantai.

Tercatat juga populasi dugong, tiga spesies penyu, dan buaya air asin yang melintasi Selat Ombai-Wetar dari daratan Timor.

“Mereka menemukan banyak sistem terumbu karang yang penting dan banyak spesies ikan. Jumlah total spesies telah meningkat sejak saat itu. Kami memiliki karang yang indah dan tangguh, dan sekarang sebagian besar perairan ini berada di Kawasan Konservasi Laut,” kata Mendes seperti dikutip SERGAP dari BBC Indonesia, Selasa 915/6/21).

Sejak survei 2016, otoritas Timur Leste menetapkan 12 kawasan konservasi perairan di atas terumbu karang. Ini dilakukan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang menakjubkan untuk generasi mendatang.

Adapun inisiatif terkait penginapan lokal dan aktivitas pariwisata berhasil memberikan pendapatan tambahan bagi nelayan Atauro, sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

“Tara Bandu adalah perjanjian antara masyarakat, leluhur, dan lingkungan yang mengelola sumber daya alam, konflik sosial, sekaligus hubungan spiritual,” kata Birgit Hermann, manager Blue Ventures untuk wilayah Timor Leste.

Ini adalah kelompok konservasi lain yang bekerja di Atauro.

“Masyarakat Timor Leste memiliki keyakinan berbasis animisme yang kuat. Mereka telah hidup harmonis dengan alam selama ribuan tahun. Dan saat ini hukum adat Tara Bandu bangkit kembali.”

Tara Bandu digunakan untuk melarang eksploitasi sumber daya tertentu. Secara harfiah, Tara Bandu berarti “Hukum Gantung”. Untuk menandakan bahwa Tara Bandu sedang berlaku di suatu tempat, simbol upacara yang melambangkan larangan digantung di tiang kayu.

Tara Bandu bersifat fleksibel. Larangan eksploitasi dapat diterapkan pada satu spesies yang terancam punah atau digunakan untuk melindungi seluruh terumbu karang di kawasan konservasi laut.

Hermann menjelaskan bagaimana data yang dipasok nelayan lokal dan kelompok konservasi seperti Blue Ventures membantu masyarakat mengelola sumber daya bawah laut.

Berdasarkan data itu pula, warga lokal memutuskan ketentuan Tara Bandu mana yang akan mereka terapkan, termasuk lokasinya.

“Kami membantu menyerahkan data ke tangan nelayan sehingga mereka bisa menerapkan pendekatan mereka sendiri untuk perlindungan laut dan pengelolaan perikanan, seperti penutupan terumbu karang sementara dan permanen,” kata Hermann.

Tara Bandu sudah eksis sejak lama, tapi masyarakat setempat baru dapat menerapkannya sejak Timor Leste merdeka dari Indonesia tahun 2002.

Penduduk Pulau Atauro yang berjumlah sekitar 10 ribu orang sangat bergantung pada laut, baik untuk sumber pangan, penghasilan, dan akses transprotasi.

“Tara Bandu adalah cara nenek moyang kami melindungi alam dan sumber daya alam, tapi sistem ini benar-benar diadopsi oleh Timor Leste setelah kemerdekaan,” kata Mendes.

Dia mengaku merasakan kebangkitan teknik konservasi tradisional di tahun-tahun awal kemerdekaan.

“Selama Indonesia hukumnya ketat, banyak pegawai negeri, penjaga hutan, polisi, militer. Orang Indonesia punya cukup orang untuk menguasai sumber daya alam,” ucapnya.

Timor mengalami penjajahan dan eksploitasi selama berabad-abad. Portugis datang untuk mencari kayu cendana dan rempah-rempah pada tahun 1500-an.

Ketika Belanda mulai menjajah bagian barat Timor satu abad setelahnya, pulau terbelah dua oleh dua kekuatan kolonial yang saling bersaing.

Timor Barat menjadi bagian dari Indonesia setelah Perang Dunia Kedua, tapi bagian timur Timor tetap menjadi koloni Portugis sampai tahun 1975.

