Kapolres Nagekeo, AKBP. Agustinus Hendrik Fai, SH. M.Hum
Kapolres Nagekeo, AKBP. Agustinus Hendrik Fai, SH. M.Hum.

sergap.id, TEDAKISA – Yoseph Tenga, usia 50 tahun, tewas ditembak aparat Polres Nagekeo pada Selasa 1 Desember 2020 sekitar pukul 06.30 Wita.

Korban merupakan terduga pelaku pembunuhan yang menewaskan Yoseph Khepa (40) pada 7 Juli 2019 di Desa Tedakisa, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Pelaku ditembak karena berusaha melawan petugas yang akan menangkapnya.

Pelaku menjadi buronan sejak Juli 2019 setelah diketahui sebagai pelaku tunggal pembunuhan Khepa.

Kronologi bermula pada tanggal 7 Juli 2019, Khepa tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Keluarga kemudian mencarinya. Namun tidak ditemukan.

Baru pada tanggal 10 Juli 2019, Kepha ditemukan oleh Theresia Dede (70), mertuanya, dalam keadaan sudah tidak bernyawa di kubangan air di kali kering Madho.

Saat itu Theresia hendak ke kebun sekaligus mencari keberadaan Khepa. Ketika melewati kubangan air, ia melihat sesosok mayat sedang telungkup.

Penemuan ini kemudian disampaikan kepada aparat desa yang kemudian dilanjutkan ke Polsek Aesesa. Hasil idenfikasi kepolisian kemudian diketahui mayat itu adalah Khepa.

Polisi lantas melakukan penyelidikan. Hasilnya, Khepa diduga kuat dibunuh oleh Tenga.

Polisi kemudian berupaya melakukan penangkapan. Namun Tenga selalu lolos dari pengejaran. Itu karena Tenga disebut-sebut memiliki kekuatan magic. Ia diyakini memiliki ilmu kebal senjata tajam dan ilmu menghilang.

Namun kekuatan gaibnya itu hanya menjadi cerita dongeng setelah polisi berhasil melumpuhkannya pada 1 Desember kemarin.

Menurut polisi, modus Tenga membunuh Khepa adalah karena Tenga ingin memiliki istri Khepa lantaran istrinya telah meninggal dunia.

“Pelaku cemburu, sehingga pelaku nekat membunuh korban,” kata polisi.

Kapolres Nagekeo, AKBP. Agustinus Hendrik Fai, SH. M.Hum, dalam konferensi pers Rabu (2/12/20), mengatakan, tiga bulan yang lalu, sejumlah beberapa tokoh dan Kepala Desa Tedakisa datang ke Polres Nagekeo untuk melaporkan prilaku Yoseph Tenga yang sering membuat ulah hingga membuat warga resah.

Pelaku sering mengancam warga.

“Dia mengancam, jika ada warga yang melaporkan tempat persembunyiannya, maka orang tersebut akan dibunuh. Mendapat laporan itu, saya perintahkan anggota saya untuk turun ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) untuk melakukan pengintaian dan penyelidikan,” ujar Agustinus.

Akhirnya, Selasa 1 Desember 2020, pukul 3 dini hari, tim Buru Sergap (Buser) yang dipimpin Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu. Mahdi Ibrahim, menuju TKP untuk menangkap pelaku.

Namun ketika akan ditangkap, pelaku tidak mau menyerah diri, bahkan melakukan perlawanan.

Dengan menggunakan tombak dan parang, pelaku mengejar anggota. Karena merasa terancam, salah satu Tim Buser memberi tembakan peringatan, namun tembakan itu tidak digubris oleh pelaku, bahkan pelaku kembali mengejar salah satu anggota dengan parang dan tombak.

Melihat itu, anggota lain langsung melepaskan tembakan ke arah kaki pelaku. Pelaku pun roboh bersimbah darah.

Pelaku kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo untuk mendapat perawatan medis. Namun karena pendarahan dan jarak tempuh yang jauh dari TKP menuju RSUD, akhirnya pelaku meninggal dunia pada pukul 06.30 Wita saat tiba di RSUD.

“Jenasah sudah kita antar dan sudah kita serahkan kepada keluarga,” pungkas AKBP Agustinus. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here