Paku dan Baut
Paku dan Baut yang diterima Bona.

sergap.id, KUPANG – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran untuk pembangunan perumahan tahun 2021 sebesar Rp 8,093 triliun dengan prioritas Program Sejuta Rumah.

Program tersebut guna meningkatkan pemenuhan kebutuhan rumah layak huni bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di seluruh wilayah Indonesia.

Satu di antara program sejuta rumah adalah Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), dan Kabupaten Ngada mendapat 100 unit rumah untuk masyarakat di 4 desa, yakni Desa Sadha, Desa Sobo, Desa Turekisa, dan Desa Tarawali.

“1 unit (nilai bantuannya) Rp 20 juta. Rp 17,5 juta untuk bahan bangunan rumah, dan Rp 2,5 juta untuk upah tukang. Bantuan ini berupa uang, dan uang langsung masuk ke rekening penerima,” ujar Koordinator BSPS Kabupaten Ngada, Ida Siwe, saat dihubungi SERGAP per telepon, Senin (7/6/21) siang.

Ida menjelaskan, sejauh ini uang bantuan belum masuk ke rekening penerima.

“Hari ini saya ke Bank Mandiri untuk urus buka rekening. Nanti bersama Bank turun ke desa untuk urusan buka rekening,” ucapnya.

Menurut Ida, walau uang belum masuk ke rekening penerima, namun droping bahan bangunan sudah mulai dilakukan ke lokasi penerima bantuan.

Ini dilakukan oleh dua toko berdasarkan kontrak yang sudah ditandatangani, yakni Toko Insuja dan Senandung.

Penunjukan dua toko tersebut berdasarkan survei, mulai dari ketersediaan bahan bangunan, ketersediaan armada untuk droping, dan harga terendah.

“Karena sudah tandatangan kontrak, maka toko melakukan droping. Karena pasti akan di bayar, walaupun sekarang uang belum ada. Apalagi waktu yang diberikan untuk droping bahan banguanan itu hanya 15 hari dan target penyelesaian program ini harus sudah 100 persen pada bulan Juli (2021),” tegasnya.

Ida menambahkan, program tersebut hanya memberi bantuan uang untuk material non lokal, yakni semen, batako, pasir, paku, seng, dan lain-lain. Sementara fundasi, kosen, hingga rangka atap, menjadi tanggungan penerima bantuan.

Bona, salah satu penerima bantuan BSPS di Desa Tarawali, mengatakan, dirinya telah menerima sebagian bahan bangunan yang didropoing dari Toko Insuja, yakni pasir nat 9 kubik, besi beton 10 mili 30  batang, besi beton 8 mili 40 batang, paku seng 5 kg, baut 19 12 batang, plat strip 4 buah.

“Tinggal Seng dan Batako yang belum didroping. Sementara Semen saya tidak dapat karena dana tidak pas,” ujarnya.

Menurut Bona, dirinya tidak kebagian Semen karena ada pengelembungan harga bahan bangunan dari toko.

“Kemarin kami beli pasir nat, satu oto isi 4 kubik harga Rp 500 ribu. Tapi mereka kasi turun pasir nat 1 oto isi 3 kubik dengan harga Rp 465 ribu. Besi 10 mili harga toko Rp 65 ribu per batang, tapi mereka naikan menjadi Rp 80 ribu per batang. Besi 8 mili harga toko Rp 40 ribu per batang, tapi menlonjak jadi Rp 58 ribu per batang. Batako saja ambilnya di Tarawali dengan harga dari penjual Rp 4.500 per buah, tapi dinaikan menjadi Rp 5.500 per buah. Penjual batako saja bingung dengan harga dari ibu itu, apalagi kami. Makanya saya tidak dapat semen, karena harga bahan dinaikan semua,” beber Bona.

Selain itu, kata Bona, setiap penerima bantuan rumah juga diwajibkan menyetor Rp 120 ribu. Uang ini menurut fasilitator BSPS, Anna S. Kurniaty, untuk biaya pembuatan proposal agar bantuan bisa diterima oleh penerima bantuan.

“Uang kami sudah setor. Tapi yang membingungkan kami adalah uang untuk proposal apalagi? Kan nama penerima sudah ditetapkan!,” ungkapnya. (cis/bil)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here