
sergap.id, MAUMERE – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto kini diwarnai polemik di wilayah 3T di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Nama Senator DPD RI, Angelo Wake Kako (AWK), ikut terseret dalam persoalan tunggakan pembayaran pembangunan enam Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola istrinya.
Kontraktor asal Maumere, Ambo Gaharpung, mengklaim masih memiliki tagihan pekerjaan senilai Rp754 juta yang belum dibayar AWK.
Ia kemudian memutuskan membawa masalah tersebut ke ruang publik. Sebab, menurutnya, janji pembayaran yang disampaikan sejak Maret 2026 tak kunjung terealisasi.
“Kami sudah sabar sekali menunggu pembayaran. Dia janji eksekusi bulan Maret, tapi sampai sekarang belum bayar juga,” kata Ambo, seperti dikutip SERGAP dari suarasikka.com, Rabu (10/6/2026).
Ambo mengaku berada dalam posisi sulit karena para tukang dan buruh yang terlibat dalam pembangunan dapur terus menagih upah mereka.
“Setiap hari tukang dan buruh tagih uang ke kami. Kami belum bisa bayar karena AWK belum bayar kami. Sepertinya kami hanya dipermainkan,” ujarnya.
-
Janji Pembayaran yang Belum Terwujud
Untuk mendukung klaimnya, seperti yang dilansir suarasikka.com, Ambo menunjukkan percakapan WhatsApp yang disebut merupakan komunikasi dengan AWK. Dalam percakapan tersebut, AWK mengusulkan pembagian tanggung jawab pekerjaan dan menjanjikan pembayaran setelah dana cair pada Maret 2026.
Menurut Ambo, dua titik pekerjaan di Rejo dan Leduwoga kemudian diambil alih pihak lain, sementara dirinya diminta melanjutkan pekerjaan di Ghera dan Lenandareta. Dalam komunikasi itu, pembayaran disebut akan dilakukan setelah proses pencairan dana selesai.
Namun hingga Juni 2026, pembayaran yang dijanjikan belum diterimanya.
Ambo juga mengaku sempat berharap persoalan ini dapat dibahas langsung saat AWK dijadwalkan datang ke Maumere pada 6 Juni 2026. Namun rencana pertemuan tersebut batal karena AWK tidak datang.
-
Dana Diklaim Sudah Cair
Ambo mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, dana pembangunan dapur SPPG tersebut telah dicairkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam dua tahap.
Karena itu, ia mempertanyakan alasan keterlambatan pembayaran kepada pihak yang mengerjakan proyek di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa awalnya mendapat pekerjaan pembangunan enam titik dapur SPPG di Hokor, Wolomotong, Ghera, Lenandareta, Rejo, dan Leduwoga. Setiap unit memiliki pagu anggaran Rp340 juta dengan uang muka Rp85 juta.
Dalam perjalanannya, dua lokasi yakni Rejo dan Leduwoga dialihkan kepada pihak lain. Ambo kemudian fokus mengerjakan empat titik yang tersisa.
Menurutnya, dapur di Hokor dan Wolomotong telah selesai dibangun. Sementara pekerjaan di Ghera dan Lenandareta telah mencapai sekitar 80 persen.
Meski demikian, ia mengaku hingga kini belum menerima pembayaran penuh atas pekerjaan yang telah dilakukan.
-
AWK Minta Audit
Saat dikonfirmasi SERGAP, AWK membantah tudingan bahwa pihaknya sengaja menahan pembayaran.
Menurut AWK, pengelolaan enam dapur SPPG tersebut dijalankan oleh istrinya. Ia juga menyebut pihaknya telah memberikan uang muka sekitar Rp595 juta kepada Ambo untuk pekerjaan enam titik dapur.
AWK menilai persoalan muncul karena pekerjaan tidak diselesaikan sesuai target yang telah disepakati sejak awal.
“Dalam perjalanan hanya dua yang dia kerja. Itu pun belum selesai, tapi kita anggap selesai saja. Empat lainnya tidak selesai. Janjinya dua bulan selesai kerja. Ternyata tidak. Tapi itu masih kita tolerir,” kata AWK kepada SERGAP, Rabu (10/6/2026) sore.
AWK juga mengaku sempat kesulitan berkomunikasi dengan Ambo setelah uang muka diberikan.
“Kita akhirnya turunkan tim independen untuk hitung progresnya. Kalau tidak bisa lanjut, mendingan stop. Tinggal dihitung presentasinya dan kita bayar,” ujarnya.
Menurut AWK, hasil evaluasi tim menunjukkan sebagian pekerjaan disubkontrakkan kepada pihak lain dan progres di lapangan tidak berjalan sesuai rencana.
BACA JUGA: Investor Klarifikasi Polemik Dapur MBG di Sikka: Dana BGN Belum Cair
“Tapi dalam perjalanan juga tidak bisa. Mungkin masih ada yang harus kita bayarkan ke dia. Cuma kan kita harus hitung dulu, karena tidak bisa asal bayar,” tegasnya. (ss/cp)































