Oktovianus Seran S.IP, M.Si, Mantan Dosen Fisipol Unimor Kefamenanu
Oktovianus Seran S.IP, M.Si, Mantan Dosen Fisipol Unimor Kefamenanu.

JALAN kebenaran berpolitik, berbicara mengenai politik hampir mirip berbicara tentang cinta. Bisa jadi tidak ada habisnya dan tidak ada ujung jika dibahas.

Semua berhak memberikan pandangan dan argumen yang paling benar menurut dirinya. Mungkin saja demikian sebab keduanya memiliki sifat yang abstrak tapi pada dasarnya bertujuan untuk kebaikan.

Politik hampir pasti beriringan dengan kepentingannya, maka cinta sudah sewajarnya berdampingan dengan nafsunya. Jika kurang tepat dalam memutuskan sikap politik, maka hasilnya bisa jadi akan berujung pada kepentingan meski diawal langkah mengambil politik bertujuan untuk kebaikan.

Begitu juga kira-kira dengan cinta, ketika awal perjalanan dimulainya kisah yang dengan mudahnya seseorang mengatakan “I Love You” tapi pada akhirnya berujung pada kesesatan yang berdurasi sekian menit saja. Atau bahkan, bisa berujung pada pengkhianatan, dan bercucuran air mata penyesalan.

Suhu Politik!

Sama halnya, saat ini situasi politik di Kabupaten Malaka mulai memanas. Namun begitu, saya tidak terlalu kaget akan hal ini. Sebab sejak lama suhu politik di Malaka sendiri, jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) memang sudah demikian. Apalagi, pasca terjadi banyak kasus-kasus korupsi di Malaka yang lagi marak di bicarakan!

Setidaknya masyarakat sudah memahami yang terbaik dalam menentukan pilihan politik untuk lima tahun mendatang. Dalam filsafat, epistemologi didefinisikan sebagai kajian mengenai ciri-ciri pengetahuan manusia. Pertanyaan-pertanyaan penting dalam epistemologi mencakup (Steup, 2005):

Apa kondisi-kondisi yang penting dan mencukupi suatu hal dapat dikatakan sebagai pengetahuan?;

Apa sumber pengetahuan tersebut?; dan

Apa struktur-struktur dan batasan-batasan dari pengetahuan tersebut?

Dalam kalimat yang sederhana, pertanyaan tersebut dapat berbunyi, “Bagaimana saya tahu kalau saya dapat mengetahui?”

Pada pengertian lainnya, epistemologi ialah upaya penalaran untuk menimbang, menentukan dan menguji kegiatan “mengetahui” manusia. Dalam hal ini, perihal kebenaran memiliki kait-mengait dengan epistemologi — tidak lain juga karena ia menentukan jenis pengetahuan yang dihasilkannya.

Begitupun dengan Teori Kebenaran korespondensi (TKK). Ia memiliki prasyarat yang mengenai pernyataan yang dapat dikatakan benar. Prasyarat tersebut, antara lain: adanya kesesuaian yang memadai antara isi pengetahuan (pikiran) dengan objek yang dirujuknya (realitas).

Teori korespondensi berpendapat bahwa suatu proposisi dikatakan benar jika dan hanya jika hal tersebut sesuai dengan realitas dan akan salah jika tidak dapat memenuhi realitas tersebut.

Jenis kebenaran ini tentu sangat populer dan gampang ditemukan dalam praktik sehari-hari.

Nietzsche kemudian menyangsikan TKK ini: “Sejauh mana kesesuaian itu memadai?”, lebih dalam lagi: “Sebenarnya hal apa dengan apa yang disesuaikan?”

Terkait dengan adanya TKK, dugaan kuat Nietzsche mengarah pada iklim positivisme abad ke-19 yang begitu memuja dengan kebenaran faktual. Dalam diagnosisnya, Nietzsche menaruh kesangsian terhadap eksistensi pengetahuan faktual manusia tentang realitas.

Politisi atau komunikator politik yang siap adalah mereka yang sudah mempertimbangkan hal-hal ini.

Perkara menang dan kalah dalam ajang atau kontestasi pilkada adalah perkara kesiapan dan kematangan strategi kampanye politik. Jika strategi kampanye tidak mumpuni, maka sudah dapat dipastikan: kegagalan dan frustasi (bagi yang tidak siap kalah) yang akan didapati.

Ringkasnya, politik hegemoni ini dimulai dari paradigma bahwa diri atau kelompoknya lebih baik dari pada yang lain, lalu menjadi nafsu atau syahwat untuk berkuasa karena merasa layak berkuasa.

Berbicara tentang jalan politik dan kebenaran membuat kita tidak bisa lepas dari kejadian-kejadian politik yang terjadi saat ini dan yang sedang terjadi di kabupaten Malaka tercinta. Sebutan  trendnya “praktek hegemoni politik”.

Hegemoni adalah paradigma yang dikendalikan nafsu dan syahwat. Jika sudah muncul pada diri kita, maka itulah titik awal bibit-bibit konflik muncul. Semoga kita dijauhkan dari hal ini.

  • Penulis: Oktovianus Seran S.IP,. M.Si, Mantan Dosen Fisipol Unimor Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara.

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.