RD Thomas Kampur, S.Fil saat memimpin upacara peringatan Hardiknas di SMA Katolik Giovanni Kupang, Sabtu (2/5/2026)
RD Thomas Kampur, S.Fil saat memimpin upacara peringatan Hardiknas di SMA Katolik Giovanni Kupang, Sabtu (2/5/2026)

sergap.id, KUPANG – RD Thomas Kampur, S.Fil memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di SMA Katolik Giovanni Kupang, Sabtu (2/5/2026) pukul 07.30 Wita. Peringatan tahun ini mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Dalam refleksinya, Wakil Kepala Sekolah SMA Katolik Giovanni Kupang bidang Spiritual itu menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh direduksi sekadar pada urusan pragmatis; soal makan gratis, kenaikan gaji, atau kebijakan administratif semata. Pendidikan, pada hakikatnya, adalah proyek besar membangun kesadaran manusia, membentuk struktur kognitif yang utuh, berintegritas, dan berorientasi pada pemuliaan martabat manusia.

Ia juga mengakui bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah membantu memperkaya cara berpikir. Namun, manusia tetaplah subjek otonom yang memiliki otoritas untuk berpikir, menilai, dan menentukan arah pendidikan serta kehidupannya sendiri.

Hardiknas, menurutnya, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menegaskan kembali arah dan makna pendidikan nasional.

Sebagaimana ditegaskan dalam pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, membentuk pribadi yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Berakar pada nilai luhur Ki Hajar Dewantara –asah, asih, asuh-pendidikan Indonesia diarahkan untuk membangun peradaban bangsa yang bermartabat.

Pemerintah pun mendorong pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai fokus utama. Pendidikan tidak boleh berhenti di permukaan pengetahuan, tetapi harus menumbuhkan pemahaman yang bermakna.

Sejumlah langkah strategis telah dijalankan:

  • Revitalisasi dan digitalisasi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang layak dan inspiratif
  • Peningkatan kualitas serta kesejahteraan guru melalui tunjangan dan insentif
  • Penguatan karakter lewat budaya sekolah yang aman, sehat, dan inklusif
  • Penajaman literasi, numerasi, dan STEM guna meningkatkan daya saing
  • Perluasan akses pendidikan agar menjangkau seluruh anak bangsa

Semua ini bermuara pada satu tujuan besar, pendidikan bermutu untuk semua.

Namun, RD Thomas mengingatkan, berhenti pada kebijakan berarti baru menyentuh “kulit” pendidikan. Untuk memahami jiwanya, perlu pendekatan filosofis yang lebih dalam.

Di titik ini, ia mengaitkan gagasan filsuf pendidikan asal Amerika, John Dewey, yang menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Pendidikan adalah pengalaman yang menghidupkan, membentuk cara berpikir, dan menuntun manusia untuk bertumbuh setiap hari.

Sejalan dengan itu, Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam mengarahkan pendidikan pada pembebasan manusia. Murid tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang sadar, bebas, dan bertanggung jawab.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menciptakan manusia pintar, tetapi manusia yang mampu menentukan pilihan hidup secara otentik.

Kemerdekaan sejati bukan kebebasan tanpa arah, melainkan kemampuan memilih yang benar di tengah banyaknya godaan. Sebab, kecerdasan tanpa kebijaksanaan akan kehilangan makna, dan teknologi tanpa nilai akan kehilangan arah.

Menanggapi dinamika kebijakan, termasuk program makan bergizi gratis, RD Thomas mengajak semua pihak melihat lebih dalam. Nutrisi bukan sekadar soal kenyang, tetapi fondasi kecerdasan. Tubuh yang sehat melahirkan pikiran yang jernih – mens sana in corpore sano.

Karena itu, pertanyaan penting bukan lagi “apakah kita sudah kenyang?”, melainkan “apakah kita sudah berpikir lebih kritis, lebih jernih, dan lebih bijaksana?”

Ia menegaskan, guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Pendidikan tidak boleh diukur hanya dengan angka. Ketika pendidikan kehilangan jiwa, ia menjadi kering. Namun ketika dijalankan dengan hati, ia menjadi perjumpaan yang menghidupkan antara manusia, harapan, dan masa depan.

Di penghujung refleksi, ia mengajak semua pihak mengenang jasa para pahlawan Pendidikan, mereka yang telah mengorbankan hidup untuk menyalakan cahaya bagi generasi masa depan.

Doa pun dipanjatkan agar para pemimpin dan pengambil kebijakan dianugerahi kebijaksanaan, kejernihan hati, dan kepekaan nurani, sehingga setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kemanusiaan dan masa depan anak bangsa.

Sebagai penutup, ia mengingatkan tiga kekuatan utama: mindset yang maju, mental yang tangguh, dan misi yang lurus. Tanpa itu, pendidikan hanya akan berhenti sebagai program, bukan gerakan yang mengubah manusia dan bangsa.

Para guru dan pegawai foto bersama usai upacara peringatan Hardiknas di SMA Katolik Giovanni Kupang, Sabtu (2/5/2026)
Para guru dan pegawai foto bersama usai upacara peringatan Hardiknas di SMA Katolik Giovanni Kupang, Sabtu (2/5/2026)

Mengutip refleksi dari film Ghost in the Cell, ia menyerukan harapan, jika bangsa ini dilanda kekacauan, cukup 10 persen orang yang tetap bergerak tanpa putus asa untuk memantik perubahan.

Sejalan dengan semangat Soekarno yang pernah berkata, “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari terus menyalakan Cahaya di ruang kelas, di tengah masyarakat, dan di dalam diri kita masing-masing. (nes/nes)