
sergap.id, WAR – Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Upaya untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan kesepakatan, sebagaimana diungkapkan Wakil Presiden AS, JD Vance.
Dalam konferensi pers, Minggu (12/04), Vance menyebut kegagalan itu disebabkan penolakan Iran terhadap sejumlah syarat yang diajukan Washington.
“Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS,” ujar Vance.
Ia menegaskan, Amerika Serikat telah datang ke meja perundingan dengan sikap fleksibel dan itikad baik. Bahkan, menurutnya, pihak AS telah meninggalkan proposal yang disebut sebagai “penawaran terakhir dan terbaik”.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana. Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya,” katanya.
Vance juga mengungkapkan keterlibatan langsung Presiden Donald Trump dalam proses negosiasi. Selama sekitar 21 jam pembicaraan berlangsung, ia mengaku berkomunikasi dengan Trump lebih dari belasan kali.
Menurut Vance, menghentikan Iran memiliki senjata nuklir—baik saat ini maupun di masa depan—menjadi tujuan utama pemerintahan Trump.
Ia turut memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan pejabat militer Pakistan, Asim Munir, atas peran mereka dalam memfasilitasi perundingan.
“Apapun kekurangan dalam negosiasi ini, itu bukan karena pihak Pakistan, yang telah bekerja dengan luar biasa,” tambahnya.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai diskusi yang “intens”. Namun ia menegaskan, keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan.
Baqaei juga meminta Washington menahan diri dari tuntutan berlebihan dan permintaan yang dinilai melanggar hukum internasional. Ia menekankan pentingnya pengakuan atas “hak dan kepentingan sah” Iran.
Sejumlah isu strategis menjadi topik pembahasan, di antaranya keamanan Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta upaya penghentian total konflik.
Sebelumnya, delegasi kedua negara telah tiba di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/04) untuk melangsungkan perundingan. Kedatangan Vance disambut sejumlah pejabat Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri Mohammad Ishaq Dar.
Dalam perundingan tersebut, Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat Presiden, Jared Kushner.
Sementara itu, delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf. Ia didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta sejumlah anggota parlemen lainnya.
Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya telah menerima proposal 10 butir dari Iran yang dinilai sebagai “dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi”. Di sisi lain, Araghchi menyebut Iran juga mengajukan proposal 15 butir dalam proses tersebut. (es/es)




























