
sergap.id, SOE – Krisis air bersih di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ini adalah ancaman nyata bagi masa depan anak.
Data Badan Pusat Statistik (2025) mengungkap fakta keras: hanya 70,72% rumah tangga memiliki sanitasi layak dan 75,48% mengakses air minum layak. Sisanya? Bertahan dalam keterbatasan!
Di tengah kondisi itu, angka stunting justru melonjak. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting di TTS mencapai 56,8%, hampir tiga kali lipat rata-rata nasional (19,8%).
Air bersih, di wilayah ini, masih terasa seperti barang mewah. Ada lima fakta penting terkait krisis air di TTS yang disoroti:
- Kemarau Panjang, Air Jadi Barang Langka
TTS hidup dalam siklus kemarau ekstrem hingga 7–8 bulan setiap tahun. Sumber air menyusut, warga terpaksa menghemat bahkan untuk kebutuhan paling dasar.
Cuci tangan pakai sabun? Air minum aman? Bagi banyak keluarga, itu bukan kebiasaan, melainkan kemewahan.
- Stunting Meledak, Air Jadi Pemicu
Krisis air tidak berhenti di dapur atau sumur. Dampaknya menjalar ke tubuh anak-anak.
Kurangnya air bersih dan sanitasi memicu diare serta infeksi berulang, dua faktor utama yang menghambat penyerapan nutrisi. Anak-anak tumbuh tanpa fondasi kesehatan yang cukup. Hasilnya jelas, stunting meroket, masa depan terancam.
- Anak Kehilangan Waktu Belajar Demi Air
Di banyak desa, anak-anak tidak memulai hari dengan buku, melainkan jeriken. Perjalanan 1–2 jam untuk mengambil air menjadi rutinitas. Bahkan dilakukan dua kali sehari. Waktu belajar terpangkas, energi terkuras.
Hak anak untuk tumbuh, belajar, dan bermain, perlahan tergerus.
- Perempuan dan Anak Pikulan Beban Terberat
Krisis air juga menciptakan ketimpangan. Perempuan dan anak menjadi pihak yang paling terdampak.
Mereka yang berjalan jauh, memikul beban, dan mengorbankan waktu. Risiko kelelahan, gangguan Kesehatan, hingga putus sekolah menjadi ancaman nyata.
Ini bukan sekadar krisis air, ini krisis keadilan sosial.
- Intervensi Dimulai, Tapi Tantangan Masih Panjang
Melalui kampanye Water for Timor, Wahana Visi Indonesia mulai bergerak. Pembangunan jaringan air bersih dan edukasi hidup sehat dijalankan di lima desa dan tiga sekolah, menjangkau lebih dari 2.000 orang.
Namun pekerjaan masih jauh dari selesai.

Tanpa akses air yang merata dan berkelanjutan, siklus krisis ini akan terus berulang dan anak-anak akan terus menjadi korban.
Air bersih bukan pilihan. Ini kebutuhan dasar. Dan di TTS, kebutuhan itu masih belum sepenuhnya terpenuhi. (sen/sen)
































