Pasca banjir yang merendam area persawahan Waekokak.
Persawahan Waekokak.

sergap.id, WAEKOKAK – Tahun 2018 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo mengalokasikan dana Rp 150 juta untuk pengerjaan Saluran Pembuangan (SP) di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa.

Proyek sepanjang 350 meter yang dikerjakan oleh CV Embun Biru ini dilanjutkan lagi dengan proyek SP sepanjang 593 meter menggunakan dana desa.

Kedua proyek itu bertujuan menanggulangi banjir di musim hujan. Namun keberadaannya justru menjadi penyebab banjir yang belakangan setiap tahun menggenangi rumah dan sawah milik warga setempat.

Hilarius Piru (53 tahun), warga RT 16, Blok E, Desa Waekokak, mengatakan, sebelum adanya proyek itu, rumahnya tidak pernah dilanda banjir.

“Memang ada banjir di musim hujan, tapi tidak sampai masuk dan merendam rumah,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Yovianus Djo dan Yulius Wa’i.

Kedua warga Desa Waekokak itu bahkan menuding keberadaan kedua proyek tersebut tanpa perencanaan yang matang.

“Kalau ada perencanaan, hasilnya tidak seperti ini,” ujar Djo yang dibenarkan Wa’i.

Djo menjelaskan, ujung dari kedua saluran itu buntu, dan itu menjadi penyebab meluapnya banjir hingga menggenangi ratusan rumah warga dan area persawahan Waekokak.

“Contoh kemarin (tanggal 2 Februari 2021) hujan lebat. Air dari arah selatan dan timur mengalir melalui saluran, tetapi karena buntu, air meluap dan merendam ratusan rumah, mulai dari Blok A sampai Blok E,” bebernya.

Sekertaris Desa (Sekdes) Waekokak, Edwaldus Antonius Menang ( 30), mengatakan, banjir pada tanggal 2 Februari 2021 telah merendam sedikitnya 6 hektar sawah milik warga.

“Padi ditutupi lumpur akibat luapan dari dua saluran pembuangan itu,” katanya.

Menang menjelaskan, SP yang dikerjakan memakai dana desa sepanjang 593 meter dan dikerjakan dalam dua tahap. Tahap pertama sepanjang 400 meter, sedangkan tahap kedua 193 meter.

“Saya baru menjabat Sekertaris Desa. Di masa saya, yang kami kerjakan sepanjang 193 meter dengan pagu dana Rp 250 juta. Kami kerja lanjut, karena sebelumnya sudah di kerjakan 400 meter. Kami hanya melanjutkan program yang sudah ada,” tandasnya.

Mantan Sekdes Waekokak, Petrus Regi, mengaku, pengerjaan SP tahap pertama menghabiskan dana desa desa sebesar Rp 325 juta.

“Sistim pengerjaannya, untuk material non lokal, pengadaannya melalui suplayer. Sedangkan untuk pekerjaan fisik dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Dalam perencanaan, salurannya dibuat sampai ke utara laut Flores, namun karena pemilik lahan tidak mengijinkannya, maka kita gali sampai di titik batas dan sesuai dengan besarnya dana,” paparnya.

Sementara Direktur CV Embun Biru, Abdul Asis Muslim, yang dihubungi SERGAP per telepon pada Rabu (3//2/21), membenarkan jika pihaknya yang mengerjakan salah satu proyek SP di Waekokak.

“Benar, proyek galian saluran itu ada rekanan yang pakai saya punya bendera, namanya om Baron. Kami selaku pekerja hanya bisa eksekusi di lapangan. Perencanaan dan pengawas itu semua dari dinas yang bersangkutan. Kita kerja sesuai kontrak. Volume kubikasinya jelas,” tegasnya.  (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here