Saat itu, revolusi yang tiba-tiba terjadi di Lisbon mendorong warga wilayah ini mendeklarasikan kemerdekaan di Dili. Namun Timor Leste hanya menikmati kebebasan selama sembilan hari sebelum militer Indonesia melanggar batas dan melancarkan invasi yang menghancurkan dari Timor barat pada Desember 1975.

Warga Timor Leste tidak merasakan kemerdekaan sampai tahun 2002. Kawasan itu dikecamuk pendudukan dan perang gerilya selama bertahun-tahun .

“Setelah kemerdekaan, jumlah penjaga hutan dan polisi terbatas. Sangat sulit bagi kami untuk mengontrol sumber daya alam, terutama hutan dan perikanan,” kata Mendes, yang turut mendirikan taman nasional pertama Timor-Leste pada 2008 di jauh bagian barat negara itu.

“Makanya kami promosikan upacara adat ini. Kami ingin memberi kekuatan lebih kepada masyarakat.

“Tara Bandu menjadi cara untuk menyatukan kembali masyarakat setelah penjajahan, dan cara untuk melindungi sumber daya alam,” ujarnya.

Atauro terletak di tepi selatan Segitiga Terumbu Karang, suatu wilayah lautan luas yang meliputi wilayah pesisir Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.

Segitiga Terumbu Karang dikenal sebagai Amazon of the Seas, tapi bahkan di sini, keanekaragaman hayati Atauro dianggap luar biasa.

Keanekaragaman hayati di Atauro dipengaruhi lokasi yang berada di antara dua selat laut dalam, yang dialiri Arus Lintas Indonesia, arus hangat dan kuat yang mendorong air dari Pasifik ke Samudra Hindia.

Hal ini menciptakan tempat makan yang kaya bagi segenap makhluk laut.

Arus kuat itu dan perairan dalam yang membawa makhluk laut ke Atauro membuat nelayan seperti Marques melempar jaring di kawasan pantai.

Aktivitas itu menyebabkan penangkapan ikan yang berlebihan. Di area itulah Tara Bandu pernah diterapkan untuk membangun kawasan konservasi laut dan area di mana saya menghabiskan sisa pagi untuk snorkeling.

Limpasan musim hujan dari pulau mengurangi jarak pandang, tapi koral masih bersinar melalui sedimen.

Meski bepergian di Timor Leste penuh tantangan karena infrastruktur yang minim, ada banyak hal yang menarik bagi para pelancong yang gemar berpetualang.

Gunung tertinggi di Timor Leste yang setinggi 2.986 meter dapat didaki pada perjalanan akhir pekan dari Dili.

Turis juga dapat melihat cerita kelam yang mengharukan tentang perang gerilya dan protes mahasiswa di Arsip dan Museum Perlawanan di ibu kota.

Ada pula aktivitas snorkeling yang sangat menyenangkan di sekitar perairan Pulau Jaco yang terpencil di ujung barat Timor Leste.

Setidaknya di Timor Leste terdapat 20 bahasa dan dialek yang dapat Anda pelajari saat melakukan perjalanan melintasi negara ini.

Pariwisata masih dalam tahap awal di sini. Politikus bernama Harold Moucho mengungkap tantangan yang dihadapi Timor Leste, termasuk saat pemerintah setempat menolak tawaran sebuah perusahaan yang berbasis di Las Vegas untuk membangun resor kasino di Atauro.

“Kami ingin membuat wilayah kami tetap indah,” kata Moucho.

“Ada beberapa tempat menyelam terbaik di dunia di sini. Kami tidak ingin menjadi Bali yang lain.”

Namun seiring cadangan minyak di Laut Timor mengering, resor yang menguntungkan bisa menjadi sumber pendapatan yang menarik bagi pemerintah.

Mendes mengingatkan tentang apa yang dipertaruhkan di tempat-tempat seperti Atauro.

“Jika kami kami kehilangan keindahan terumbu bawah laut, ini bukan hanya tentang Timor. Ini kerugian bagi seluruh dunia,” katanya. (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Travel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here