
sergap.id, KUPANG – Beberapa hari lalu Romo Patris Allegro dilaporkan ke Polda NTT lantaran dianggap menyebarkan ajaran kebencian. Tiga orang yang mengaku dari ormas NTT Bersatu itu juga menuding Romo Patris menista agama Protestan. Lalu apa tanggapan Romo Patris?
Melalui halaman facebook Patris Allegro, 2 Agustus 2025, yang dikutip SERGAP pada Senin (4/8/25), Romo Patris justru mempertanyakan apa yang dilakukan ormas itu? Sebab yang dilaporkan adalah konten teologisnya yang dianggap menyinggung atau menistakan agama Protestan.
“Jika dikupas secara kritis dan sinis, apa sebenarnya yang Ormas itu lakukan?”
- Pertama, Upaya Bungkam Narasi Theologis yang Tak Sejalan
Yang disampaikan Romo Patris adalah bagian dari ajaran Katolik tradisional yang sudah diajarkan selama berabad-abad: bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Kristus secara historis dan teologis. Kalau itu disebut “penistaan,” maka otomatis semua Konsili Ekumenis, Bapa Gereja, bahkan Katekismus Katolik harus diperkarakan pula.
Menyamakan beda ajaran dengan ujaran kebencian.
Mereka mengaburkan batas antara debat teologis dan penghinaan agama. Kalau menyatakan Protestan “tidak lengkap” atau “keluar dari kebenaran Kristus” dianggap penistaan, maka seluruh Kitab Galatia harus dilarang karena menyebut pengajar injil lain itu terkutuk (Gal 1:8–9).
- Kedua, Panggung Moralistik untuk Kepentingan Simbolik
Mengatasnamakan “kerukunan” dan “toleransi,” tetapi yang mereka lakukan adalah mempermalukan seseorang yang menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan ajaran agamanya.
Apa yang mereka cari? Legitimasi moral di mata publik. Dengan tampil sebagai “penjaga toleransi,” mereka bisa mendapatkan pujian politik, sorotan media, dan posisi tawar di hadapan pemerintah serta institusi keagamaan.
- Ketiga, Menyalahgunakan Jalur Hukum untuk Menyerang Argumentasi
Alih-alih melawan argumen dengan argumen, mereka menggunakan hukum positif untuk mematikan lawan bicara. Mereka menyeret diskursus iman ke ranah kriminal, hanya karena tidak sepakat secara doktrinal.
Apa yang mereka takuti?
Mereka takut jika umat Protestan mulai mempertanyakan warisan ajaran mereka sendiri karena tersentil oleh konten Romo Patris. Bukan karena ujarannya kasar, tapi karena argumennya telak.
- Keempat, Mobilisasi Ormas untuk Tekanan Politik Keuskupan dan Aparat
Mereka tidak hanya menyerang Romo Patris, tapi secara tersirat juga menyudutkan Keuskupan dan pejabat publik karena dianggap diam. Ini adalah strategi klasik: Jika Keuskupan tidak menindak, maka Keuskupan diam-diam setuju!
Dengan ini, mereka berusaha mendikte narasi internal Gereja Katolik dari luar. Ironi? Sekelompok eksternal memaksa internal Gereja untuk mengoreksi iman mereka sendiri demi kerukunan versi publik.
- Kelima, Menggiring Opini Bahwa Kritik sama dengan Kebencian
Apa yang dilakukan Romo Patris? Ia menyebut bahwa ada ajaran Protestan yang bertentangan dengan ajaran Kristus — sesuatu yang diyakini secara historis oleh Gereja Katolik.
Lalu Apa yang dilakukan ORMAS? Mereka menggiring opini bahwa kritik teologis sama dengan ujaran kebencian sam dengan potensi konflik saMA DENGAN ancaman terhadap stabilitas. Padahal, siapa yang sebenarnya membuat gaduh?
- Kesimpulan:
Yang dilakukan ORMAS tersebut bukan semata menjaga kerukunan, tetapi:
- Membungkam diskursus teologis dengan tekanan hukum,
- Memonopoli makna toleransi demi kenyamanan emosional kelompok tertentu,
- Mempermalukan pihak Gereja agar tunduk pada tafsir keagamaan publik versi mayoritas.
- Mereka tidak sedang menjaga toleransi. Mereka sedang membentuk sensor. Dan, seperti biasa, semua dibungkus dalam retorika damai dan kasih — sambil menodongkan laporan polisi.
- Catatan Patris Allegro
Kalau Martin Luther hidup di zaman ini dan berteriak “Gereja Katolik sesat!”, ia akan diberi panggung. Tapi kalau imam Katolik berkata, “Gereja Protestan itu bukan Gereja yang Kristus dirikan,” maka ia akan dipanggil Polda. (pr/pr)































